KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Karangsari, yang terletak di Kecamatan Buayan, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang yang bermula dari penggabungan dua desa, yakni Desa Trenggulun dan Desa Karangkumbang.
Pada masa lampau, kedua desa tersebut berdiri terpisah. Desa Trenggulun berada di bagian selatan, sementara Desa Karangkumbang terletak di wilayah utara. Keduanya berada di lereng timur pegunungan yang kini dikenal sebagai kawasan Karst Gombong Selatan. Meski terpisah secara wilayah, masyarakat kedua desa hidup berdampingan secara rukun, menjunjung tinggi nilai gotong royong.
Berdasarkan legenda yang berkembang di masyarakat, Desa Trenggulun awalnya merupakan hutan yang dikenal angker. Seiring waktu, datang seorang tokoh dari Ngayogyakarta bernama Adipati Nurpangi, yang juga dikenal sebagai Mbah Sarapudin. Ia kemudian menjadi lurah pertama di desa tersebut hingga akhir hayatnya. Pada masa penjajahan Belanda, Desa Trenggulun berada di bawah pemerintahan kolonial.
Sementara itu, Desa Karangkumbang juga berawal dari kawasan hutan. Tokoh yang membuka wilayah ini adalah Mbah Citra Naya, yang berasal dari Surakarta Hadiningrat. Kepemimpinan desa kemudian dilanjutkan oleh putranya, Mbah Citra Muhamad, dan diteruskan lagi oleh Mbah Sagupitra. Seiring perkembangan, sistem pemilihan lurah mulai diterapkan, dan Mbah Tawiredja terpilih sebagai pemimpin desa.
Peristiwa penting dalam sejarah kedua desa terjadi pada masa kepemimpinan Mbah Kartanom. Pada tahun 1938, melalui pemilihan lurah dengan metode tradisional “dodokan” atau jongkok, Mbah Kartanom terpilih sebagai lurah. Di bawah kepemimpinannya, Desa Trenggulun dan Desa Karangkumbang resmi digabung menjadi satu wilayah bernama Desa Karangsari.
Setelah masa kepemimpinan Mbah Kartanom, jabatan lurah dilanjutkan oleh Mbah Mangun. Ia dikenal sebagai sosok yang berani dan disegani, bahkan oleh pihak penjajah Belanda. Mbah Mangun disebut kerap membela warganya, termasuk mengambil kembali warga yang ditangkap oleh Belanda untuk dikembalikan kepada keluarga mereka.
Kepemimpinan Desa Karangsari kemudian dilanjutkan oleh Bapak Tirtopawiro yang menjabat selama kurang lebih 32 tahun. Setelah itu, pada tahun 1989, jabatan kepala desa dipegang oleh Bapak Wagiman Mohamad Rosid selama dua periode.
Pada tahun 2007, kepemimpinan desa beralih kepada Bapak Suprapto, disusul oleh Bapak Teguh Imam Santosa yang terpilih pada tahun 2013. Pada tahun 2018, pemerintahan desa sempat dijabat oleh pejabat sementara dari kecamatan, yaitu Bapak Kasiran, selama kurang lebih satu tahun.
Selanjutnya, pada tahun 2019, Bapak Ngudiyono terpilih sebagai kepala desa dan memimpin Desa Karangsari hingga saat ini.
Sejarah panjang Desa Karangsari menjadi bukti kuatnya nilai persatuan dan gotong royong masyarakat, yang mampu menyatukan dua wilayah menjadi satu desa yang terus berkembang hingga kini.
Sumber: https://karangsari.kec-buayan.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/109/92
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















