KEBUMEN, Kebumen24.com – Kabupaten Kebumen kembali menegaskan dirinya sebagai salah satu episentrum penting perkembangan seni batu alam atau suiseki di Indonesia. Hal itu terlihat dari gelaran akbar Geo Suiseki Samudra Purba – Piala Bupati Kebumen 2026 yang berlangsung di SMK TKM Pertambangan Kebumen pada 3–10 Mei 2026, dan sukses menyedot perhatian ratusan pecinta batu dari berbagai daerah di Indonesia.
Pameran Geo Suiseki Samudra Purba sendiri resmi dibuka Bupati Kebumen, Lilis Nuryani, Jumat (8/5/2026). Pembukaan ditandai dengan pemotongan pita.
Ajang berskala nasional ini menghadirkan 351 batu suiseki yang dipamerkan sekaligus dilombakan dalam berbagai kategori, mulai dari gunung hingga sungai, serta dari bentuk panorama hingga simbolik dan batu-batu unik lainnya. Tidak sekadar kontes, kegiatan ini juga menjadi ruang pertemuan antara seni, filosofi alam, edukasi geologi, hingga promosi potensi Geopark Kebumen di mata dunia.
Ketua Bidang Suiseki Seluruh Indonesia sekaligus perwakilan PBBI Pusat, Rocky Suryahadi, memberikan apresiasi tinggi terhadap pelaksanaan kegiatan ini. Ia menilai, Kebumen memiliki ekosistem komunitas suiseki yang paling solid dibandingkan daerah lain di Indonesia.
“Semangat teman-teman Kebumen sangat luar biasa. Kekompakan seperti ini mungkin sulit ditemukan di daerah lain. Saya sangat salut kepada panitia dan komunitas suiseki Kebumen,” ujar Rocky.
Menurutnya, dari total 351 batu yang dipamerkan, persaingan berlangsung sangat ketat karena seluruh peserta menampilkan kualitas terbaik. Kategori yang dilombakan terbagi dalam tujuh kelas besar, meliputi batu gunung dan batu sungai, masing-masing dengan subkategori panorama dan simbolik, serta kelas mix, unik, small, hingga batu gambar.
Rocky menegaskan bahwa batu-batu asal Kebumen sudah dikenal luas hingga mancanegara. Jenis seperti rijang, palimanan, hingga batu giok menjadi ciri khas yang banyak diburu kolektor.
“Batu-batu Kebumen sudah dikoleksi di seluruh Nusantara hingga manca negara. Potensinya sangat luar biasa,” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa dalam dunia suiseki, batu tidak boleh mengalami rekayasa manusia. Jika sudah dipoles atau dibentuk, maka tidak lagi disebut suiseki, melainkan biseki. Keaslian bentuk alami menjadi nilai utama yang menentukan kualitas karya.
“Suiseki adalah batu alami yang memiliki bentuk, alur, atau gambar indah secara natural. Kalau sudah diubah tangan manusia, itu bukan suiseki lagi,” tegasnya.

Dalam penilaiannya, batu sungai biasanya unggul dalam kehalusan permukaan dan warna alami, sementara batu gunung lebih menonjol dalam bentuk yang dramatis dan artistik. Hal ini menjadikan setiap karya memiliki karakter unik yang tidak bisa dibandingkan secara sederhana.
Menariknya, tren terbaru menunjukkan Sulawesi mulai muncul sebagai wilayah potensial untuk batu kategori gambar, sementara Sumatera Barat masih kuat dalam kategori batu panorama dari aliran sungai besar seperti Ombilin dan Batanghari.
“Indonesia ini masih sangat kaya potensi batu alam. Banyak daerah yang terus ditemukan memiliki karakter batu unik dan bernilai seni tinggi,” jelas Roki.
Tahun ini, penyelenggaraan Geo Suiseki Samudra Purba terasa semakin istimewa karena tidak hanya menghadirkan pameran dan lomba, tetapi juga geology tour ke berbagai situs geologi penting di Kebumen. Peserta diajak mengunjungi BRIN Karangsambung, Sungai Luk Ulo, hingga Lava Bantal Watukelir yang dikenal sebagai laboratorium geologi alam terbesar di Asia Tenggara.

