Pendidikan

Luncurkan SIGMA, MAN 2 Kebumen Cetak Jurnalis Madrasah Cerdas dan Adaptif di Era AI

×

Luncurkan SIGMA, MAN 2 Kebumen Cetak Jurnalis Madrasah Cerdas dan Adaptif di Era AI

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com  – Dunia jurnalistik terus berkembang seiring pesatnya teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI). Kemampuan menulis berita kini tidak lagi menjadi satu-satunya keterampilan yang dibutuhkan. Generasi muda juga dituntut mampu mencari fakta, melakukan wawancara, memverifikasi informasi, berbicara di depan publik hingga memproduksi konten digital secara kreatif dan bertanggung jawab.

Semangat tersebut diwujudkan MAN 2 Kebumen melalui kegiatan Pelatihan Jurnalistik bersama Kebumen24.com yang digelar di Aula Asrama MAN 2 Kebumen, Selasa (1/9/2026).

Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari, 1–3 September 2026, tersebut mengusung tema “Mencetak Jurnalis Muda Cerdas, Cakap Bicara, Kreatif, Beretika, dan Adaptif di Era AI.”

Kegiatan sekaligus menjadi momentum peluncuran ekstrakurikuler jurnalistik dan media MAN 2 Kebumen yang diberi nama SIGMA (Sistem Informasi & Gerakan Media MANDA).

Peluncuran SIGMA ditandai dengan penyematan kalung ID card bertuliskan “SIGMA” oleh Kepala MAN 2 Kebumen, Drs. H. Akhmad Taukhid, M.Pd., kepada Pembina Jurnalistik MAN 2 Kebumen, Fatkhul Anas, M.Pd.

Akhmad Taukhid mengatakan, pembentukan SIGMA merupakan bagian dari upaya madrasah menyediakan ruang bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas, kemampuan komunikasi, sekaligus keterampilan mengelola informasi.

“Melalui SIGMA, kami ingin memberikan wadah kepada siswa agar bisa mengembangkan kreativitas, kemampuan berkomunikasi, sekaligus belajar menyampaikan informasi dengan baik dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Menurutnya, perkembangan teknologi digital membuat siswa tidak cukup hanya menjadi pengguna media sosial dan konsumen informasi. Mereka juga perlu memiliki kemampuan untuk menilai kebenaran sebuah informasi sekaligus menghasilkan karya yang memberikan manfaat.

“Di era digital dan AI seperti sekarang, siswa tidak cukup hanya menjadi konsumen informasi. Mereka juga harus mampu menjadi produsen informasi yang cerdas, kreatif, beretika, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi,” imbuhnya.

Kehadiran SIGMA diharapkan menjadi ruang belajar sekaligus berkarya bagi siswa dalam berbagai bidang jurnalistik dan media. Mulai dari menulis, fotografi, videografi, wawancara, produksi konten hingga pengelolaan media sekolah.

Pada hari pertama pelatihan, materi pengenalan jurnalistik disampaikan Pimpinan Redaksi Kebumen24.com, M. Tohri, bersama Jurnalis Kebumen24.com, Ilham Faturrahman.

Para peserta diperkenalkan dengan proses kerja jurnalistik secara utuh, mulai dari menentukan ide liputan, melakukan riset, mencari data, wawancara, menulis berita, menyunting naskah hingga mendistribusikan informasi melalui berbagai platform digital.

M. Tohri menekankan bahwa jurnalistik bukan sekadar kemampuan merangkai kata. Di balik setiap berita terdapat tanggung jawab kepada publik.

“Jurnalistik itu bukan sekadar bagaimana kita bisa menulis berita. Ada tanggung jawab di dalamnya, karena informasi yang kita sampaikan akan dibaca, dipercaya, dan bisa memengaruhi masyarakat,” kata Tohri.

Peserta juga dikenalkan dengan formula dasar 5W+1H, yakni What, Who, When, Where, Why, dan How. Keenam unsur tersebut menjadi fondasi penting dalam menggali informasi agar berita mampu menjawab pertanyaan utama pembaca secara jelas dan lengkap.

Selain teknik penulisan, peserta mendapatkan materi mengenai pentingnya verifikasi, keberimbangan dan etika jurnalistik.

