AMBAL, Kebumen24.com- Dampak kurangnya ketersediaan pasokan air membuat sejumlah petani di Desa Gondanglegi Kecamatan Ambal merugi. Mereka terpaksa memilih tanaman padi yang telah berusia 40 hari dibabat habis untuk pakan ternak.
Hamparan lahan pertanian dengan komoditas padi banyak dikembangkan oleh masyarakat di wilayah Kecamatan Ambal dengan sistem tadah hujan. Namun setelah beberapa bulan terakhir tidak kunjung turun hujan, tanaman padi dengan varietas Inpari, ciherang, mekonda menjadikan kerdil.
Dari data yang dihimpun, lahan pertanian di Desa Gondanglegi yang terancam gagal panen seluas 263,45 hektare. Para petani tidak dapat menikmati manisnya panen padi pada masa tanam kesatu ini dan memutuskan mencabuti tanaman padi untuk beralih ke tanaman lain seperti mentimun dan jagung.
Salah satu petani Gimin (77) warga Dukuh Sanggup RT 10/RW 03 Desa Gondanglegi mengaku perihatin melihat keadaan saat ini. Menurutnya, ongkos yang ia keluarkan menggarap lahan yang dimiliki seluas hampir satu hektar dari mulai persiapan tanam hingga perawatan dianggap tidak sebanding dengan apa yang diperoleh.
“Mau bagaimana lagi, padahal uang yang keluar sudah banyak. Paling ini untuk pakan sapi dirumah, nanti tinggal diganti tanam timun,” katanya, Kamis 30 Januari 2020.
Gimin menerangkan, melihat intensitas hujan yang tak menentu. Padi yang ia tanam dengan varietas Ciherang telah rutin disiram mengandalkan sumur bor. Namun, tanaman padi yang usianya setengah perjalanan menjelang panen itu tidak dapat berkembang maksimal.
“Sudah buat sumur satu disekitar sawah sini. Tapi ya beda dengan air irigasi dan air hujan,” paparnya.
Sementara itu, Kepala Desa Gondanglegi Kecamatan Ambal, Hariyanto menyampaikan, pihaknya telah berupaya memfasilitasi para petani dengan membuatkan sumur pompa dibeberapa titik sebagai sumber pengairan lahan pertanian.
“Kita sudah berusaha karena tidak ada hujan bikin sumur pompa,” terangnya.
Selain itu, jeritan para petani juga telah disampaikan kepada pendamping pertanian diwilayah kerja Kecamatan Ambal serta para pemangku kebijakan di Kabupaten melalui Paguyuban Kepala Desa untuk mencari solusi jitu menangani permasalahan ini.
“Paguyuban kepala desa sudah sowan Bupati dan Balai Penyuluh Pertanian mengenai hal ini terkait mundurnya masa tanam satu khususnya Desa Gondanglegi,” ujarnya.
Sementara, Petugas Laboratorium Pengamatan Hama Penyakit Tanaman Pangan Wilayah Eks Karisidenan Kedu, Teguh Pramono menerangkan, selain faktor utama tanama padi puso karena kurangnya pasokan air. Terdapat faktor lain yakni munculnya hama oleh bakteri xanthomonas orizeae yang menyebabkan tanaman sulit berkembang.
“Jadi kompleks sebetulnya, tapi sudah kita edukasi sebelumnya cara penanganan salah satunya dengan menghindari pupuk N atau urea secara berlebihan. Kemidian untuk lahan sudah terserang dilakukan penyemprotan dengan jenis bakterisida jenis puanmur atau nordox,” kata Teguh.
Tanaman padi merupakan bukanlah jenis tanaman air melainkan tanaman ini membutuhkan air lebih banyak dari jenis tanaman lainnya. Untuk itu, ia meminta agar petani tidak begitu fanatik dan berpaku hanya satu jenis varietas padi saja mengingat iklim dan situasi alam saat ini berubah-ubah.
“Kedepan menanggapi situasi seperti ini kita himbau menggunakan jenis padi varietas Inpari 42,32,33. Tidak ada padi yang tidak rentan hama tinggal kekuatan dan kondisinya yang mempengaruhi. Makanya ada sistem gilir varietas,” tandasnya.
Sebelum masa tanam, ia menyebutkan pihaknya telah mendorong produktivitas petani melalui program Penanganan Dampak Perubahan Iklim dengan memberikan bantuan kepada Desa Gondanglegi berupa alat mesin pertanian tiga pompa, pembuatan 30 sumur bor, pupuk sebanyak 12,5 Ton serta 625 kg bibit padi. (K24/Hfd)
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.