Ketua panitia, Triyogo Hadi, menyebut antusiasme peserta jauh melampaui ekspektasi.
“Ini adalah ajang perdana tingkat nasional yang kami gelar di Kebumen. Selain pameran, peserta juga kami ajak mengikuti geologi tour ke sejumlah situs penting,” ujarnya.
Pameran ini secara resmi dibuka oleh Bupati Kebumen, Lilis Nuryani, yang menegaskan dukungan pemerintah daerah terhadap pengembangan seni dan budaya berbasis potensi alam lokal.
Dari sisi ekonomi, suiseki terbukti memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Roki menyebut harga batu bisa berkisar dari ratusan ribu hingga ratusan juta rupiah, tergantung karakter dan nilai estetikanya.
“Dalam dunia seni, harga tidak ada batasnya. Ketika penjual dan pembeli sama-sama cocok, transaksi bisa terjadi dengan nilai yang sangat tinggi,” ungkapnya.
Ia bahkan mengungkapkan bahwa pada era 1990-an pernah terjadi transaksi batu hingga menyentuh 100 ribu dolar AS, menunjukkan bahwa suiseki bukan sekadar hobi, tetapi juga investasi seni bernilai global.
Dalam ajang ini, sejumlah karya terbaik berhasil mencuri perhatian. Untuk kategori Mountain Landscape, gelar Best in Show diraih Bun Long (Kebumen) dengan karya “Bukit Nusantara”. Sementara kategori lain dimenangkan peserta dari berbagai daerah seperti Bekasi, Jakarta, Tangerang, hingga Bandung.
Salah satu yang paling menyita perhatian adalah karya “Shelter of The Ghost Island” dari Aziz Johans (Kebumen) yang berhasil menjuarai kategori River Stone Landscape, sekaligus memperkuat dominasi Kebumen dalam kompetisi ini.
Ajang Geo Suiseki Samudra Purba 2026 membuktikan bahwa batu bukan sekadar benda mati. Di tangan para pecinta suiseki, batu berubah menjadi karya seni yang menyimpan cerita tentang perjalanan bumi, filosofi kehidupan, dan keindahan alam yang lahir tanpa campur tangan manusia.
Lebih dari itu, kegiatan ini juga menjadi simbol persaudaraan komunitas, penguatan ekonomi kreatif, serta promosi potensi geologi Kebumen ke tingkat nasional bahkan internasional.
Daftar Juara Utama Geo Suiseki Samudra Purba 2026
Kategori Mountain Landscape
- Best in Show : Bun Long (Kebumen) – “Bukit Nusantara”
- Best 2 : MG (Bekasi) – “Tebing Pantai”
- Best 3 : Aziz Johans – “Shelter Beneath The Eruption”
Kategori Mountain Symbolic
- Best in Class : Christine (Bekasi) – “The Great Teacher of Consciousness”
- Best 2 : Yogi Kuda Hitam (Blitar) – “Poodle”
- Best 3 : Candra Wijaya (Jakarta) – “Kresna”
Kategori River Stone Landscape
- Best in Class : Aziz Johans (Kebumen) – “Shelter of The Ghost Island”
- Best 2 : Mervin (Jakarta) – “Extreme Cliff”
- Best 3 : Yogi Kuda Hitam (Blitar) – “Labuhan Bajo Island”
Kategori Mixed Small
- Best in Class : Sunaryo (Kebumen) – “Pegunungan Terjal”
- Best 2 : Rocky S (Jakarta) – “Stair Way to Heaven”
- Best 3 : Rocky S (Jakarta) – “Wise Man”
Kategori Mixed Pattern
- Best in Class : Johan Lim (Tangerang) – “The Venus of Indonesia”
- Best 2 : Johan Lim (Tangerang) – “Take Your Cross and Follow Me”
- Best 3 : Johan Lim (Tangerang) – “The Twin Peaks”
Kategori Mixed Unique
- Best in Class : H. Hasan (Bandung) – “Sosok”
- Best 2 : Sigid – “Tawon Seven”
- Best 3 : Mervin (Ungaran) – “Gerbang Sunyi”
Best Favorite Pilihan Bupati Kebumen
- Gus Harry Al Hasani (Kebumen) – “Red Island”
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















