KEBUMEN, Kebumen24.com – Komitmen pemberdayaan masyarakat melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) terus dilakukan secara serius. Hal itu terlihat dalam pelaksanaan Penilaian Kemajuan Program (PKP) Internal yang digelar pada Senin, 31 Agustus 2026, oleh HIMA MSDM Sektor Publik dan UKM English Club (EClipse).
Penilaian tersebut menjadi momentum penting untuk melihat secara langsung perkembangan program sekaligus memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat penerima program.
Tiga dosen reviewer, yakni Asni Tafrikhatin, M.Pd., Hamid Nasrullah, M.Pd., dan Blandina Hendrawardani, S.E., M.M., turut turun langsung ke lokasi. Mereka mengunjungi sejumlah titik pelaksanaan program untuk melihat perkembangan kegiatan, penggunaan bantuan, serta dampaknya terhadap masyarakat.
Menyusuri Jalan Terjal Demi Pemberdayaan Petani Gula Semut
Tim PPK Ormawa HIMA MSDM Sektor Publik melaksanakan penilaian di Desa Sampang, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen. Program yang dikembangkan berfokus pada pemberdayaan petani gula semut melalui peningkatan sarana produksi dan penerapan proses produksi yang lebih higienis.
Para reviewer mengunjungi rumah-rumah penerima manfaat untuk melihat secara langsung pemanfaatan bantuan berupa peralatan produksi serta tungku bercerobong asap berstandar higienis.
Perjalanan menuju lokasi bukan perkara mudah. Kondisi jalan yang menanjak, berbatu, dan belum sepenuhnya mulus menjadi tantangan tersendiri. Bahkan, untuk menjangkau rumah warga yang berada di bagian paling atas, tim harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki karena kendaraan bermotor tidak dapat mencapai lokasi.
Namun, kondisi tersebut tidak mengurangi semangat tim maupun para reviewer. Justru, perjalanan itu memberikan gambaran nyata mengenai kondisi masyarakat yang menjadi sasaran program.
Salah satu penerima manfaat, Partimin, mengungkapkan apresiasinya atas bantuan yang diberikan.
“Saya mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan peralatan dan tungku bercerobong asap berstandar higienis yang telah diberikan. Dengan bantuan ini, proses produksi dapat dilakukan lebih cepat dan juga meningkatkan kualitas produksi gula semut.”
Program tersebut diharapkan tidak hanya membantu meningkatkan efisiensi produksi, tetapi juga mendorong petani untuk menghasilkan gula semut dengan kualitas yang semakin baik.
Smart Farming untuk Dorong Potensi Kopi Desa Selogiri
Penilaian kemudian berlanjut ke Desa Selogiri, Kecamatan Karanggayam, Kabupaten Kebumen, tempat Tim PPK Ormawa UKM English Club (EClipse) menjalankan program pemberdayaan masyarakat berbasis smart farming.
Program tersebut diarahkan pada pengembangan potensi tanaman kopi masyarakat. Sejumlah dukungan diberikan, mulai dari bibit kopi, bedeng penyemaian, overspin, hingga pelatihan penyemaian dan teknik sambung pucuk kopi lokal dengan robusta.
Akses menuju Desa Selogiri juga menjadi tantangan tersendiri. Kondisi medan membuat lokasi lebih mudah dijangkau menggunakan kendaraan roda dua. Meski harus melewati akses yang cukup sulit, para reviewer bersama tim tetap berupaya melihat langsung pelaksanaan program di tengah masyarakat.
Salah seorang penerima manfaat, Manarja, menyampaikan terima kasih atas pendampingan dan bantuan yang diterimanya.
“Saya mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan bibit kopi, bedeng penyemaian, overspin, serta pelatihan penyemaian dan sambung pucuk kopi lokal dengan robusta. Melalui program ini, pengetahuan masyarakat tentang budidaya kopi yang baik semakin meningkat. Saya optimis kualitas kopi di daerah kami akan semakin baik ke depannya.”
Menurutnya, program tersebut memberikan tambahan pengetahuan sekaligus membuka harapan bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi kopi lokal secara lebih optimal.
Bukan Sekadar Penilaian, tetapi Memastikan Program Berdampak
Pelaksanaan PKP Internal menjadi bagian penting dalam perjalanan kedua program PPK Ormawa. Penilaian tidak hanya berorientasi pada capaian kegiatan, tetapi juga menjadi sarana untuk melihat sejauh mana program berjalan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Medan yang sulit, jalan berbatu, hingga perjalanan yang harus dilanjutkan dengan berjalan kaki justru menjadi bagian dari pengalaman dalam menjalankan pengabdian kepada masyarakat.
Dari petani gula semut di Sampang hingga pengembangan kopi melalui smart farming di Selogiri, dua program tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat membutuhkan kehadiran langsung, kolaborasi, pendampingan, serta komitmen yang berkelanjutan.(K24/*).
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.















