Pendidikan

Festival Bulan Bahasa 2025: UMNU Kebumen Bangun Mahasiswa Berdaya Saing Global Lewat Puisi, Panel, dan Moderasi

944
×

Festival Bulan Bahasa 2025: UMNU Kebumen Bangun Mahasiswa Berdaya Saing Global Lewat Puisi, Panel, dan Moderasi

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Festival Bulan Bahasa 2025 yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia (HIMA PBI) Universitas Ma’arif Nahdlatul Ulama (UMNU) Kebumen, berlangsung meriah dan sarat makna. Kegiatan ini tidak sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi momentum penting untuk meneguhkan kecintaan terhadap bahasa Indonesia, menghidupkan semangat literasi, serta menanamkan nilai moderasi dan karakter humanis di kalangan mahasiswa.

Acara yang digelar di Aswaja Center UMNU Kebumen ini juga berlangsung secara hybrid melalui Zoom Meeting, Sabtu 1 November 2025. Kegiatan diikuti 84 mahasiswa semester 1 secara luring dan 65 mahasiswa dari semester 3 dan 5 secara daring.

Mengusung tema, “Bukan Hanya Perayaan, Tapi Pergerakan Literasi: Kukuhkan Moderasi,” kegiatan ini menekankan bahasa dan literasi sebagai sarana pembentukan karakter serta penguatan nilai-nilai kemanusiaan.

Puncak acara diawali dengan orasi pembukaan oleh Rektor UMNU Kebumen, Dr. H. Imam Satibi, M.Pd.I, yang menekankan pentingnya modernitas dalam bingkai Al-Wasatiyyah atau moderasi.

“Modernitas sejati bukan diukur dari teknologi, tetapi dari kemampuan menjaga keseimbangan antara moral, spiritual, dan rasionalitas. Moderasi adalah jalan tengah untuk membangun generasi yang unggul dan berdaya saing global,” tegasnya dengan nada inspiratif.

Selepas sambutan, acara dilanjutkan dengan final Lomba Cipta Puisi dan Baca Puisi, menampilkan karya-karya mahasiswa dari berbagai semester. Para finalis membacakan puisi yang menggugah tentang cinta tanah air, kemanusiaan, serta refleksi diri. Suasana Aswaja Center dipenuhi aura apresiasi dan kesadaran akan pentingnya bahasa sebagai seni sekaligus identitas bangsa.

Menjelang penutupan, festival menghadirkan Diskusi Panel bertema “Integrasi Sastra, Bahasa, dan Pendidikan dalam Mewujudkan Literasi Humanis.” Forum ini mempertemukan akademisi, praktisi, dan mahasiswa untuk membahas bagaimana bahasa terus berevolusi dan tetap relevan dengan perkembangan sosial. Para narasumber menegaskan bahwa munculnya ragam bahasa gaul atau slang bukanlah penurunan kualitas, melainkan bentuk kreativitas generasi muda.

Dari perspektif sastra, karya sastra dipandang sebagai cermin realitas manusia sekaligus sarana refleksi nilai kemanusiaan. Sedangkan dari sisi pendidikan humanis, bahasa dan sastra menjadi instrumen penting untuk menumbuhkan empati, etika, dan kemampuan berpikir kritis.

Ketua Panitia Pelaksana, Siti Rojabiyati Sofiyani, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap kerja keras panitia dan antusiasme peserta.

“Festival ini bukan hanya ajang kompetisi, tetapi wadah pembentukan karakter dan apresiasi terhadap bahasa serta sastra Indonesia. Kita ingin mahasiswa mencintai bahasa bukan hanya karena akademik, tetapi juga karena nilai kemanusiaannya,” ujar Siti Rojabiyati.

Sementara itu, Ketua HIMA PBI UMNU Kebumen, M. Mutakin Al Wahab, mengajak seluruh mahasiswa, terutama angkatan baru, untuk aktif berorganisasi dan memanfaatkan HIMA sebagai laboratorium pengembangan diri.

“Di sinilah kita belajar menjadi pemimpin, membangun relasi, dan menumbuhkan tanggung jawab sosial,” tegasnya.

Kepala Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia (PBI), Muchlas Abror, M.A., turut memperkenalkan inovasi terbaru berupa kuliah kepakaran yang menghadirkan pakar dan praktisi di bidang bahasa dan sastra. Program ini dirancang agar mahasiswa tidak hanya memahami teori linguistik, tetapi juga mampu berkomunikasi secara kontekstual dan berkepekaan sosial.

“Berbahasa itu bukan hanya tentang teori, tapi tentang bagaimana kita mengekspresikan nilai dan empati,” jelas Muchlas Abror.

Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMNU Kebumen, Dr. Alek Andika, M.Pd., dalam sambutannya menekankan pentingnya kebanggaan terhadap Bahasa Indonesia. Menurutnya, bahasa nasional bukan hanya simbol persatuan, tetapi juga sarana diplomasi budaya.

“Mahasiswa harus menjadi komunikator budaya yang santun dan adaptif. Bahkan dalam forum publik, kita perlu membiasakan penggunaan bahasa daerah, seperti Jawa Krama Inggil, sebagai bentuk pelestarian budaya,” jelasnya.(K24/*).


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.