Uncategorized

Legenda Desa Klegenrejo Klirong: Dari Sengketa Dusun hingga Bersatunya Bango dan Klampis, Sejarah Panjang Sejak Era Kolonial

402
×

Legenda Desa Klegenrejo Klirong: Dari Sengketa Dusun hingga Bersatunya Bango dan Klampis, Sejarah Panjang Sejak Era Kolonial

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Klegenrejo di Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang yang sarat legenda dan dinamika sosial sejak masa penjajahan Belanda. Desa ini terbentuk dari penggabungan dua wilayah lama, yakni Desa Bango dan Desa Klampis, yang pada masa lalu berdiri sebagai dua pemerintahan desa terpisah.

Menurut catatan sejarah desa, sekitar tahun 1850 wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Klegenrejo masih terbagi menjadi dua desa utama. Desa Bango terdiri dari beberapa dusun yaitu Dusun Bango, Dusun Gabus, Dusun Kembaran, dan Dusun Pakis Haji. Sementara itu Desa Klampis meliputi Dusun Klampis, Dusun Tajug, dan Dusun Brangkal.

Pada sekitar tahun 1870, Dusun Brangkal sempat menjadi wilayah yang diperebutkan antara Desa Klampis dan Desa Klirong. Situasi tersebut dipicu oleh konflik internal di Desa Klirong yang pada masa kini dapat dianalogikan seperti gejolak reformasi. Akhirnya, Dusun Brangkal dimasukkan ke dalam wilayah Desa Klampis.

Pada masa sebelum tahun 1889, kepemimpinan di Desa Klampis dipegang oleh lurah dari keturunan Prabu Jaka, salah satunya Kyai Kuwu. Sedangkan Desa Bango dipimpin oleh lurah dari keturunan Sura Dahana, seperti Karto Wijoyo atau Tuwon. Lurah terakhir di Dukuh Brangkal adalah Suro Menggolo, sementara Desa Bango dipimpin Braja Dipa dan Desa Klampis dipimpin Lurah Rejo.

Karena jumlah penduduk kedua desa masih relatif sedikit, sekitar tahun 1889 dilakukan penggabungan antara Desa Klampis dan Desa Bango. Dari penggabungan inilah lahir Desa Klegenrejo yang dikenal hingga sekarang.

Sepuluh tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1899, dilaksanakan pemilihan kepala desa pertama dengan sistem dodokan. Dalam pemilihan tersebut, Bapak Rejo terpilih sebagai Kepala Desa Klegenrejo dan memimpin hingga tahun 1901.

Pemilihan kepala desa berikutnya dilakukan pada tahun 1901 dengan sistem gitingan atau bumbungan, dan dimenangkan oleh Mad Kusen yang memimpin hingga tahun 1921. Setelah itu kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, Karto Sudiro, dari tahun 1921 hingga 1946.

Pada tahun 1946, Doelah Achmad terpilih sebagai kepala desa dan memimpin dalam periode yang sangat panjang hingga tahun 1988. Setelah masa transisi yang sempat dijabat sementara oleh Sekretaris Desa Sujangi, pada tahun 1989 Mangun Sahir terpilih melalui sistem pemungutan suara menggunakan kartu suara.

Perjalanan kepemimpinan desa kemudian dilanjutkan oleh Saelan pada tahun 1999 hingga 2007. Setelah masa penjabat sementara oleh Sekretaris Desa Suprapto, pada Juli 2007 masyarakat kembali memilih Suko Prayitno sebagai Kepala Desa Klegenrejo.

Selain kisah kepemimpinan, sejarah Desa Klegenrejo juga mencatat berbagai peristiwa penting yang memengaruhi kehidupan masyarakat. Pada tahun 1943 misalnya, warga mengalami masa sulit akibat kelangkaan pangan dan penyakit busung lapar. Wilayah ini juga turut merasakan dampak situasi nasional seperti penjajahan Belanda kedua pada 1947–1948, pemberontakan tahun 1950–1951, hingga gejolak nasional pada peristiwa 1965.

Berbagai kejadian alam juga pernah terjadi, seperti dampak letusan Gunung Galunggung pada tahun 1982 yang menyebabkan banyak hewan ternak mati. Sementara pada tahun 2010, letusan Gunung Merapi turut menyebabkan hujan abu yang dirasakan masyarakat.

Di sisi lain, sejumlah perkembangan positif juga tercatat, seperti panen raya kedelai pada tahun 1990, bantuan sapi untuk kelompok tani ternak pada tahun 2003 dan 2006, hingga pembangunan infrastruktur seperti pengaspalan jalan sepanjang satu kilometer pada tahun 2009.

Pada tahun 2010, Desa Klegenrejo juga pernah menjadi tuan rumah pagelaran wayang kulit spektakuler di Pendopo Kemantenan dengan dalang Ki Bayu Aji dari Kartasura. Pagelaran tersebut menjadi salah satu peristiwa budaya yang dikenang masyarakat desa.

Sejarah panjang Desa Klegenrejo menjadi bagian penting dari identitas masyarakatnya. Dari legenda, konflik wilayah, hingga perjalanan demokrasi desa, semua menjadi mozaik perjalanan sebuah desa yang terus berkembang hingga kini.

Sumber:
https://klegenrejo.kec-klirong.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/4/93

 


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.