Oleh: Dr. HM. Zainuddin, MA
KEBUMEN – Istilah Suro, yang sudah lama dikenal di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, sejatinya berasal dari kata ‘asyura dalam bahasa Arab yang berarti kesepuluh, merujuk pada tanggal 10 bulan Suro. Dalam tradisi Jawa, Suro dijadikan sebagai awal bulan dalam penanggalan Jawa. Sementara dalam Islam, bulan Suro identik dengan bulan Muharam, bulan pertama dalam kalender Hijriyah yang telah dikenal sejak sebelum datangnya Islam. Pada masa Nabi Muhammad SAW hingga Khalifah Umar bin Khattab, Muharam kemudian ditetapkan secara resmi sebagai awal tahun Hijriyah.
Secara etimologis, Muharam berarti bulan yang diharamkan atau bulan yang dimuliakan. Makna ini erat kaitannya dengan berbagai peristiwa sejarah penting yang terjadi pada bulan tersebut, baik yang berkaitan dengan para nabi maupun dengan risalah kenabian. Muharam menjadi bulan penuh makna, sarat nilai spiritual dan historis yang mengajarkan kebangkitan dan penguatan iman.
Beberapa peristiwa penting yang diyakini terjadi pada bulan Muharam, antara lain:
- Nabi Adam AS diterima taubatnya oleh Allah SWT.
- Nabi Idris AS diangkat ke derajat yang tinggi karena kasih sayangnya kepada sesama.
- Nabi Nuh AS selamat dari banjir besar bersama para pengikut setianya.
- Nabi Ibrahim AS selamat dari kobaran api yang dibuat Raja Namrud.
- Nabi Yusuf AS bebas dari penjara akibat fitnah dan diangkat menjadi penguasa Mesir.
- Nabi Yunus AS keluar dari perut ikan besar setelah bertobat.
- Nabi Musa AS dan Bani Israil selamat dari kejaran Fir’aun.
- Nabi Isa AS memperoleh anugerah Taurat di Bukit Sinai.
- Nabi Daud AS disucikan dari segala dosa.
- Nabi Sulaiman AS dianugerahi kerajaan yang megah.
- Nabi Muhammad SAW menerima wahyu yang menjadi pedoman umat Islam sepanjang zaman.
Setiap kali memasuki bulan Muharam, umat Islam di seluruh dunia menyadari keistimewaan bulan ini. Muharam dijadikan momentum untuk memperingati tahun baru Hijriyah sekaligus sebagai titik awal untuk membangkitkan semangat baru dalam memperbaiki diri dan masyarakat. Di Indonesia, berbagai kegiatan keagamaan seperti pengajian, santunan anak yatim, dan doa bersama diselenggarakan untuk menyambut bulan penuh berkah ini.
Namun, di sisi lain, kita juga menyaksikan adanya tradisi yang bercampur dengan mitos, legenda, bahkan praktik-praktik yang bertentangan dengan ajaran Islam. Pada malam 1 Suro, misalnya, banyak orang mendatangi tempat-tempat yang dianggap keramat, membakar kemenyan, meminta kelancaran rezeki, jodoh, jabatan, atau keselamatan. Ada pula yang melakukan ritual larung sesaji di laut dengan melemparkan kepala kerbau sebagai sedekah laut.
Selain itu, di beberapa tempat seperti Sedudo (Nganjuk), masyarakat percaya bahwa mandi pada tanggal 15 Muharam akan membuat awet muda dan panjang umur. Tradisi mencuci keris juga marak dilakukan. Bahkan, di Gunung Kemukus (Sragen), berkembang keyakinan yang menyimpang, yaitu ritual asusila demi mendapatkan jodoh atau kelancaran usaha.
Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran makna bulan Muharam yang semestinya dijadikan momentum introspeksi dan penyucian diri. Sebab, hakikat dari mandi pada 1 Suro bukanlah sekadar ritual fisik, melainkan simbol untuk mensucikan hati dan jiwa dari segala dosa serta perbuatan mungkar. Ini adalah ajakan untuk memulai lembaran baru dengan semangat yang lebih positif, memperbaiki amal, dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Muharam sesungguhnya adalah bulan pembuka rahmat dan kesempatan untuk berlomba-lomba meraih kebaikan. Sayangnya, banyak yang masih terjebak pada tradisi yang menyimpang, sehingga tidak memahami makna spiritual yang terkandung di dalamnya.
Mari kita jadikan Muharam sebagai titik tolak untuk memperbaiki diri, membangun peradaban yang lebih baik, serta mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi mendatang. Sebagaimana firman Allah, bahwa Dia tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri. Kebangkitan dan kejayaan bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi terwujud melalui ikhtiar dan usaha nyata dalam kehidupan sekarang.
Semoga di bulan penuh berkah ini kita senantiasa diberikan umur panjang, kesehatan, amal yang baik, rezeki yang luas, serta dimudahkan segala urusan kita.
Allahumma thawwil a’marana, wa shahhih ajsadana, wa hassin a’malana, wa ausi’ arzaqana, wa yassir umurana. Amin.
SUMBER: https://uin-malang.ac.id/r/151001/tradisi-suro-dalam-masyarakat-jawa.html
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















