OpiniPendidikan

Ketika “Merdeka Belajar” Justru Kehilangan Arah Moral

1602
×

Ketika “Merdeka Belajar” Justru Kehilangan Arah Moral

Sebarkan artikel ini
Toha Masrur, S.H.I., M.H. – Dosen Universitas Ma’arif Nahdlatul Ulama Kebumen dan Ketua LPBH NU Kebumen

Oleh: Toha Masrur, M.H. – Dosen Universitas Ma’arif Nahdlatul Ulama Kebumen dan Ketua LPBH NU Kebumen

KEBUMEN – Kebijakan Kurikulum Merdeka lahir dengan semangat besar, memberikan kebebasan bagi guru dan siswa untuk belajar sesuai bakat, minat, dan potensi diri. Namun, di tengah pelaksanaannya, semangat kebebasan itu sering kali berubah menjadi kebingungan. Banyak sekolah kini dihadapkan pada kenyataan pahit anak-anak semakin cerdas secara digital, tetapi justru makin miskin rasa hormat dan tanggung jawab.

Fenomena yang terjadi di Banten, di mana seorang siswa menolak ditegur saat merokok di sekolah, menjadi cermin rapuhnya moralitas dunia pendidikan kita. Ketika guru mencoba menegakkan disiplin, malah dianggap melanggar hak anak. Bahkan, ada kepala sekolah yang diprotes massal hanya karena menegur muridnya dengan tegas. Ini bukan sekadar insiden lokal, tetapi potret kecil dari lunturnya wibawa guru dan melemahnya budaya hormat di sekolah-sekolah Indonesia.

Kini, kita sering melihat anak-anak yang fasih berbicara, tetapi kehilangan sopan santun. Mereka mahir mengoperasikan teknologi, namun kian sulit menghargai batas. Tanda tanda ini menunjukkan bahwa pendidikan kita sedang kehilangan ruh-nya  kehilangan arah moral yang menjadi dasar pembentukan karakter bangsa.

Masalah sebenarnya bukan terletak pada Kurikulum Merdeka itu sendiri, melainkan pada pemahaman yang keliru tentang makna “merdeka.” Banyak yang menafsirkan kemerdekaan sebagai kebebasan tanpa batas. Padahal, sejatinya, kemerdekaan adalah kebebasan yang bertanggung jawab kebebasan yang berpijak pada nilai, etika, dan budaya luhur.

Di ruang kelas, peran guru kini lebih banyak sebagai fasilitator pembelajaran. Namun tanpa disadari, hal ini membuat figur guru sebagai teladan moral mulai memudar. Anak-anak kehilangan panutan, sementara orang tua sering kali merasa tanggung jawab pendidikan karakter sudah sepenuhnya diambil alih oleh sekolah. Padahal, pendidikan nilai dan moral tidak bisa diserahkan hanya kepada kurikulum.

Kita perlu mengembalikan ruh pendidikan: bukan sekadar mencetak anak yang cerdas secara akademis, tetapi juga beradab, santun, dan berjiwa luhur. Kurikulum Merdeka seharusnya menjadi jalan untuk menumbuhkan nalar kritis sekaligus mengasah hati nurani. Di sinilah peran guru, keluarga, dan masyarakat harus bersinergi agar kebebasan belajar tidak berubah menjadi kebebasan tanpa arah.

Jika keseimbangan ini gagal dijaga, maka masa depan bangsa bukan hanya kehilangan generasi cerdas, tetapi juga kehilangan generasi yang tahu sopan santun, tahu hormat, dan tahu malu.

Orang tua perlu hadir bukan hanya dalam mendampingi proses belajar anak, tetapi juga dalam menanamkan nilai moral dan tanggung jawab. Dengan begitu, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi ”berilmu, berbudaya, dan berkarakter”  bukan hanya pintar, tetapi juga tahu tata krama dan memiliki hati nurani.


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.