SEJARAH

Sejarah Dusun Brangkal Gombong: Dari Pesantren hingga Perjuangan Pangeran Diponegoro

276
×

Sejarah Dusun Brangkal Gombong: Dari Pesantren hingga Perjuangan Pangeran Diponegoro

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

KEBUMEN, Kebumen24.com – Dusun Brangkal memiliki sejarah panjang yang terkait erat dengan perjuangan Pangeran Diponegoro dan perkembangan pesantren di Yogyakarta dan sekitarnya. Cerita ini berdasarkan pemaparan Eyang Mochamad Joesoef Poerboadiwioso dan Slamet Poerbo, anaknya.

Bagus Abdul Hamid, tokoh sentral dalam sejarah ini, memulai pendidikan agamanya di beberapa pesantren, yaitu Ponorogo, Prambanan, dan Salaman. Setelah merasa cukup menguasai ilmu agama, ia kembali ke Yogyakarta dan menulis Al-Qur’an lengkap 30 juz.

Kemudian, Bagus Abdul Hamid mendirikan pesantren di Tegalrejo, utara Yogyakarta, yang mulai berkembang pesat dengan bantuan para kyai seperti Kyai Nuryadin, Kyai Moch Dja’far, dan Kyai Sentot Alibasah. Moch Syafei, yang juga santri di sana, menikah dengan adik Bagus Abdul Hamid, Bra Siti Maryam, sehingga hubungan keluarga dan pesantren semakin erat.

Bagus Abdul Hamid sempat dipanggil oleh ayahnya, Sultan Hamengkubuwono III, dan diberi nama Kanjeng Pangeran Diponegoro. Ia dicalonkan sebagai pengganti ayahnya menjadi Hamengkubuwono IV, namun menolak untuk tetap fokus membesarkan pesantrennya.

Konflik terjadi saat pemerintah kolonial Belanda hendak membangun rel kereta api Yogya–Magelang melewati tanah pesantren. Penolakan Diponegoro melalui santrinya memicu peperangan antara pasukan Belanda di bawah Jenderal De Kock melawan pasukan santri yang dipimpin Kyai Sentot Alibasah. Santri kemudian mundur dan menempati wilayah strategis yang diapit Sungai Kemit, sehingga lahirlah nama “Brangkal” dari istilah Sebrang Kali.

Meskipun diserbu berkali-kali, pasukan santri tetap bertahan di Brangkal. Perundingan dilakukan, namun Pangeran Diponegoro akhirnya ditangkap dan diasingkan ke Makassar. Pasca perang, pemerintahan lokal diatur kembali untuk mencegah konflik lanjutan. Kyai Moch Syafei kemudian menjadi guru ngaji di Brangkal dan meneruskan perjuangan pendidikan dan keagamaan di wilayah tersebut.

Generasi berikutnya, termasuk Kyai Hasan Mukmin, Kyai Siradjdjudin, dan Kyai Abdoessakoer, melanjutkan tradisi pendidikan Islam dan kepemimpinan lokal. Kyai Siradjdjudin bahkan mendirikan pesantren di Brangkal di lokasi markas Pangeran Diponegoro dan menggerakkan santri untuk melawan Belanda sesuai doktrin Diponegoro, hingga tertangkap dan dipenjara Belanda pada 1930 di Magelang.

Sejarah ini menegaskan peran Dusun Brangkal sebagai pusat pendidikan Islam dan perlawanan terhadap kolonialisme, yang diwariskan secara turun-temurun hingga kini.

Sumber: Klopogodo – Sejarah Dusun Brangkal


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.