PETANAHAN, Kebumen24.com – Sebagian masyarakat mungkin sudah banyak yang mengenal, jika Dukuh Karajiwan Rt 04 rw 05 Desa Jatimulyo Kecamatan Petanahan, merupakan sentra kerajinan anyaman bambu yang sudah bertahun-tahun. Bahkan, hingga kini hampir 70 persen warga setempat masih bekerja sebagai penganyam bambu. Kendati demikian, hasil dari usaha ini dinilai belum mampu menopang secara penuh untuk mencukupI kebutuhan sehari hari para perajinya.
Seperti di rumah Hadi Suyono (50), yang merupakan salah seorang perajin bambu di Dukuh setempat. Di rumahnya ini, beraneka macam hasil anyaman bambu ia dibikin. Mulai dari kukusan, tampah, kipas, hinga besek atau tempat nasi.
Adapun dalam satu batang bambunya, bisa dibuat menjadi 6 buah tampah. Sementara untuk pemasaran ia lakukan sendiri dengan cara berkeliling mengunakan sepeda motor setiap harinya. Kendati demekian, usahanya ini, dirasakan belum bisa menopang secara penuh untuk kebutuhannya sehari hari.
“kurang lebih sudah ada sekitar 25 tahun saya geluti usaha ini, tapi ya hasilnya hanya baru sekedar cukup buat tambahan. Itupun kalo pas keling berjualan baru saya dapat hasil,”ucap Hadi Suyono.
Suyono menambahkan, untuk harga penjualan seperti besek atau wadah nasi itu sendiri hanya berkisar Rp 1000 perbeseknya. Sedangkan untuk kipas Rp 2500 dan untuk jenis tampah dijual 25 ribu rupiah.
“ Harga segitu sebenarnya belum sebanding dengan modal bambu dan waktu prose pembuatanya, tapi mau gimana lagi, soalnya kalo jual mahal mahal takut nggk laku mas,”imbuhnya.
Hal senada juga di utarakan oleh kasmini (45), yang juga merupakan salah seorang perajin yang sudah menggeluti selama 20 tahun. Kasmini mengatakan untuk bambu sendiri ia olah menjadi kerajian kipas, meski proses pembuatanya sedikit membutuhkan waktu yang cukup lama. Namun, usaha ini dirasakan hanya sekedar mampu menopang sedikit kebutuhan rumah tangganya.
“ Untuk proses pembuatan membutuhkan waktu kurang lebih satu Minggu mas, dari masih berbentuk bambu hingga siap dianyam. Kalo untuk hasil ya..,hanya sekedar baru cukup mas buat tambah tambah,” katanya kepada wartwan.
Sementara itu, Kepala desa Jatimulyo Sabid Banani menuturkan, industri anyaman bambu di Desanya merupakan industri kerajinan yang sudah berlangsung turun-temurun. Namun, bagi pelaku industri, anyaman bambu ini belum menjadi mata pencaharian utama.
“Kerajinan anyaman bambu ini sebenarnya produk unggulan desa Jatimulyo. Namun, karna margin atau keuntungan nya yang masih sangat sedikit, sehingga belum bisa menjadi sumber pengahasilan utama masyarakat,” ungkapnya Kamis 5 Desember 2019 Kemarin, disela sela kegiatanya saat meninjau tempat para perajin.
Dijelaskan kepala Desa, hingga Saat ini, pengrajin bambu di desa Jatimulyo berjumlah sekitar 100 kepala keluarga yang tersebar di setiap pedukuhan. Namun, masih banyak para pemuda desa yang masih enggan untuk menggikutinya.
“ Saya yakin, kalo ada campur tangan para pemuda, hasi kerajinan mereka bisa jauh lebih maju, baik secara hasil penjulan maupun pengembangan jenis produknya. kita rencanakan di tahun 2020, kita adakan pelatihan pembuatan kerajinan bambu kepada mereka, agar kerajinan bambu lebih bervariatif,” imbuh kapala Desa Sabid Banani.
Untuk itu, lanjut kepala desa, pihaknya kedepan akan memberikan perhatian khusus untuk para pengrajin, dengan cara membentuk sebuah wadah atau kelompok, agar lebih memudahkan mereka dalam hal pemasaran maupun berinovasi.
“kalo sudah terbentuk nantikan penjualan bisa dengan cara online, bisa melalui medsos ataupun website desa,”tandasnya. (k24/I/A)
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.