KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Rogodono di Kecamatan Buayan, Kabupaten Kebumen, menyimpan kisah panjang yang berpadu antara legenda dan perjalanan sejarah. Desa ini dikenal sebagai hasil penggabungan dua wilayah berbeda yang hingga kini tetap hidup rukun dalam keberagaman budaya dan tradisi.
Legenda Desa Rogodono
Secara etimologis, Rogodono berasal dari kata rogo yang berarti jiwa (dua) dan dono yang berarti pemberian atau bentuk. Nama ini menggambarkan penyatuan dua wilayah yang terpisah oleh Sungai Jatinegoro, yakni wilayah timur dan barat sungai, menjadi satu kesatuan desa.
Dalam cerita turun-temurun, disebutkan bahwa pada masa lalu datang tiga pengembara sakti dan bijaksana dari wilayah Piyungan, Yogyakarta, yaitu Bandayuda, Panji Prawira Yuda, dan Malangyuda. Mereka kemudian menetap di Dusun Golongan Kulon bersama keluarga mereka.
Sementara itu, seorang tokoh lain bernama Wira Capu, yang berasal dari Solo dan dikenal sebagai pejuang dengan julukan Kyai Dukuh, menetap di Dusun Karangputat Wetan.
Perbedaan latar belakang para tokoh ini turut memengaruhi corak budaya di masing-masing wilayah. Dusun Golongan dikenal dengan tradisi bernuansa keraton seperti seni tari lengger, sedangkan Dusun Karangputat memiliki tradisi bernuansa wali seperti kesenian wayang kulit.
Meski berbeda karakter, kedua wilayah hidup berdampingan secara damai. Keharmonisan ini terus terjaga hingga akhirnya kedua wilayah tersebut disatukan menjadi Desa Rogodono. Pada masa awal penyatuan, Djaenal Muhamad dipercaya sebagai kepala desa pertama.
Hingga kini, tradisi dari kedua wilayah tersebut masih dilestarikan, terutama dalam kegiatan merti desa (guyuban), yang menampilkan kesenian lengger dan wayang kulit sebagai simbol persatuan budaya.
Sejarah Perkembangan Desa
Perjalanan sejarah Desa Rogodono juga diwarnai berbagai peristiwa penting, baik yang bersifat pembangunan maupun tantangan sosial:
- 1942: Pemilihan kepala desa pertama secara demokratis, dimenangkan oleh Djaenal Muhamad.
- 1943: Terjadi kelaparan dan wabah penyakit.
- 1947–1948: Agresi Belanda II.
- 1950–1951: Pemberontakan AOI.
- 1964–1965: Peristiwa G30S.
- 1970: Wabah penyakit demam melanda warga.
- 1973: Bantuan beras bulgur diterima, namun terjadi paceklik.
- 1974: Pembangunan balai desa.
- 1972–1976: Pembangunan jalan desa secara swadaya.
- 1971–1979: Kepemimpinan Saiman sebagai kepala desa.
- 1980–1989: Mulyo Pawiro terpilih sebagai kepala desa.
- 1989–1999: Kepemimpinan Kusnento.
- 1999–2005: Ngudiyo menjabat pada masa reformasi.
- 2005: Ngudiyo diberhentikan berdasarkan SK Bupati Kebumen.
- 2005–2007: Sutarso menjabat sebagai penjabat kepala desa.
- 2007–2012: Suyatno terpilih, kemudian mengundurkan diri.
- 2012–2015: Ngudiyo kembali menjabat.
- 2015–2017: Khaedar, SH menjabat sebagai penjabat kepala desa.
- 2017: Pembangunan Jembatan Dono Sari melintasi Sungai Jatinegoro.
- 2017: Musitah terpilih sebagai kepala desa.
Seiring perjalanan waktu, Desa Rogodono terus berkembang tanpa meninggalkan akar budaya dan nilai kebersamaan yang telah diwariskan oleh para leluhur.
Penutup
Legenda dan sejarah Desa Rogodono menjadi bukti bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekuatan untuk membangun harmoni. Hingga kini, nilai-nilai kebersamaan tersebut tetap terjaga dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Sumber: Website resmi Desa Rogodono
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















