SEJARAH

Tak Banyak yang Tahu! Ini Asal-usul Desa Tugu Buayan dari Alas Sibosok

288
×

Tak Banyak yang Tahu! Ini Asal-usul Desa Tugu Buayan dari Alas Sibosok

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Tugu merupakan salah satu desa yang berada di wilayah Kecamatan Buayan, Kabupaten Kebumen. Desa ini dikenal sebagai kawasan perbukitan yang asri dan indah, serta terletak di bagian paling barat Kecamatan Buayan yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Rowokele.

Dengan luas wilayah sekitar 494,684 hektare, Desa Tugu menjadi salah satu desa terluas kedua di Kecamatan Buayan. Secara administratif, desa ini terbagi menjadi beberapa wilayah perdukuhan, di antaranya Dukuh Tugu 1, Dukuh Sumberan, Dukuh Krinjingan, Dukuh Kaliori, Dukuh Kalisema, dan Dukuh Prigi.

Berdasarkan penuturan narasumber setempat, sejarah Desa Tugu berawal dari kisah tokoh legendaris Mbah Buyut Bandayuda. Ia dipercaya sebagai sosok yang mendapat perintah dari Kepala Sitenan Buayan untuk membuka hutan (babat alas) di wilayah pegunungan sebelah barat Buayan, tepatnya di kawasan Alas Sibosok.

Alas Sibosok yang berada di perbatasan Desa Banyumudal dan Desa Kalisari, dahulu dikenal sebagai sebuah danau kecil yang tidak pernah surut. Danau tersebut menjadi sumber air penting bagi masyarakat sekitar. Namun, karena kebutuhan pertanian yang semakin meningkat, tokoh masyarakat Desa Kalisari pada masa itu melakukan upaya pembelahan danau atau dikenal dengan istilah “bedelan”. Dampaknya, hingga kini Desa Kalisari dikenal tidak pernah mengalami kekurangan air.

Dalam proses babat alas, Mbah Bandayuda menemukan sebuah batu purba berbentuk kepala yang diyakini sebagai petilasan masa lampau. Karena bentuknya menyerupai tugu, maka wilayah tersebut kemudian dinamakan Desa Tugu, yang kini dikenal sebagai bagian dari Kecamatan Buayan sekaligus berbatasan dengan Kecamatan Rowokele.

Putra Mbah Bandayuda yang bernama Klantungmaya juga memiliki peran penting dalam sejarah desa ini. Ia menyusuri wilayah ke arah barat dan menemukan aliran air yang mengalir melalui sebuah air terjun yang tampak seperti menggantung dari kejauhan. Tempat tersebut kemudian dikenal sebagai Curug Gantung, yang kini menjadi Dukuh Curugintung. Di wilayah ini, Klantungmaya lebih dikenal dengan sebutan Mbah Klantung.

Selain Dukuh Curugintung, terdapat pula Dukuh Sumberan yang memiliki nilai historis dalam perkembangan agama Islam. Dukuh ini diyakini sebagai pusat awal penyebaran Islam di wilayah tersebut oleh seorang tokoh bernama Syekh Maulana. Di tempat ini pula berdiri langgar soko papat pertama yang diberi nama Al-Huda sebagai pusat ibadah dan dakwah.

Penamaan dukuh lainnya juga memiliki latar belakang tersendiri. Dukuh Kaliori, misalnya, dinamakan demikian karena banyaknya tanaman bambu jenis ori yang tumbuh di sepanjang aliran sungai. Sementara Dukuh Krinjingan dikenal karena banyaknya bambu krinjing yang dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan kerajinan seperti keranjang dan gebog.

Dukuh Prigi dinamai oleh Mbah Ijo karena wilayah tersebut memiliki banyak sumber mata air jernih. Sedangkan Dukuh Kalisema mendapat nama dari banyaknya aliran sungai kecil atau “kali semu” yang terdapat di daerah tersebut.

Sejarah Desa Tugu ini menjadi bagian penting dari identitas dan kearifan lokal masyarakat setempat yang diwariskan secara turun-temurun melalui cerita lisan.

Sumber: Website resmi Desa Tugu – Website Desa Tugu Buayan


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.