KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Jatimulyo, Kecamatan Kuwarasan, Kabupaten Kebumen, menyimpan kisah legenda yang hingga kini masih dipercaya masyarakat setempat sebagai bagian dari sejarah awal terbentuknya desa tersebut.
Berdasarkan catatan sejarah desa, pada masa lampau wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Jatimulyo merupakan hutan jati yang luas dan masih jarang dihuni. Kawasan tersebut terdiri dari beberapa wilayah, di antaranya Wonosari, Gendar, Jatisawit, Gatel, dan Jeboran.
Dalam kisah yang berkembang, datang dua pengembara kakak beradik bernama Ki Keta Suta dan Ki Keta Sudiro. Keduanya disebut berasal dari Yogyakarta dan merupakan putra seorang Tumenggung dari Kasunanan Yogyakarta Hadiningrat. Mereka mengembara ke arah barat untuk mencari jati diri.
Setibanya di wilayah tersebut, keduanya beristirahat karena kelelahan. Saat itu, daerah tersebut belum memiliki pemimpin dan hanya dihuni oleh beberapa warga. Ki Keta Suta dan Ki Keta Sudiro kemudian meminta izin kepada penduduk setempat untuk tinggal sementara.
Sebagai pengembara yang gemar bertapa, keduanya lalu memohon izin untuk melakukan semedi di sebuah kawasan hutan jati di bagian selatan wilayah, yang saat ini dikenal sebagai area Makam Jatimulyo.
Dalam pertapaannya, mereka mendapatkan wangsit untuk menetap dan menjaga wilayah tersebut, serta turut membantu masyarakat dalam menghadapi ancaman penjajahan Belanda. Seiring waktu, mereka berbaur dengan masyarakat dan mulai membuka hutan dengan menebang pohon jati secara bertahap untuk memudahkan akses antarwilayah.
Upaya tersebut perlahan mengubah kawasan yang sebelumnya berupa hutan lebat menjadi wilayah yang lebih tertata, aman, bersih, dan layak dihuni.
Dalam perjalanan hidupnya, Ki Keta Suta dan Ki Keta Sudiro sempat kembali ke Yogyakarta untuk membantu ayahnya dalam perjuangan di wilayah Karanganyar. Namun setelah itu, keduanya kembali ke wilayah tersebut dan melanjutkan pengabdiannya hingga akhir hayat.
Setelah wafat, keduanya dimakamkan di wilayah yang kini dikenal sebagai Makam Jatimulyo. Sebelum meninggal, mereka disebut pernah menyampaikan bahwa wilayah yang terdiri dari lima bagian tersebut dinamakan “Desa Jatimulyo”.
Memasuki masa penjajahan Jepang pada tahun 1943, masyarakat desa mengalami masa sulit akibat wabah penyakit dan kelaparan. Setahun kemudian, tepatnya pada 1944, untuk pertama kalinya diadakan tradisi selamatan desa atau Suran oleh seorang klerek bernama Den Bei.
Setelah Indonesia merdeka pada 1945, Desa Jatimulyo mulai menata sistem pemerintahan. Pada tahun 1946, untuk pertama kalinya dilaksanakan pemilihan kepala desa secara demokratis, yang dimenangkan oleh Sanmustawi sebagai kepala desa pertama.
Legenda ini hingga kini masih menjadi bagian dari identitas dan sejarah budaya masyarakat Desa Jatimulyo, sekaligus menjadi pengingat akan perjalanan panjang terbentuknya desa tersebut.
Sumber: https://jatimulyo.keckuwarasan.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/111/89
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















