SEJARAH

Menguak Sejarah Desa Semampir Buayan: Dari Hutan Kosong, Perang Diponegoro, hingga Tradisi yang Masih Hidup

344
×

Menguak Sejarah Desa Semampir Buayan: Dari Hutan Kosong, Perang Diponegoro, hingga Tradisi yang Masih Hidup

Sebarkan artikel ini
ilustrasi

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Semampir yang terletak di Kecamatan Buayan, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang yang berakar dari masa perjuangan Perang Diponegoro. Desa ini bermula dari kawasan hutan belantara yang kemudian berkembang menjadi permukiman dan desa yang padat penduduk seperti saat ini.

Berdasarkan cerita turun-temurun masyarakat, awal mula Desa Semampir tidak terlepas dari sosok Suromenggolo, yang diyakini sebagai salah satu pengikut Pangeran Diponegoro. Sekitar tahun 1830, setelah berakhirnya perang, Suromenggolo melarikan diri dari kejaran tentara Belanda dan tiba di wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Semampir.

Saat itu, wilayah tersebut masih berupa hutan belantara tanpa penghuni. Suromenggolo kemudian membuka lahan dan mendirikan permukiman sederhana yang menjadi cikal bakal Desa Semampir. Seiring berjalannya waktu, keturunannya berkembang dan diikuti oleh pendatang dari wilayah lain, sehingga terbentuk komunitas yang semakin besar dan padat.

Suromenggolo sendiri diperkirakan wafat sekitar tahun 1900-an dan dimakamkan di kawasan pemakaman Rawa Semut. Hingga kini, makam tersebut masih dianggap sebagai situs penting dan dikenang oleh masyarakat sebagai leluhur Desa Semampir.

Memasuki periode 1920-an hingga 1930-an, wilayah ini mulai mengalami perkembangan signifikan. Pembentukan desa secara administratif mulai dilakukan sekitar tahun 1925–1930. Sementara itu, pemilihan kepala desa pertama dilaksanakan pada tahun 1945 dengan metode unik yang dikenal sebagai “dodokan”, yakni warga memilih dengan cara jongkok di belakang calon kepala desa yang didukung.

Dalam pemilihan tersebut, Santa Wikrama terpilih sebagai kepala desa pertama. Proses demokrasi sederhana ini berjalan dengan tertib tanpa konflik, mencerminkan tingginya kesadaran dan partisipasi masyarakat sejak awal terbentuknya desa.

Selain sejarahnya, Desa Semampir juga dikenal dengan kekayaan adat, budaya, dan kehidupan sosial yang masih terjaga. Tradisi “Guyuban Desa” atau selamatan desa yang diisi pagelaran wayang kulit masih dilestarikan, meski kini dilaksanakan setiap dua tahun sekali. Budaya gotong royong atau sambatan juga menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat, terutama dalam kegiatan sosial dan pembangunan desa.

Dalam bidang keagamaan, seluruh masyarakat Desa Semampir beragama Islam. Kegiatan seperti yasinan rutin, pengajian mingguan, serta kegiatan muslimatan menjadi bagian dari kehidupan spiritual warga. Di sisi sosial, terdapat gerakan “Semampir Gemar Bersedekah (SGB)” yang menjadi wadah kepedulian masyarakat dalam membantu sesama.

Seiring perjalanan waktu, berbagai peristiwa penting turut mewarnai sejarah Desa Semampir. Di antaranya adalah dampak kekurangan pangan sebelum tahun 1945, pengaruh peristiwa G30S pada 1965, hingga bencana jebolnya Bendungan Sempor yang menyebabkan banjir. Di sisi lain, pembangunan infrastruktur seperti masjid, balai desa, jembatan, hingga fasilitas kesehatan terus dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sejarah Desa Semampir ini disusun oleh Pemerintah Desa bersama masyarakat melalui musyawarah RT, dusun, dan desa. Meski masih terdapat kekurangan, dokumen ini diharapkan dapat menjadi pijakan bagi generasi mendatang untuk terus menyempurnakan dan melestarikan sejarah desa.

Sumber: Pemerintah Desa Semampir melalui website resmi desa


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.