Oleh: Mustofa, Ika Suhartati, dan Indah Kory’ah || Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman
Di tengah berbagai tantangan kesehatan yang dihadapi generasi muda, anemia masih menjadi salah satu masalah yang sering luput dari perhatian. Padahal, kondisi kekurangan sel darah merah atau hemoglobin ini banyak dialami oleh remaja putri dan dapat berdampak serius terhadap kesehatan, prestasi belajar, hingga kualitas hidup mereka di masa depan.
Gejala anemia memang sering dianggap biasa, seperti mudah lelah, pusing, mengantuk, wajah pucat, atau sulit berkonsentrasi saat belajar. Namun jika dibiarkan, anemia dapat menghambat tumbuh kembang remaja dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan reproduksi ketika mereka memasuki usia dewasa dan masa kehamilan. Karena itu, pemerintah menjadikan pencegahan anemia sebagai salah satu langkah strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus menekan angka stunting di Indonesia.
Sayangnya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kepatuhan remaja putri dalam mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) masih tergolong rendah. Sebagian remaja mengaku sering lupa mengonsumsi TTD, merasa tidak membutuhkannya, atau khawatir terhadap efek samping seperti mual. Di sisi lain, kebiasaan melewatkan sarapan dan rendahnya konsumsi makanan yang mengandung zat besi semakin meningkatkan risiko terjadinya anemia.
Melihat kondisi tersebut, diperlukan pendekatan yang lebih kreatif, edukatif, dan melibatkan berbagai pihak agar upaya pencegahan anemia dapat berjalan lebih efektif. Salah satu inovasi yang hadir untuk menjawab tantangan tersebut adalah Program REBANA (Remaja Bebas Anemia) yang diterapkan di SMP Negeri 2 Buluspesantren.
Program REBANA merupakan model pemberdayaan remaja berbasis sekolah dan masyarakat yang menggabungkan edukasi kesehatan, dukungan teman sebaya, pemasaran sosial, serta keterlibatan keluarga dalam membangun perilaku hidup sehat. Program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan tentang anemia, tetapi juga mendorong perubahan perilaku yang berkelanjutan.
Salah satu kegiatan unggulan dalam program ini adalah Jumat Minum TTD Bersama. Melalui kegiatan tersebut, para siswi mengonsumsi Tablet Tambah Darah secara rutin di lingkungan sekolah dengan pendampingan guru dan petugas kesehatan. Kegiatan ini bertujuan membangun kebiasaan positif sekaligus mengurangi risiko lupa mengonsumsi TTD.
REBANA juga mengembangkan peran Duta REBANA sebagai edukator sebaya di setiap kelas. Para duta ini bertugas memberikan informasi sederhana mengenai anemia, mengingatkan teman-temannya untuk mengonsumsi TTD, serta menjadi teladan dalam menerapkan pola hidup sehat. Pendekatan teman sebaya dinilai sangat efektif karena remaja cenderung lebih mudah menerima pesan dan pengaruh positif dari lingkungan pertemanannya.
Agar pesan kesehatan lebih mudah diterima, REBANA memanfaatkan berbagai media yang dekat dengan kehidupan remaja masa kini. Kampanye dilakukan melalui video pendek, poster edukatif, leaflet, media sosial sekolah, kartu kontrol konsumsi TTD, hingga berbagai tantangan kreatif bertema pencegahan anemia. Pesan yang disampaikan pun dikemas secara positif dengan menonjolkan manfaat langsung yang dapat dirasakan remaja, seperti tubuh lebih bertenaga, lebih fokus saat belajar, tidak mudah lelah, dan lebih percaya diri dalam beraktivitas.
Keberhasilan pencegahan anemia tentu tidak dapat dibebankan kepada sekolah semata. Peran keluarga menjadi faktor penting dalam membentuk kebiasaan sehat pada remaja. Oleh karena itu, Program REBANA turut melibatkan orang tua melalui grup WhatsApp sebagai media edukasi, pengingat konsumsi TTD, serta kampanye pentingnya sarapan sehat dan konsumsi makanan bergizi seimbang. Dukungan keluarga terbukti mampu meningkatkan kepatuhan remaja dalam menjalankan perilaku hidup sehat.
Lebih dari sekadar program kesehatan sekolah, REBANA merupakan gerakan pemberdayaan yang menempatkan remaja sebagai agen perubahan. Melalui program ini, remaja diajak untuk mengenali masalah kesehatan yang mereka hadapi, mengambil keputusan yang tepat, serta menginspirasi teman-teman di sekitarnya untuk menerapkan gaya hidup sehat.
Kolaborasi antara sekolah, keluarga, puskesmas, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pencegahan anemia secara berkelanjutan. Dengan sinergi yang kuat, upaya membangun generasi yang sehat dan berkualitas akan semakin mudah diwujudkan.
Generasi muda yang sehat adalah investasi berharga bagi bangsa. Pencegahan anemia sejak usia remaja bukan hanya bertujuan mengurangi angka kesakitan, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam mempersiapkan generasi yang cerdas, produktif, berprestasi, dan siap menghadapi masa depan.
Karena itu, mari mulai dari langkah sederhana namun berdampak besar: rutin mengonsumsi Tablet Tambah Darah, sarapan sehat setiap hari, serta memperbanyak konsumsi makanan yang kaya zat besi.
Karena remaja sehat hari ini adalah generasi hebat di masa depan.
Aja Lemes, Ayo Ngombe TTD!
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