Di tengah derasnya arus informasi media sosial, kemampuan memeriksa kebenaran informasi menjadi semakin penting.

“Di tengah banjir informasi seperti sekarang, kemampuan paling penting bukan hanya cepat mendapatkan informasi, tetapi juga memastikan informasi itu benar. Cek sumber, verifikasi data, dan jangan sampai kita ikut menyebarkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya,” tegasnya.

Materi kemudian berkembang pada literasi digital, etika bermedia sosial serta berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda di ruang digital.

Tohri mengingatkan bahwa kemampuan mengoperasikan gawai belum otomatis menunjukkan seseorang memiliki literasi digital yang baik. Pengguna teknologi juga harus mampu berpikir kritis, menjaga keamanan data, memahami etika komunikasi dan bertanggung jawab terhadap konten yang dibuat.

“Pintar menggunakan teknologi belum tentu berarti bijak menggunakannya. Kita perlu bertanya kepada diri sendiri, kalau sebuah postingan dapat memengaruhi masa depan, baik saat kuliah, bekerja maupun membangun relasi, apakah kita masih mau asal memposting?” ujarnya.

Para siswa diajak mengenali berbagai risiko dunia digital, mulai dari hoaks, penipuan daring, cyberbullying, perjudian online, konten pornografi, pencurian akun hingga kebocoran data pribadi.

Menurut Tohri, media sosial bukan ruang tanpa konsekuensi. Setiap unggahan dapat meninggalkan jejak digital yang berpotensi memengaruhi masa depan seseorang.

Karena itu, ia mengenalkan prinsip THINK sebelum mengunggah atau membagikan sesuatu, yaitu True (benar), Helpful (bermanfaat), Inspiring (menginspirasi), Necessary (perlu) dan Kind (baik).

“Bayangkan kalau postingan kita hari ini dibaca orang tua, guru, dosen atau orang yang akan memberikan pekerjaan kepada kita lima tahun mendatang. Apakah kita masih merasa nyaman dengan postingan tersebut?” katanya.

Peserta juga diajak memahami karakteristik hoaks yang kerap menggunakan judul sensasional dan memainkan emosi pembaca.

Informasi yang tidak memiliki sumber jelas, menggunakan foto di luar konteks, mengajak pembaca segera menyebarkan pesan, maupun hanya mengandalkan satu sumber perlu dicermati dan diverifikasi.

Tohri memberikan prinsip sederhana kepada peserta: baca, cek, bandingkan, verifikasi, baru bagikan.

Hal yang sama berlaku terhadap informasi yang berasal dari media sosial. Konten yang viral tidak otomatis merupakan fakta.

“Jangan membagikan informasi hanya karena judulnya menarik atau karena dikirim oleh orang yang kita kenal. Pastikan dulu kebenarannya,” jelasnya.

Persoalan cyberbullying juga menjadi perhatian dalam pelatihan. Perundungan digital dapat berupa hinaan, ancaman, body shaming, penyebaran aib, manipulasi foto, pembuatan akun palsu hingga pengucilan seseorang dari kelompok percakapan.

Tohri mengingatkan bahwa alasan “hanya bercanda” tidak dapat digunakan untuk membenarkan tindakan yang menyakiti orang lain.

“Bercanda itu seharusnya membuat kedua pihak sama-sama tertawa. Kalau orang lain terluka atau menangis karena komentar kita, berarti itu bukan lagi bercanda,” ujarnya.

Memasuki pembahasan jurnalistik digital, peserta diingatkan agar tidak terjebak pada keinginan menjadi pihak pertama yang menyebarkan informasi.

Kecepatan memang penting dalam media online, tetapi akurasi dan verifikasi harus tetap menjadi prioritas. Seorang jurnalis harus memeriksa fakta, mengonfirmasi informasi kepada pihak terkait, memisahkan fakta dengan opini serta menjaga keberimbangan pemberitaan.

“Menjadi yang pertama belum tentu menjadi yang paling benar. Dalam jurnalistik, kebenaran dan akurasi jauh lebih penting dibanding sekadar kecepatan,” kata Tohri.

Peserta juga diperkenalkan dengan tahapan kerja jurnalistik yang meliputi news planning, news hunting, dan news writing. Mulai dari merencanakan topik dan pembagian tugas, mengumpulkan data melalui observasi dan wawancara, hingga menulis serta menyunting naskah berdasarkan fakta yang telah diverifikasi.

