JAKARTA, Kebumen24.com — Bermain game pada dasarnya merupakan aktivitas hiburan yang dapat memberikan kesenangan. Namun, ketika penggunaan game dan gawai tidak lagi terkontrol, hiburan tersebut dapat berubah menjadi kebiasaan yang sulit dikendalikan dan berpotensi mengganggu kesehatan mental maupun kehidupan sosial.
Psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Novi Poespita Candra, mengingatkan pentingnya kemampuan mengelola diri ketika menggunakan gawai maupun bermain game. Menurutnya, penggunaan teknologi tanpa kesadaran, kemampuan berpikir kritis, dan manajemen diri dapat memberikan pengaruh terhadap kondisi kejiwaan.
Game dirancang dengan berbagai target, tantangan, serta sistem penghargaan yang dapat membuat pemain merasa senang dan terdorong untuk terus bermain. Kondisi tersebut berkaitan dengan respons kimiawi dalam tubuh, termasuk dopamin yang berhubungan dengan rasa senang dan penghargaan.
Masalah muncul ketika dorongan untuk terus bermain mulai menggeser aktivitas penting lainnya. Waktu untuk belajar, beristirahat, berolahraga, berkomunikasi dengan keluarga, hingga bersosialisasi dapat berkurang.
Novi menyebut sejumlah riset menemukan adanya hubungan antara kecanduan gawai dan game dengan rendahnya kemampuan sosialisasi dan komunikasi. Kondisi tersebut juga dapat berkaitan dengan rendahnya empati serta kemampuan menghadapi dan menyelesaikan persoalan dalam kehidupan nyata.
Bukan Sekadar Persoalan Waktu
Kecanduan game tidak semestinya hanya dilihat sebagai persoalan seseorang terlalu lama memegang ponsel. Persoalan yang lebih serius adalah ketika seseorang mulai kehilangan kendali atas kebiasaannya dan mengabaikan kebutuhan maupun tanggung jawab lain.
Pada anak dan remaja, kondisi tersebut menjadi perhatian lebih serius. Fase pertumbuhan mereka membutuhkan interaksi sosial, aktivitas fisik, pendidikan, serta pendampingan keluarga. Jika sebagian besar waktu justru terserap oleh dunia digital, perkembangan kemampuan sosial dan pengelolaan emosi dapat ikut terdampak.
Novi juga mengingatkan bahwa pada kondisi tertentu, seseorang yang mengalami kecanduan game berpotensi menghadapi stres dan depresi. Anak dan remaja dinilai menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian karena masih berada dalam proses pencarian dan pembentukan identitas diri.
Karena itu, membatasi penggunaan gawai bukan berarti melarang anak dan remaja menikmati teknologi. Yang jauh lebih penting adalah membangun kemampuan mengendalikan diri serta memastikan aktivitas digital tetap seimbang dengan kehidupan nyata.
Keluarga Punya Peran Penting
Orang tua tidak cukup hanya memberikan larangan. Pendampingan, komunikasi, pengawasan, dan pemberian alternatif aktivitas menjadi bagian penting dalam mencegah penggunaan game secara berlebihan.
Novi menyarankan agar anak dan remaja memperbanyak sosialisasi serta aktivitas fisik, termasuk olahraga. Dengan demikian, mereka tetap memiliki ruang untuk memperoleh pengalaman, membangun hubungan sosial, dan menemukan kesenangan di luar dunia digital.
Kecanduan game juga perlu dipahami secara proporsional. Tidak semua orang yang bermain game dalam waktu lama otomatis mengalami gangguan kejiwaan. Namun, ketika aktivitas bermain mulai sulit dikendalikan dan menimbulkan dampak nyata terhadap kehidupan sehari-hari, kondisi tersebut patut menjadi perhatian.
Kasus Ekstrem Jadi Peringatan
Dampak penggunaan game secara tidak terkendali bahkan pernah muncul dalam kasus kekerasan yang menjadi perhatian publik. Tempo melaporkan kasus seorang ayah di Manado, Sulawesi Utara, yang menganiaya bayinya saat sedang bermain game online Mobile Legends.
Menurut keterangan yang diberitakan saat itu, pelaku mengaku emosi setelah kalah bermain dan terganggu oleh tangisan bayinya. Bayi berusia tujuh bulan tersebut kemudian mengalami kekerasan hingga akhirnya meninggal dunia.
Kasus tersebut tentu tidak dapat dijadikan bukti bahwa bermain game secara langsung menyebabkan seseorang melakukan kekerasan. Namun, peristiwa itu menunjukkan bahwa pengelolaan emosi, kemampuan mengendalikan diri, serta penggunaan teknologi secara sehat merupakan persoalan yang tidak boleh disepelekan.
Teknologi seharusnya menjadi alat yang membantu manusia, bukan sesuatu yang mengambil alih kendali atas waktu, perhatian, emosi, dan kehidupan sosial penggunanya.
Bagi anak dan remaja, pesan sederhananya jelas: boleh bermain game, tetapi jangan sampai game yang mengatur kehidupan.
Sumber: TEMPO.CO, artikel “Dampak Buruk Kecanduan Game, Gangguan Kejiwaan dan Kurang Sosialisasi”, 11 Februari 2023.
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.















