KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Wonodadi yang terletak di Kecamatan Buayan, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang yang erat kaitannya dengan asal-usul nama dan proses terbentuknya wilayah tersebut. Nama “Wonodadi” sendiri berasal dari dua kata, yakni “Wono” yang berarti hutan dan “Dadi” yang berarti menjadi. Secara makna, Wonodadi dapat diartikan sebagai “hutan yang menjadi desa”.
Dalam perkembangannya, Desa Wonodadi merupakan hasil penggabungan dua wilayah, yakni Desa Karangwuni dan Desa Wonodadi. Pada masa itu, Desa Karangwuni dipimpin oleh Kepala Desa bernama Yadiman, sedangkan Desa Wonodadi dipimpin oleh Ki Jetut atau yang dikenal sebagai Lurah Jetut.
Penggabungan kedua desa tersebut diikuti dengan pelaksanaan pemilihan kepala desa pertama menggunakan sistem tradisional yang dikenal dengan “dodokan”. Sistem ini dilakukan dengan cara memberikan batas garis tanah untuk masing-masing calon, kemudian masyarakat memilih dengan cara duduk atau jongkok di area calon yang didukung.
Menurut cerita para sesepuh desa, pemilihan kepala desa saat itu berlangsung sangat ketat, bahkan selisih kemenangan hanya ditentukan oleh satu suara. Hal ini terjadi karena adanya seorang pemilih yang sempat ragu menentukan pilihan, hingga akhirnya berpindah dukungan dan menjadi penentu hasil pemilihan.
Secara wilayah, Desa Wonodadi terdiri dari dua dusun, yaitu Dusun Blanakan (Dusun I) dan Dusun Karangwuni (Dusun II). Desa ini berada di kawasan pegunungan batu kapur dengan kondisi geografis berupa lereng dan perbukitan.
Dalam catatan sejarah lokal, wilayah Desa Wonodadi juga pernah mengalami perubahan batas administrasi. Salah satunya adalah pertukaran wilayah antara Blok Gunung Kusan dan Blok Rancah dengan Desa Rangkah. Saat ini, Blok Gunung Kusan masuk wilayah Desa Rangkah, sedangkan Blok Rancah menjadi bagian dari Desa Wonodadi.
Selain itu, Desa Wonodadi juga dikenal memiliki sejumlah makam leluhur yang dikeramatkan oleh masyarakat setempat. Di Dusun Blanakan terdapat tiga makam, yakni Makam Mbah Palasara, Mbah Kuwu, dan Mbah Buyut Rancah. Sementara di Dusun Karangwuni terdapat dua makam, yaitu Makam Mbah Arya Pengilon dan Mbah Singbranti, yang dipercaya sebagai tokoh perintis atau trukah desa.
Adapun daftar kepala desa yang pernah memimpin Desa Wonodadi antara lain Lurah Butak (hingga 1942), Dimin Atmo Wirono (1942–1989), Nyabon Kumolohadi (1989–2007), dan Suparman (2007–2013).
Sejarah Desa Wonodadi menjadi bagian penting dari identitas masyarakat setempat yang terus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Sumber: Website resmi Desa Wonodadi
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















