KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Sempor merupakan desa yang terletak di Kecamatan Sempor Kabupaten Kebumen Jawa Tengah. Lokasinya terletak di sebelah barat laut dari Kota Kebumen.
Konon menurut sejarah dilansir dari Website resmi Desa Sempor, Minggu 30 Juni 2024 menyebutkan, pada Jaman dahulu kala ada dua orang putra Eyang Kebrok, (namanya belum diketahui) mendapatkan perintah untuk membuat sungai. Kemudian putra yang tua membuat sungai dari sebelah barat (Sungai Sampang), sedangkan anak eyang kebrok yang muda membuat sungai dari timur (sekarang sungai Kedungwringin).
Sesampainya pertemuan antara sungai sampang dan sungai kedungwringin (kali cawang secara bahasa jawa) hari sudah mulai gelap, untuk melanjutkan atau meneruskan pekerjaannya maka dinyalakan obor ( sempor dalam bahasa jawa ). Dari kisah itu maka tersebutlah desa tersebut menjadi nama Desa Sempor.
Tercetus Nama Sempor
Pada waktu kedua putra Eyang Kebrok meneruskan pekerjaan tersebut menemukan rintangan, yaitu menjumpai lereng batu (sekarang dinamai Cincing Guling). Kemudian kedua orang tersebut mengalami kesulitan, maka oleh Eyang Kebrok diberinya wasiat berupa gebyas (botol Kecil) untuk memecahkan batu tersebut.
Setelah batu tersebut bisa dipecahkan, kemudian pecahannya disingkirkan disuatu tempat didaerah Krumput yang dikenal dengan nama Batu Mlantaran. Kelak batu batu itu akan kembali apabila sudah sampai pada saatnya, dan terbukti sekarang batu tersebut telah digunakan sebagai bahan matrial pembangunan Bendungan Sempor.
Asal Mulanya Penembahan Gumawang
menurut cerita secara turun temurun mbah Gumawang pada masa mudanya bernama R. Madu Lata yang merupakan putra tertua dari sultan Hadi dari mataram yang berkelana ke daerah.
Sesampainya di suatu tempat beliau membabat hutan (sekarang menjadi Desa Sempor) pada waktu wafat dimakamkan ditempat tersebut.Karna berpengaruh maka makamnya selalu didatangi para peziarah, terutama para sahabat.
Menurut cerita, roh dari R. Madu Lata selalu mengawang, berada di awang-awang diatas makamnya. Maka tersebutlah makam beliau dinamakan Penembahan Gumawang.
Asal Mulanya Penembahan Jariah
Kisah ini menceritakan seorang petani tua yang tinggal di Desa Sempor. Oleh karena petani tersebut sering sekali membagikan harta yang beliau punya atau beramal jariah, beliau sering sekali membagikan/memberikan hasil tanamannya kepada siapapun yang membutuhkan dengan tidak mengharapkan atau tidak mau ditukar apapun, maka petani tersebut dikenal dengan nama Eyang Jariah, itu dikarenakan beliau sering sekali ber amala jariah
Asal Mulanya Penembahan Buyut
Pada jama dahulu ada seorang yang membabat hutan untuk dijadikan perladangan ditengah hutan yang sedang dibabat, telah terdapat suatu krapyak ( kuburan / makam ). Adapun yang dikubur / dimakamkan ditempat tersebut katanya berasal dari mataram.
Kemudian oleh yang membabat hutan tersebut diperintahkan kepada anak cucunya, supaya merawat krapyak tersebut dan dinamakan Penembahan Buyut
Asal Mulanya Penembahan Pelinggihan
Pada jaman perang Diponegoro, pangeran diponegoro, menurut cerita salah satu orang dari rombongan yang dikejar kejar tentara Belanda. Untuk melepas lelahnya Pangeran Diponegoro beristirahat dibawah pohon yang sangat rindang.
Bekas tempat duduk dari pangeran Diponegoro hingga kini dikeramatkan dan terkenal dengan nama sebutan Penembahan Pelinggihan, yang letaknya di Dukuh Petahunan yang merupakan salah satu Dukuh yang ada di Desa Sempor, dan sampai saat ini tempat tersebut disekitarnya dijadikan pemakaman umum.
Asal Mulanya Penembahan Raga Semangsang
Beberapa orang mengisahkan bahwa pada jaman dahulu, ada seseorang yang sakti mandraguna bernama Kala Merta. Beliau bersama sahabatnya membabat hutanuntuk dijadikan perladangan dan perkampungan.
Pada waktu membabat hutan tersebut sudah hampir selesai, tinggal beberapa kayu kayu besar yang ditebang akan tetapi tidak mau roboh, bahkan bekas tebangannya kembali seperti sedia kala. Kemudian terpaksalah Kala Merta melakukan semedi diatas pohon kayu yang besar tersebut,.
Usai melakukan semedi ia ingin sekali minum, kemudian menyuruh kepada sahabatnya untuk mencarikan air. Namun sayangnya para sahabatnya tidak menemukan air yang dimaksud, maka Kala Merta membuat sumber mata air dengan cara menghunus pusaka keluarlah air berwarna putih.
Kala Merta berhasil menciptakan air berwarna putih, maka tersebutlah dukuh tersebut dinamakan Dukuh Kaliputih. Kemudian Kala Merta mengadakan semedi diatas pohon maka tempat tersebut saat ini dikenal dengan nama Raga Semangsang. Hingga kini, tempat tersebut dikeramatkan oleh orang sekitarnya.
Sementara orang juga ada yang menceritakan bahwa semasa hidupnya Eyang Jariyah dan R. Madu Lata (Mbah Gumawang) pernah mengadakan suatu perjanjian / musyawarah tentang pembatasan daerah dan dibuatkan batas batas wilayah antara lain yaitu:
- Sebelah selatan garis pada saatnya akan ikut daerah selatan
- Sebelah utara masuk wilayah utara dan untuk kemakmuran dan kesejahteraan anak cucunya kelak supaya dibuatkan kolam air, hal ini telah terbukti adanya waduk Sempor.
Demikian Sekelumit cerita secara turun temurun tentang sejarah dan para leluhur Desa Sempor. Adapun kebenaran cerita tersebut tergantung semua yang akan menentukan.(K24/*).
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















