JAKARTA, Kebumen24.com – Tahukah kamu asal usul perayaan tahun baru masehi? Perayaan tahun baru masehi merupakan perayaan yang dilakukan sebagian besar masyarakat di seluruh dunia untuk menyambut pergantian tahun baru masehi.
Pergantian tahun pada 1 Januari menjadi momen yang dirayakan oleh masyarakat di berbagai belahan dunia. Pesta kembang api, doa, refleksi, hingga tradisi khas tiap negara menjadi penanda dimulainya tahun baru Masehi. Namun, tahukah Anda sejak kapan dan bagaimana awal mula perayaan Tahun Baru Masehi ini ditetapkan?
Kalender Masehi yang kini digunakan secara universal menjadi dasar perhitungan pergantian tahun. Seiring waktu, pergantian tahun tidak hanya dimaknai sebagai perubahan angka kalender, tetapi juga momentum pembaruan harapan dan resolusi hidup.
Jejak Sejarah Sejak 4.000 Tahun Lalu
Catatan sejarah menunjukkan bahwa perayaan tahun baru telah ada sejak sekitar 4.000 tahun silam. Bangsa Babilonia menjadi salah satu peradaban pertama yang merayakannya, sekitar 2.000 tahun sebelum Masehi. Saat itu, tahun baru dirayakan pada pertengahan Maret, bertepatan dengan pergantian musim semi (vernal equinox).
Perayaan tersebut dikenal dengan Festival Akitu, sebuah ritual keagamaan besar yang berlangsung selama 11 hari. Bagi bangsa Babilonia, momen ini melambangkan kemenangan Dewa Langit Marduk atas Dewi Laut Tiamat, sekaligus simbol pembaruan kekuasaan raja yang kembali menerima mandat ilahi.
Dari Romawi Kuno hingga 1 Januari
Penetapan 1 Januari sebagai awal tahun baru tidak lepas dari peran bangsa Romawi kuno. Awalnya, kalender Romawi hanya terdiri dari 10 bulan. Pada abad ke-8 sebelum Masehi, Raja Numa Pompilius menambahkan dua bulan, yakni Januari (Januarius) dan Februari (Februarius).
Penyempurnaan kalender dilakukan pada masa Julius Caesar dengan melibatkan para ahli astronomi. Bulan Januari kemudian ditetapkan sebagai bulan pertama, diambil dari nama Dewa Janus—dewa bermuka dua yang melambangkan masa lalu dan masa depan. Penetapan 1 Januari pun dimaksudkan sebagai penghormatan kepada Janus, dewa permulaan.
Dalam perkembangannya, perayaan tahun baru di Eropa sempat bergeser mengikuti kalender gerejawi pada Abad Pertengahan. Hingga akhirnya, Paus Gregorius XIII secara resmi menetapkan 1 Januari sebagai awal tahun melalui kalender Gregorian pada tahun 1582. Ketetapan ini kemudian diadopsi luas dan digunakan hingga kini.
Tradisi Tahun Baru di Berbagai Negara
Perayaan Tahun Baru Masehi biasanya dimulai pada malam 31 Desember dan berlanjut hingga dini hari 1 Januari. Setiap negara memiliki tradisi unik. Di Spanyol, masyarakat memakan 12 butir anggur sebagai simbol harapan selama setahun ke depan. Di Kuba, Austria, hingga Portugal, hidangan daging babi dipercaya membawa kemakmuran. Sementara di Swedia dan Norwegia, puding nasi dengan kacang almond tersembunyi menjadi penanda keberuntungan bagi yang menemukannya.
Kini, Tahun Baru Masehi tidak hanya menjadi peristiwa historis, tetapi juga simbol global tentang awal yang baru tempat harapan, refleksi, dan semangat pembaruan bertemu.(K24/*).
Sumber: Detik.com
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















