KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Weton Wetan, yang berada di Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang yang sarat dengan nilai legenda dan perjalanan pembangunan desa dari masa ke masa.
Berdasarkan penuturan sejarah yang berkembang di masyarakat, wilayah Weton Wetan pada awalnya berupa hutan belantara atau alas berbentuk gumuk yang dipenuhi rumput alang-alang. Seiring waktu, datang seorang tokoh tua bernama Ki Wongso Diwongso yang dipercaya sebagai sosok pembuka atau “tukang babat alas” di wilayah tersebut.
Dalam kisahnya, suatu ketika datang seorang putri yang sedang menderita sakit parah dan kemudian beristirahat di tempat Ki Wongso Diwongso. Dalam percakapan terakhirnya sebelum meninggal dunia, sang putri berpesan agar dirinya dimakamkan di tanah yang telah dibuka oleh Ki Wongso.
Setelah sang putri meninggal, Ki Wongso menunaikan amanah tersebut. Namun, kejanggalan terjadi ketika satu minggu kemudian ia kembali ke lokasi makam. Kuburan sang putri tidak lagi ditemukan. Sebagai gantinya, muncul dua pohon kelapa yang tumbuh dengan arah berbeda, satu condong ke timur (ngetan) dan satu ke barat (ngulon), dengan buah yang lebat.
Terinspirasi dari peristiwa tersebut, Ki Wongso kemudian menanam pohon kelapa di wilayah tersebut hingga berkembang menjadi area yang dipenuhi tanaman kelapa. Dari situlah nama “Weton Wetan” muncul, merujuk pada arah timur (ngetan) yang menjadi ciri khas dari fenomena tersebut.
Seiring berjalannya waktu, Desa Weton Wetan terus berkembang, dipimpin oleh sejumlah kepala desa dari masa ke masa, mulai dari Mahrup (1928–1958), Ngadenan A.S (1959–1989), Sumardi (1990–1998 dan 2007–2013), Sapangat (1999–2007), Moh. Samsudin (2013–2019), hingga Rohanah (2019–2025) yang tercatat sebagai kepala desa perempuan pertama di desa tersebut.
Selain sejarah asal-usulnya, perjalanan Desa Weton Wetan juga diwarnai berbagai peristiwa penting, baik yang bersifat pembangunan maupun bencana. Pada dekade 1980-an, desa ini pernah mengalami sejumlah kejadian seperti kebakaran jembatan bambu, serangan hama tanaman, hingga bencana banjir yang menyebabkan gagal panen.
Memasuki tahun 2000-an, pembangunan mulai terlihat dengan adanya bantuan pembangunan pasar desa, jembatan, serta program pertanian dan peternakan dari pemerintah. Desa ini juga mendapatkan berbagai program nasional seperti PNPM Mandiri, PPIP, hingga Dana Desa yang semakin mendorong percepatan pembangunan infrastruktur dan ekonomi masyarakat.
Namun demikian, berbagai tantangan juga tetap terjadi, seperti bencana banjir, kemarau panjang, hingga serangan hama yang berdampak pada sektor pertanian.
Hingga saat ini, Desa Weton Wetan terus berbenah dengan berbagai program pemberdayaan masyarakat, penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), serta pembangunan infrastruktur desa demi meningkatkan kesejahteraan warganya.
Sumber:Website resmi Desa Weton Wetan
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