Perkembangan kecerdasan buatan atau AI menjadi materi yang tidak kalah penting.AI dapat dimanfaatkan untuk membantu mencari ide, melakukan transkripsi, mengolah data, membuat rancangan tulisan maupun mendukung produksi visual. Namun, hasil yang dihasilkan AI tidak boleh langsung dipercaya dan dipublikasikan tanpa pemeriksaan.

“AI membantu, jurnalis memeriksa, dan redaksi tetap bertanggung jawab.”jelasnya.

Prinsip tersebut menjadi salah satu penekanan dalam pemanfaatan AI di dunia jurnalistik. Teknologi diharapkan meningkatkan efisiensi kerja tanpa menghilangkan proses verifikasi dan tanggung jawab manusia.

Materi pelatihan juga menyoroti pentingnya pemberitaan yang ramah anak dan penyandang disabilitas.

Dalam pemberitaan yang melibatkan anak, identitas yang dapat membuat anak mudah dikenali perlu dilindungi. Media juga harus menghindari eksploitasi terhadap kondisi atau trauma anak demi kepentingan pemberitaan.

Sementara dalam pemberitaan mengenai penyandang disabilitas, jurnalis dituntut menggunakan istilah yang tepat, menghindari stigma dan tetap menghormati martabat subjek berita.

“Beritakan peristiwanya, tetapi lindungi manusianya. Jurnalisme harus akurat, empatik, inklusif dan tetap menjaga martabat,” jelas Tohri.

Materi lainnya membahas “Membedah Bahasa Jurnalistik: Pilar Akurasi dan Komunikasi Efektif.”

Peserta diajak memahami bahwa bahasa jurnalistik bukan sekadar persoalan memilih kata yang menarik. Struktur kalimat, logika, ketepatan makna dan pemilihan diksi turut menentukan kualitas sebuah berita.

Bahasa jurnalistik harus mampu menyampaikan fakta secara jelas, lugas dan tidak menimbulkan tafsir ganda.

Peserta juga dikenalkan dengan perbedaan bahasa lisan dan tulisan, makna denotatif dan konotatif, serta berbagai hubungan antarkata seperti sinonim, antonim, homonim, homofon, homograf, polisemi dan hipernim.

Menurut Tohri, kemampuan berbahasa seorang jurnalis tidak dapat dibangun secara instan. Kebiasaan membaca, menulis, mengoreksi dan menganalisis teks jurnalistik menjadi bagian penting untuk meningkatkan kemampuan tersebut.

Jurnalisme yang baik, kata dia, berawal dari bahasa yang baik: informatif, jelas, akurat dan bertanggung jawab.

Pelatihan tidak hanya berhenti pada teori. Para siswa juga diperkenalkan dengan teknik peliputan dan wawancara, riset data, fotografi serta videografi jurnalistik.

Materi kemudian diarahkan pada perkembangan media digital, termasuk produksi konten audio dan video.

Melalui SIGMA, siswa nantinya dapat mengambil berbagai peran, mulai dari reporter, fotografer, videografer, penulis, editor hingga pengelola media sekolah.

Kegiatan jurnalistik sekolah diharapkan menjadi sarana untuk meningkatkan kemampuan membaca, menulis, berpikir kritis, berkomunikasi, bekerja sama dan bertanggung jawab terhadap informasi.

Dengan demikian, siswa tidak hanya menjadi penonton di tengah derasnya arus informasi digital, tetapi mampu tampil sebagai pencipta sekaligus penyampai informasi yang cerdas, kreatif, etis dan bertanggung jawab.

Rangkaian Pelatihan Jurnalistik MAN 2 Kebumen bersama Kebumen24.com masih akan berlangsung selama dua hari berikutnya dengan materi yang semakin aplikatif.

Pada hari kedua, peserta  mengikuti materi pembuatan konten video kreatif bersama Hantoro Wibowo, jurnalis Kompas TV, content creator sekaligus entrepreneur.

Sementara pada hari ketiga, kegiatan akan ditutup dengan materi public speaking yang disampaikan Syifa Hamama, S.I.Kom., M.Si., Ketua Jurusan Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam IAINU Kebumen.(K24/*).


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.