Pendidikan

Hadir di Kuliah Umum Program Magister UMNU Kebumen, Kepala BPIP: AI Makin Canggih, Manusia Jangan Kehilangan Nurani

×

Hadir di Kuliah Umum Program Magister UMNU Kebumen, Kepala BPIP: AI Makin Canggih, Manusia Jangan Kehilangan Nurani

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Di tengah kemajuan teknologi tersebut, manusia dituntut tidak hanya semakin cakap menggunakan teknologi, tetapi juga tetap menjaga karakter, etika, dan hati nurani.

Pesan tersebut mengemuka dalam Kuliah Umum Program Magister Program Studi Pendidikan Umum dan Karakter Universitas Ma’arif Nahdlatul Ulama (UMNU) Kebumen yang menghadirkan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D. sebagai narasumber.

Kuliah umum mengangkat tema “Peran Pendidikan dalam Pembentukan Karakter Pancasila di Era Artificial Intelligence (AI)” berlangsung di Gedung Aswaja UMNU Kebumen, Minggu (20/9/2026).

Kegiatan ini menjadi ruang akademik bagi mahasiswa Pascasarjana untuk mendalami kembali pentingnya nilai-nilai Pancasila sekaligus memahami tantangan pendidikan di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan yang semakin pesat.

Rektor UMNU Kebumen Dr. H. Imam Satibi, M.Pd.I. mengatakan, kuliah umum tersebut tidak sekadar menjadi forum penyampaian materi akademik, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat peran pendidikan dalam membentuk generasi yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan pijakan nilai.

Menurutnya, mahasiswa perlu memahami Pancasila secara utuh, kontekstual, dan aplikatif sehingga nilai-nilai tersebut tidak berhenti sebagai teori, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

“Kehadiran BPIP di UMNU Kebumen diharapkan dapat memberikan perspektif yang lebih luas kepada mahasiswa, khususnya mahasiswa Program Magister Pendidikan Umum dan Karakter,” demikian pokok pemikiran yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.

Ia menambahkan, Program Magister Pendidikan Umum dan Karakter memiliki posisi strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di bidang pendidikan dan pembentukan karakter.

Lulusan program tersebut diharapkan dapat berkontribusi sebagai pendidik maupun akademisi yang mampu memperkuat pendidikan karakter dan nilai-nilai Pancasila di tengah perubahan zaman.

Dalam pemaparannya, Yudian Wahyudi menyoroti perkembangan AI yang kini telah mampu membantu manusia melakukan berbagai pekerjaan. Mulai dari menulis, menjawab pertanyaan, menghasilkan karya, hingga menciptakan tiruan suara dan wajah manusia.

Kemampuan tersebut menunjukkan bahwa teknologi AI berkembang dengan sangat cepat. Namun, menurut Yudian, perkembangan itu sekaligus menghadirkan pertanyaan penting bagi dunia pendidikan: apa yang tetap menjadi tanggung jawab manusia ketika sebagian pekerjaan dapat dilakukan oleh mesin?

Ia menegaskan bahwa karakter, nurani, dan tanggung jawab moral tidak dapat diserahkan kepada teknologi.

AI dapat membantu memberikan informasi secara cepat, tetapi teknologi tidak dapat menggantikan kebijaksanaan, empati, dan tanggung jawab moral yang melekat pada manusia.

Karena itu, pendidikan memiliki peran penting untuk memastikan kemajuan teknologi berjalan beriringan dengan penguatan karakter.

Yudian menekankan, Pancasila juga tidak cukup dipahami sebatas lima sila yang dihafalkan. Nilai-nilai Pancasila harus tercermin dalam cara manusia berhubungan dengan Tuhan, memperlakukan sesama, kehidupan bermasyarakat, serta dalam upaya mewujudkan keadilan.

Dalam kuliah umum tersebut, Yudian juga mengingatkan sejumlah tantangan yang perlu menjadi perhatian dunia pendidikan di era AI.

Pertama, banjir informasi dan hoaks. Kemampuan teknologi menghasilkan konten secara cepat membuat informasi palsu dapat dibuat semakin meyakinkan dan menyebar dalam waktu singkat.

Kedua, algoritma media digital yang dapat membuat seseorang lebih sering terpapar pandangan yang sama. Kondisi tersebut berpotensi mempersempit ruang dialog dan membuat masyarakat semakin sulit menerima perbedaan perspektif.

Ketiga, godaan mengambil jalan pintas. Kemudahan menggunakan AI untuk mengerjakan berbagai tugas berpotensi membuat seseorang melewati proses berpikir yang seharusnya dijalani. Jika tidak digunakan secara bijak, kondisi ini dapat berpengaruh terhadap kejujuran, ketekunan, dan integritas.

Keempat, ketimpangan akses teknologi. Perkembangan digital perlu diiringi perhatian terhadap pemerataan agar kemajuan teknologi tidak justru memperlebar kesenjangan di tengah masyarakat.

Karena itu, Yudian mendorong agar Pancasila ditempatkan sebagai kompas dalam menghadapi perkembangan teknologi.

Mahasiswa, kata dia, tidak cukup hanya memiliki kemampuan teknis dalam menggunakan AI. Mereka juga harus memiliki kemampuan memeriksa kebenaran informasi, memahami konsekuensi etis, serta menentukan batas penggunaan teknologi secara bertanggung jawab.

Selain literasi digital, Yudian menekankan pentingnya keteladanan dalam proses pendidikan.

Menurutnya, pembentukan karakter tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi. Karakter tumbuh melalui interaksi, pembiasaan, pengalaman, dan keteladanan manusia.

“Karakter itu menular lewat perjumpaan, dan tidak bisa diunduh,” pesan Yudian di hadapan peserta kuliah umum.

Ia juga mengajak mahasiswa untuk terus menjaga tradisi berpikir kritis dan bermusyawarah di lingkungan pendidikan.

Perbedaan pandangan, menurutnya, merupakan bagian dari proses pembelajaran. Namun, perbedaan tersebut perlu dihadapi dengan sikap santun, keterbukaan, dan semangat mencari titik temu.

Khusus kepada mahasiswa Program Studi Pendidikan Umum dan Karakter UMNU Kebumen, Yudian berpesan agar mereka mengambil peran strategis dalam memastikan perkembangan teknologi tidak membuat manusia kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya.

Ia juga mengaitkan nilai-nilai pendidikan di lingkungan Ma’arif NU dengan tantangan era digital. Tradisi yang menekankan adab sebelum ilmu, kerendahan hati, gotong royong, dan kecintaan terhadap tanah air dinilai tetap memiliki relevansi kuat dengan nilai-nilai Pancasila.

“Gunakan AI sebagai alat, bukan sebagai tuan,” tegasnya.(K24/*)


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.