SEJARAH

Sejarah Desa Wajasari Kecamatan Adimulyo: Dari Sumur Bertuah Hingga Pentas Kuda Lumping

×

Sejarah Desa Wajasari Kecamatan Adimulyo: Dari Sumur Bertuah Hingga Pentas Kuda Lumping

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Setiap desa memiliki cerita masa lalu yang membentuk identitas dan budaya masyarakatnya. Desa Wajasari, yang terletak di Kecamatan Adimulyo, Kebumen, menyimpan sejarah panjang dan tradisi yang masih dilestarikan hingga kini.

Sejarah Desa Wajasari

Menurut legenda setempat, Desa Wajasari awalnya berupa hutan belantara. Seorang tokoh sakti bernama Mbah Wajasenjaya (atau Wajasanjaya Sari) membuka hutan tersebut dengan membakarnya hingga habis, menetapkan batas wilayah, dan berjuang bersama Mbah Podourip untuk memperoleh tanah yang diinginkan. Dari hasil perjuangan itu, lahirlah dua dukuh: Dukuh Waja di barat dan Dukuh Sari di timur.

Mbah Wajasenjaya membagi sebagian wilayahnya kepada Mbah Podourip, yang kemudian dikenal dengan Durip Tempel, karena masih menempel pada wilayah dukuh Wajasenjaya. Peristiwa menarik lainnya terjadi saat musim kemarau panjang; banyak warga Dukuh Waja yang pergi ke desa Podourip untuk mengambil air dari Banyu Urip, sumur yang dipercaya bertuah. Sayangnya, banyak warga meninggal dalam perjalanan dan dibuang di Dukuh Sari, sehingga dukuh ini sempat dikenal sebagai Dukuh Mbanger (yang berarti bau tidak sedap).

Selain itu, terdapat peristiwa adu kekuatan antara keturunan penguasa wilayah Waja dan Podourip. Warga percaya bahwa makam yang tersebar di balai desa adalah bukti sejarah tersebut, dengan satu makam di barat dan tiga makam di timur, menandakan para sesepuh yang berjasa di desa ini.

Sejak tahun 1827 hingga 2023, Desa Wajasari telah dipimpin oleh sejumlah kepala desa, mulai dari Wana Menggala (1827-1839) hingga Sukhamdi yang menjabat saat ini.

Adat Istiadat yang Masih Terjaga

  1. Unggah-Unggahan
    Tradisi ini dilakukan menjelang bulan suci Ramadhan. Warga berkumpul di balai desa untuk kenduri/selamatan dan berdoa bersama, memohon keselamatan dan kesehatan selama menjalankan ibadah puasa.
  2. Merdi Desa/Syuran
    Dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram untuk menyambut Tahun Baru Islam. Warga membawa makanan lengkap untuk dimakan bersama, dengan doa dipimpin oleh pemuka agama agar tahun mendatang lebih baik dalam segala aspek.
  3. Jabel
    Tradisi ini dilakukan menjelang panen padi, membawa makanan ke sawah sebagai doa agar hasil panen berlimpah dan selamat dari awal hingga akhir panen. Kepala desa dan warga ikut serta dalam ritual ini.
  4. Pentas Kuda Lumping
    Digelar setiap bulan Muharram oleh Paguyuban Kesenian Kuda Lumping Langgeng Sari Budoyo. Selain melestarikan kesenian, kegiatan ini mengingatkan generasi muda akan perjuangan para sesepuh Desa Wajasari.

Dengan sejarah dan adat istiadat yang terjaga, Desa Wajasari tidak hanya menjadi saksi perjuangan pendahulu, tetapi juga sumber inspirasi bagi generasi penerus untuk menghormati budaya dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.

Sumber: Desa Wajasari – Sejarah dan Adat Istiadat


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.