PemerintahanPendidikanPERISTIWA

Ikuti Kick-Off Meeting Kongres Kebudayaan Desa 2022, Kades Grenggeng Berangkat ke Jerman

2142
×

Ikuti Kick-Off Meeting Kongres Kebudayaan Desa 2022, Kades Grenggeng Berangkat ke Jerman

Sebarkan artikel ini

JERMAN, Kebumen24.com –  Kepala Desa Grenggeng Kecamatan Karanganyar Kabupaten Kebumen Eri Listiawan, bersama Kades Beijiruyung Sempor, Sofingi,. terpilih untuk mengikuti Kick-Off Meeting Kongress Kebudayaan Desa 2022 di Negara Jerman. Ia diundang ke luar negeri untuk mewakili Majalengka bersama 100 Kades lainya dari perwakilan se Indonesia baru baru ini.

Pada kegiatan ini, masing masing dari Kades membawa tanah. Dimana, tanah tersebut kemudian dibuat menjadi peta tanah yang terdiri 100 lahan. Tanah-tanah ini menjadi itikad awal berbagai kebijakan mengenai pengelolaan lahan kolektif dan membawa pesan, bahwa desa menjadi masa depan dunia.

Eri menjelaskan, kegiatan ini merupkan salah satu bagian penanda dimulainya kegiatan Kongres Kebudayaan Desa II tahun 2022. Termasuk bagian penting dari  Konferensi Tingkat Tinggi New Rural Agenda.

‘ Kegiatan juga dilakukan Penyerahan rekomendasi ke UNESCO di musium tertua di Jerman.’’jelas Eri, usai pulang dari Jerman, Selasa 28 Juni 2022.

Selain itu, terpadat ruang dialog antara agen-agen penting pengolah sumber daya di desa. Kepala Desa sebagai pemimpin komunitas di pedesaan mempunyai peran besar dalam melakukan kerja-kerja pembangunan, pengolahan dan pemajuan atas sumber daya lokal dan kebudayaan di wilayahnya.

‘’ Perspektif para pemangku kebijakan tersebut dibutuhkan bagi agenda pedesaan yang baru.’’katanya.

Adapun Standing Points New Rural Agenda secara umum yakni untuk mempertimbangkan posisi desa sebagai lumbung kearifan sekaligus garda terdepan mengolah kebudayaan sebagai jalan hidup yang berkelanjutan.

Tak hanya itu, ini juga menjadi bagian dari jejaring interlokal, yang mana terjadi ruang untuk saling menjaga, menghormati dan berdialog antar keragaman praktik mengolah sumber daya dan budaya sebagai referensi bagi keselamatan bersama. Termasuk menjadi medium bagi penghuni desa untuk bersuara dan menyatakan agensinya, sebagai sumbangan konkrit bagi krisis yang dialami dunia.

‘’ Poin-poin Utama Kongres Kebudayaan Desa Sebagai Titik Berangkat, diantaranya Desa sebagai arena demokrasi politik lokal sebagai wujud kedaulatan politik. Desa sebagai arena demokratisasi ekonomi sebagai wujud kedaulatan ekonomi dan Pemberkuasaan melalui aktualisasi pengetahuan warga sebagai wujud kedaulatan data.’’ujarnya.

Eri berharap Konferensi Kepala Desa ini bisa dirumuskan agenda yang akan dipresentasikan dan tindakan atau proposal kebijakan tingkat desa sebagai implementasi.

Peserta terdiri dari 50 Kepala Desa di Jawa Barat dan 50 Kepala Desa dari luar Jawa Barat. Konferensi dikemas dalam bentuk ruang diskusi yang kemudian dilanjutkan dalam format presentasi berupa usulan agenda dari masing-masing kelompok Kepala Desa.

Rangkaian Kegiatan di awali dari Pengantar New Rural Agenda, Presentasi Kongres Kebudayaan Desa, Forum 27an dan Presentasi Lumbung Interlokal. Selanjutnya Diskusi Kelompok Kepala Desa dan Presentasi agenda kelompok.

‘’ Sedangkan Topik keragaman praktik dan mengolah sumber daya, ini melaiputi, Kebudayaan Desa memperkenalkan KKD II beserta rangkaian kegiatannya, dengan perwakilan masing-masing kelompok mempresentasikan mengenai proposal kebijakan,’’imbuh Eri.

Dalam kesempatan itu, juga dilakukan penyerahan Piagam Martabat Penghuni Bumi (Ktt Planeter 2022). Ini dimaksud sebagai penduduk bumi yang telah berusaha ruang kehidupan berkelanjutan, harus memiliki emampuan kritis untuk bekerja dengan sumber daya lokal di sekitarnya. Dengan begitu akan menghasilkan modal budaya yang dapat memecahkan berbagai permasalahan di lingkungan masing masing.

‘’Telah diputuskan untuk menggabungkan upaya kami untuk mencapai tujuan ini. Melalui penduduk bumi yang berkumpul di kota Kassel, setuju untuk menyampaikan Piagam Martabat Penghuni Bumi, dan dengan ini kami berkomitmen untuk melanjutkan Agenda Baru Pedesaan.’’ucap Kades Grenggeng.

Eri menerangkan selain manusia, komposisi pengetahuan masyarakat akar rumput dan pemangku kepentingan, tentang bumi, spiritual, berbagai indera, antar generasi dan gender, telah menghasilkan kekuatan kolektif dalam menangani isu-isu sosial dan ekologi.

Pedesaan telah terbukti sepanjang waktu, teruatama selama pandemi covid-19, menjadi ruang yang ideal untuk mulai mengerjakan masa depan bersama. Kendati begitu, wajib di percaya pedesaan bukanlah wilayah yang ‘tetap’ dan memang begitu adanya.

Pedesaan sejatinya merupakan lokus yang perlu disadari, dipahami, dan dibuat. Kolektif sebagai sistem di mana cara-cara melingkar dan regeneratif pembangunan berada. Desa hatus mampu Bereksperimen dengan kontras dengan model pemikiran linier dan fokus pertumbuhan dalam masyarakat neoliberal yang telah terbukti terlalu ekstraktif bagi bumi dan komunitasnya.

‘’Intinya Kami berkomitmen untuk memposisikan pedesaan di garis depan dan mempraktikkan dimensi budaya sebagai Paradigma penting untuk hidup berkelanjutan di dunia.’’tambahnya.

Eri menuturkan, sebagai jalan keluar dari krisis neoliberal, desa harus bisa mengatur sumber daya berdasarkan milik bersama, termasuk keanekaragaman manusia dan Pemangku kepentingan selain manusia.

‘’ Untuk melakukan kolektivitas sebagai jaringan melalui mana kita melindungi, menghormati, dan bertukar. Percakapan satu sama lain tentang topik keragaman dalam bekerja dengan sumber daya dan budaya-sebagai referensi untuk keberlanjutan.’’terangnya.(k24/*)


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.