KEBUMEN, Kebumen24.com – Lebih dari 230 guru di Kecamatan Karangsambung mengikuti pelatihan model pembelajaran yang digelar Program Studi Magister Manajemen Pendidikan Islam (S2 MPI) Pascasarjana IAINU Kebumen, Sabtu (22/8/2026).
Namun, kegiatan tersebut tidak diarahkan sekadar menjadi forum penyampaian teori atau menambah tumpukan materi pelatihan. Pesan yang justru mengemuka adalah bagaimana pengetahuan yang diperoleh guru benar-benar dibawa ke ruang kelas dan mampu mengubah pengalaman belajar siswa.
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) itu berlangsung di SDN 2 Plumbon, Kecamatan Karangsambung, mulai pukul 08.00 hingga 13.00 WIB. Agenda tersebut sekaligus menjadi pembuka Komunitas Belajar (Kombel) KKG-KKKS Kecamatan Karangsambung pada semester ganjil Tahun Ajaran 2026/2027.
Peserta berasal dari berbagai unsur pendidik, mulai guru kelas, guru Pendidikan Agama Islam (PAI), guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK), hingga pengurus Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS).
Besarnya jumlah peserta menjadi gambaran bahwa kebutuhan peningkatan kompetensi guru masih cukup tinggi. Tetapi, persoalan pendidikan tidak selesai hanya dengan memperbanyak pelatihan.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: setelah pelatihan selesai, apa yang berubah di ruang kelas?
Pertanyaan tersebut menjadi relevan karena keberhasilan pelatihan guru semestinya tidak diukur dari banyaknya peserta, materi yang disampaikan, sertifikat yang diterima, maupun dokumentasi kegiatan. Ukuran utamanya berada pada perubahan praktik pembelajaran dan pengalaman belajar yang diterima siswa.
Kegiatan dibuka Pengawas Sekolah Kecamatan Karangsambung, Suroto, S.Pd. Ia mengapresiasi kolaborasi antara komunitas guru dengan perguruan tinggi dalam memperkuat kompetensi pendidik, khususnya melalui pengenalan model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan saat ini.
Hal serupa disampaikan Pengawas Disdikpora Kecamatan Karangsambung, Nursoleh, S.Pd. Ia menekankan pentingnya implementasi hasil pelatihan agar pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti di ruang kegiatan.
Pesan tersebut menjadi salah satu poin penting dalam pelatihan. Sebab, perubahan kualitas pendidikan tidak lahir hanya dari teori yang dipahami guru, tetapi dari kemampuan guru menerjemahkan teori tersebut menjadi praktik yang sesuai dengan karakter siswa dan kondisi sekolah.
Tim PkM S2 MPI Pascasarjana IAINU Kebumen dipimpin Ketua Program Studi S2 MPI, Dr. Maryanto, M.Sc., bersama Dr. Nurhidayah, M.Pd., Dr. Eliyanto, M.Pd., dan Dr. Sudadi, M.Pd.I.
Keempat narasumber memperkenalkan sejumlah model pembelajaran yang dapat digunakan guru dengan menyesuaikan tujuan pembelajaran, karakteristik peserta didik, materi, serta konteks sekolah.
Dr. Maryanto mengawali materi dengan Project Based Learning (PjBL). Model tersebut tidak hanya diperkenalkan dari sisi konsep dan tahapan, tetapi dikaitkan dengan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) serta Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).
Melalui pendekatan tersebut, proyek pembelajaran tidak sebatas diarahkan untuk menghasilkan sebuah produk. Proses pembelajaran diharapkan sekaligus mampu mengembangkan kemampuan berpikir, kreativitas, karakter, kepedulian, kolaborasi, dan nilai-nilai kemanusiaan siswa.
Sementara itu, Dr. Nurhidayah, M.Pd. menyampaikan materi Problem Based Learning (PBL). Guru didorong menjadikan persoalan nyata sebagai pintu masuk pembelajaran.
Dengan demikian, siswa tidak sekadar menerima jawaban dari guru. Mereka dilatih mengenali persoalan, berpikir kritis, mencari berbagai alternatif solusi, bekerja sama, hingga mengambil keputusan.
