Oleh: Dr. Imam Satibi : Ketua Forum Koordinasi dan Sinkronisasi Penyelenggaraan Riset dan Inovasi Pemerintah Daerah Kebumen
Refleksi Malam Tahun Baru UMNU 2026
Malam pergantian tahun selalu menjadi momentum strategis untuk muhasabah—menyepi sejenak, menoleh ke belakang, lalu menata arah ke depan. Di ujung tahun 2025, tanpa terasa, kita tiba-tiba tersadar ketika terompet dan sirine pergantian tahun berbunyi tepat pukul 00.00, menandai hadirnya tahun baru 2026. Kesadaran pertama yang muncul adalah satu hal yang tak terelakkan: usia bertambah.
Kesadaran itu lalu berkembang menjadi rangkaian kenangan perjalanan hidup—tentang keberhasilan yang patut disyukuri, juga kegagalan yang tak jarang menyisakan luka. Semua memori itu menguat dalam alam bawah sadar. Lalu muncul pertanyaan mendasar:
Haruskah kita meratapinya, atau justru berpura-pura bahagia dalam euforia selebrasi tahun baru, sementara masalah dan kegagalan masih menumpuk?
Fenomena yang cukup miris adalah ketika sebagian anak muda—yang piawai beretorika dan berwacana kritis—sibuk membangun algoritma excuse dengan seribu alasan. Kegagalan ekonomi dianggap sepenuhnya akibat pemerintah yang buruk dan tidak adil. Kegagalan pendidikan disandarkan pada sekolah yang tidak berkualitas dan guru yang dianggap tidak bermutu. Bahkan persoalan keagamaan pun kerap ditimpakan pada metode dakwah yang dinilai keliru.
Di sisi lain, muncul pula perspektif yang berlawanan: menyalahkan diri sendiri secara berlebihan. Ketidakpercayaan diri, rasa lemah, hingga sikap fatalistis justru menjerumuskan seseorang pada penghakiman diri yang tidak produktif. Dua ekstrem ini—menyalahkan luar dan menghakimi diri—sama-sama tidak membawa kemajuan.
Lalu, apa yang seharusnya kita lakukan di tahun 2026?
Secara subjektif, saya mengajukan sebuah pertanyaan sekaligus hipotesis:
Akankah kita menjadi pribadi yang efektif di tahun 2026, atau justru terjebak dalam “wasting year”, tahun yang hilang tanpa makna?
Secara teori, kita semua memahami bahwa jika tahun ini sama persis dengan tahun lalu, maka sejatinya kita berada dalam kerugian. Islam telah mengingatkan hal ini melalui firman Allah SWT dalam Surah Al-Hasyr ayat 18, agar setiap insan memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Ayat ini menegaskan pentingnya refleksi dan perencanaan masa depan.
Dari sini, menjadi relevan untuk bertanya pada diri sendiri: bagaimana daya juang (resilience) kita, dan seberapa efektif rutinitas harian yang kita jalani? Jangan-jangan kita hanya mengulang pola wasting time—menghabiskan waktu dengan aktivitas yang itu-itu saja: rebahan, hangout tanpa arah, hura-hura, dan sibuk scrolling media sosial dalam jebakan Fear of Missing Out (FoMO).
Menentukan arah kehidupan adalah fondasi utama dalam membangun capaian hidup. Di titik inilah kita perlu menanamkan keterampilan dasar perubahan, yakni learning skill dan growing strategy. Belajar dan bertumbuh (learning and growing) harus menjadi mindset dasar yang tertanam kuat dalam alam bawah sadar setiap manusia. Inilah ruhul jihad—spirit perjuangan untuk bertahan (survival) dan bangkit menuju kehidupan yang lebih bermakna (rising life).
Tahun 2026 sudah seharusnya menjadi momentum untuk menancapkan target-target perbaikan diri (improvement) yang jelas, ditanam kuat dalam alam bawah sadar, serta diperkuat dengan afirmasi dan doa. Ada sebuah mahfuzhat yang sangat masyhur dan relevan untuk menggugah kesadaran kita:
“Afkāruka aqdāruka” — pikiranmu adalah takdirmu.
Pikiran adalah modal dari segala modal kehidupan. Ia merupakan nikmat dan kemuliaan yang Allah SWT anugerahkan kepada manusia. Karena itu, merawat, menjaga, dan mengelola pikiran menjadi sebuah keniscayaan. Caranya adalah dengan membangun mindset bertumbuh (growth mindset)—dan itu hanya bisa dicapai melalui satu jalan utama: budaya belajar yang berkelanjutan. Teruslah belajar. Teruslah bertumbuh. Keep learning.
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















