KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Mergosono, yang berada di wilayah Kecamatan Buayan, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang yang berakar dari masa penjajahan hingga perkembangan pemerintahan desa modern saat ini.
Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, asal-usul Desa Mergosono bermula pada periode tahun 1825 hingga 1830, saat masa penjajahan Belanda. Dikisahkan, seorang bangsawan bernama Mbah Klantung melarikan diri dari kejaran tentara Belanda dan tiba di wilayah yang saat itu masih berupa hutan belantara dengan banyak binatang buas.
Pada tahun 1830, kawasan tersebut mulai dibuka menjadi permukiman. Nama “Mergosono” sendiri diyakini berasal dari bahasa Jawa, yakni “margo” yang berarti jalan dan “sono” yang diartikan sebagai anjing atau serigala, merujuk pada banyaknya hewan liar di wilayah tersebut pada masa awal pembukaan.
Seiring waktu, permukiman di Desa Mergosono berkembang pesat dengan datangnya penduduk dari berbagai wilayah. Desa ini kemudian dipimpin oleh Raden Mangun Dimejo sebagai lurah pertama, yang dipilih melalui sistem “dodokan” pada masa penjajahan Belanda. Mayoritas masyarakat saat itu bekerja sebagai petani, namun kehidupan mereka belum sejahtera karena hasil pertanian harus dijual kepada tengkulak yang merupakan kaki tangan penjajah dengan harga murah.
Masa pemerintahan Raden Mangun Dimejo berakhir pada tahun 1942, seiring berakhirnya kekuasaan Belanda di Indonesia. Kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh Sastro Humarjo sebagai kepala desa kedua pada periode 1942–1945, saat Jepang mengambil alih kekuasaan. Pada masa ini, masyarakat mengalami penderitaan berat akibat paceklik dan perampasan hasil pertanian oleh penjajah Jepang.
Selanjutnya, kepemimpinan desa dipegang oleh Kartameja Sapari pada periode 1954–1973. Ia dikenal sebagai tokoh yang disegani dan juga dipercaya sebagai “glondong” yang membawahi lima desa. Pada masa ini, kondisi keamanan belum sepenuhnya stabil karena masih adanya upaya penjajahan kembali dan berbagai pemberontakan di daerah.
Setelah itu, kepemimpinan dilanjutkan oleh Hadi Suroso (1974–1988) yang terpilih secara demokratis. Pada masa ini, kondisi negara mulai stabil sehingga pembangunan desa dapat berjalan dengan baik. Penerusnya, G. Sujasmin menjabat pada periode 1989–1999, kemudian Sugiyono (1999–2007), Kasiran (2007–2013), dan Sayono (2013–2019).
Saat ini, kepemimpinan Desa Mergosono kembali dipegang oleh Kasiran sebagai kepala desa, melanjutkan pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat.
Perjalanan panjang Desa Mergosono menjadi bukti bagaimana sebuah wilayah yang dulunya hutan belantara dapat berkembang menjadi desa dengan kehidupan masyarakat yang semakin maju dari masa ke masa.
Sumber: Website resmi Desa Mergosono
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