Materi Inquiry Learning disampaikan Dr. Eliyanto, M.Pd. Model tersebut menempatkan proses bertanya, mencari informasi, melakukan penyelidikan, mengolah temuan, dan menarik kesimpulan sebagai bagian dari pengalaman belajar siswa.
Adapun Dr. Sudadi, M.Pd.I. memperkenalkan Discovery Learning, sebuah pendekatan yang mendorong siswa menemukan konsep atau pengetahuan melalui pengalaman belajar aktif dengan tetap memperoleh bimbingan dari guru.
Antusiasme peserta terlihat dalam diskusi dan sesi tanya jawab yang berlangsung dinamis. Berbagai pengalaman guru dalam menghadapi karakter siswa dan persoalan pembelajaran di sekolah turut menjadi bahan pembahasan.
Dari sini terlihat bahwa komunitas belajar sebenarnya memiliki peluang yang jauh lebih besar daripada sekadar menjadi tempat menyampaikan materi.
Kombel dapat menjadi ruang bagi guru untuk berbagi praktik baik, mencoba pendekatan pembelajaran, melakukan refleksi, mengevaluasi hasil belajar, sekaligus mencari solusi terhadap persoalan nyata yang mereka hadapi.
Sebab, pelatihan selama beberapa jam tidak serta-merta mengubah kualitas pembelajaran. Dibutuhkan tindak lanjut, pendampingan, evaluasi, dan keberanian guru untuk mencoba serta memperbaiki praktik pembelajaran secara konsisten.
Begitu pula dengan PjBL, PBL, Inquiry Learning, maupun Discovery Learning. Keempat model tersebut tidak semestinya diperlakukan sebagai resep yang harus diterapkan pada setiap kondisi.
Guru tetap dituntut mampu memilih model yang paling sesuai dengan tujuan pembelajaran, karakter peserta didik, materi, sumber daya, serta kondisi sekolah.
Dengan kata lain, pendidikan tidak membutuhkan guru yang sekadar hafal banyak model pembelajaran, tetapi guru yang mampu membaca situasi dan memilih model yang tepat untuk membuat siswa benar-benar belajar.
Ketua Prodi S2 MPI Pascasarjana IAINU Kebumen, Dr. Maryanto, M.Sc., mengatakan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk membawa pengetahuan akademik agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kami ingin kegiatan ini tidak berhenti pada penyampaian materi. Yang lebih penting adalah bagaimana guru dapat membawa pengetahuan yang diperoleh ke kelas, menyesuaikannya dengan kebutuhan peserta didik, kemudian melakukan refleksi dan evaluasi. Perguruan tinggi harus hadir tidak hanya melalui teori, tetapi juga melalui kontribusi nyata terhadap persoalan pendidikan di masyarakat,” ujar Dr. Maryanto.
Ia berharap kolaborasi dengan KKG-KKKS Kecamatan Karangsambung dapat berkembang menjadi kerja sama berkelanjutan yang menghasilkan praktik pembelajaran yang relevan dan berdampak bagi siswa.
“Komunitas belajar seharusnya menjadi ruang tumbuh bersama. Guru dapat saling berbagi pengalaman, menemukan solusi, dan mengembangkan pembelajaran yang lebih aktif, kontekstual, mendalam, serta tetap memperhatikan karakter dan kebutuhan siswa,” tambahnya.
Kolaborasi S2 MPI Pascasarjana IAINU Kebumen dengan KKG-KKKS Kecamatan Karangsambung pun diharapkan tidak berhenti pada agenda pembukaan semester.
Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk membangun budaya belajar guru yang produktif, reflektif, kolaboratif, dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, keberhasilan pelatihan guru bukan ditentukan oleh seberapa ramai kegiatan, seberapa banyak materi disampaikan, atau berapa sertifikat yang dibagikan. Keberhasilannya baru benar-benar terlihat ketika guru kembali ke kelas dengan cara berpikir yang lebih baik, pembelajaran yang lebih relevan, dan siswa yang memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna.K24/)*
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.















