Religi

Gus Fachru : Puasa Membentuk Manusia Jujur dan Berakhlak

1291
×

Gus Fachru : Puasa Membentuk Manusia Jujur dan Berakhlak

Sebarkan artikel ini
Ketua Pengurus Forum Santri Indonesia (FSI) Cabang Kebumen Gus Fachrudin Achmad Nawawi

KEBUMEN, Kebumen24.com – Penetapan tanggal 1 Ramadhan dalam sidang Itsbat yang diselenggarakan oleh kementrian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) merupakan titik awal dalam menapaki indahnya bulan suci Ramadhan. Dengan masuknya bulan suci, secara otomatis umat Islam akan merasakan suka cita menjalankan berbagai amaliah ibadah yang secara khusus hanya ditemui dalam bulan Ramadhan, salah satunya ialah puasa.

Ketua RMI NU Kebumen Gus Fachrudin Achmad Nawawi menjelaskan, puasa berarti menahan. Adapun puasa dalam pengertian syariat adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa dengan niat tertentu dimulai sejak terbitnya fajar (subuh) sampai tenggelamnya matahari (maghrib).

Legalitas puasa sebagai syariat telah tercantum dalam al-Qur’an, yang mana Allah SWT telah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah; 183)

Sejak Kapan ada Puasa Ramadhan?

Dalam kitab Fathul Mu’in dijelaskan bahwa ibadah puasa ramadhan pertama kali diwajibkan pada bulan sya’ban di tahun kedua setelah Hijrah (2 Hijriyah). Mengkaji dari aspek hirtoris sejarahnya, ibadah puasa sebenarnya merupakan syariat umat-umat terdahulu. Kemudian ibadah puasa juga menjadi bagian dari syariat umat Rasulullah SAW akan tetapi dengan format aplikatif yang berbeda.

Syekh Hasan Bashri berkata, “Zaman dulu orang-orang Yahudi diwajibkan berpuasa ramadhan. Namun mereka meninggalkannya. Dan justru mereka menggantinya dengan puasa satu hari dalam setahun, yakni puasa Asyuro’, karena mereka memiliki keyakinan pada hari itulah Allahmenenggelamkan Fir’aun. Begitu juga kaum Nasrani, dulu mereka memiliki kewajiban berpuasa ramadhan. Namun mereka melakukannya secara terus menerus sampai melebihi tiga puluh hari yang berakibat mereka mengalami kelelahan yang luar biasa. Akhirnya para pemimpin dan pemuka agama Nasrani mengambil keputusan bahwa puasa ramadhan hanya dilakukan ketika musim semi.”

Dari cerita yang dipaparkan tersebut nampak memberi dukungan pada pendapat kedua yang mengatakan bahwa puasa ramadhan merupakan ciri khas syariat umat Nabi Muhammad SAW yang tidak ditemukan sebelumnya. Berpijak pada pendapat yang diklaim sebagai pendapat Mu’tamad (pendapat yang dijadikan pegangan) ini, puasa yang dilakukan umat-umat terdahulu bukanlah puasa ramadhan seperti sekarang ini.

Pahala Puasa Ramadhan Dalam pengaplikasiannya, ibadah puasa dilakukan hanya dapat dilakukan dengan menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan puasa. Tentunya, seseorang yang berpuasa atau tidak tidak mampu terdeteksi dengan panca indera. Maka dari itu, sudah sangat layak kalau dikatakan puasa merupakan ibadah yang murni hanya diketahui oleh seorang hamba dengan Tuhannya.

Tidak ada yang tahu secara pasti seberapa besar pahala yang dijanjikan Allah SWT kepada hambanya yang melakukan ibadah puasa ramadhan. Dengan demikian, Rasulullah SAW pernah bersabda dalam salah satu hadisnya;

“Allah Azza wa Jalla berkata; Puasa itu untukku dan aku sendiri yang akan membalasnya”.

Ramadan memberikan peluang yang sangat besar untuk mengubah jatidiri manusia. Dalam hal akhlak, jatidiri manusia akan bisa lebih baik sebab Ramadan melatih nilai kejujuran.Ibadah puasa yang sehari-hari dijalankan, memiliki potensi dalam mendarmabaktikan kejujuran pada Allah.

Oleh sebab itu, nilai pahala puasa yang berlipatganda hanya menjadi otoritas Allah. Tidakada satu pun manusia yang tahu pahalanya. Sejenak perlu merenung hadits dari Sahabat Ibnu Mas’ud yang tertulis dalam Kitab Bulughul Maram. Bahwa Rasulullah Saw bersabda yang artinya

“Hendaklah kalian selalu melakukan kejujuran, karena kejujuran akan membimbing kepada kebaikan, dan kebaikan akan membimbing ke surga. Jika seorang hamba berbuat jujur dan membiasakan sifat ini hingga dia dicatat oleh Allah sebagai orang yang jujur. Jauhkanlah diri kalian dari dusta, karena dusta akan membimbing kepada kedurhakaan, dan kedurhakaan akan membimbing ke neraka. Jika seorang hamba selalu berdusta dan membiasakan berbuat dusta hingga Allah mencatatnya sebagai pendusta.”

Hakikat kejujuran adalah dari usaha manusia menyatakan kondisi apa adanya–tanpa harus berdusta. Nilai kejujuran ada pada pesan hidupnya untuk menyebutkan bahwa kondisi nyata dengan tidak mengada-ada. Sebab dusta adalah awal dari kehancuran.

Maka salah satu pesan Ibnu Hazim kepada Sulaiman yang dilukiskan oleh Hujjatul Islam Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin adalah: “Datanglah dirimu kepada kitab Allah yang mempunyai pesan bahwa sesungguhnya orang-orang yang baik berada dalam kesenangan. Dan orang yang jahat berada di neraka”.

Ini menunjukkan bahwa posisi orang yang benar akan hidup tenang baik di dunia maupun di akhirat kelak. Sebaliknya, orang yang jahat dan berdusta akan terasa tidak nyaman sejak di dunia dan di akhiratnya menjadi penghuni neraka.

Wajar sekali dalam menggambarkan manusia yang baik ini, Syaikh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Nashaihul Ibad mengutip hadits Nabi:

 “Orang yang paling aku cintai diantara kamu adalah orang yang paling baik budi pekertinya, yang mudah disuruh, yang jinak dan mudah dijinakkan”.

Ramadan menjadi bulan yang tepat dalam melakukan usaha merubah diri menjadi lebih baik. Kemauan positif itu akan tetap terwujud baik manakala ada usaha yang sungguh-sungguh dengan penuh keihlasan.

Sebab orang yang baik budi pekertinya dengan kejujuran akan selalu senang dan membuat rasa nyaman bagi orang sekelilingnya. Sedangkan orang yang selalu berdusta akan membuat orang di sekitarnya merasa terteror bahaya.

Maka dari itu, demi menumbuhkan spirit semangat ibadah puasa ramadhan, hendaklah umat Islam mengetahui dan memahami berbagai karakteristik yang dapat mengenalkannya kepada ibadah puasa ramadhan. Karena menjadi sebuah realita bahwa menjalankan ibadah puasa tak sekedar menggugurkan kewajiban belaka, melainkan sebagai usaha diri untuk memenuhi kebutuhan rohani demi kebahagiaan di hari esok. Rasulullah SAW bersabda:

“Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan. Kebahagiaan saat ia berbuka dan kebahagiaan saat bertemu Tuhannya”.(K24/THR).


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

@Kebumen24.com