KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Tanjungsari, yang berada di Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen, menyimpan kisah panjang yang berakar dari legenda babad alas hingga dinamika sosial masyarakat di masa lampau.
Pada masa penjajahan, jauh sebelum Indonesia merdeka, wilayah Tanjungsari masih berupa hutan belantara yang sangat subur dengan iklim tropis. Bentang alamnya luas, dipenuhi pepohonan dari selatan hingga utara, mencerminkan kekayaan alam yang melimpah.
Seiring waktu, masyarakat mulai membuka lahan dengan cara babad alas. Dari wilayah selatan, warga berbondong-bondong menebang hutan dengan harapan menciptakan kawasan hunian yang luas. Namun, upaya tersebut menghadapi kendala tak terduga. Saat pembakaran hasil tebangan dilakukan, kobaran api dari arah selatan yang terbawa angin justru melalap area lain hingga ke utara.
Peristiwa tersebut membuat sebagian warga kebingungan dan berhenti di wilayah ujung selatan yang menyerupai tanjung. Daerah ini kemudian dikenal dengan nama Gandutanjung. Sementara itu, warga lain yang hanya terdiam dan termangu kemudian menempati wilayah yang disebut Karangmangu, yang menjadi bagian dari Gandutanjung.
Dalam kisah ini, disebutkan tokoh penting yang terlibat dalam pembukaan wilayah adalah Mbah Sukra, yang dikenal pula dengan nama Syeikh Zuhrowardi.
Di bagian utara Gandutanjung, terdapat hutan jati yang sangat luas. Wilayah ini kemudian dikenal sebagai Pejaten, yang diambil dari kata “jati”. Di sekitarnya terdapat daerah dengan banyak tumbuhan daun apit, yang kemudian dikenal sebagai Dampit. Karena luasnya hutan jati, wilayah Dampit akhirnya menjadi bagian dari Pejaten.
Sementara itu, di wilayah utara lainnya terjadi konflik antarwarga yang memperebutkan wilayah hasil babad alas. Perselisihan tersebut dikenal dengan istilah “padudon”. Untuk meredam konflik, datang seorang tokoh bernama Mbah Nasrulloh yang membawa misi perdamaian. Ia berhasil mendamaikan warga dan wilayah tersebut kemudian dikenal dengan nama Kepadon, yang berasal dari kata padudon. Tokoh tersebut juga dikenal sebagai Ki Reksopadu karena jasanya menjaga perdamaian.
Di sisi lain, wilayah Mentasari memiliki kisah tersendiri. Pada awal abad ke-19, seorang tokoh bernama Raden Ketasari datang untuk mengabdikan diri. Setelah wilayah tersebut berkembang dan dihuni banyak orang, daerah itu dinamai Mentasari.
Namun, setelah wafatnya Raden Ketasari, terjadi perebutan kepemimpinan. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat kemudian mengutus perwakilan untuk menyelesaikan konflik tersebut. Dua tokoh, Dipadrana dan Wangsadikrama, dipanggil ke keraton. Wangsadikrama akhirnya diangkat menjadi lurah, namun Dipadrana merasa keberatan hingga konflik kembali muncul.
Sebagai solusi, pihak keraton membagi wilayah menjadi dua: bagian utara tetap bernama Mentasari di bawah kepemimpinan Wangsadikrama, dan bagian selatan bernama Pengempon yang dipimpin Dipadrana. Seiring waktu, kedua wilayah ini kembali disatukan dengan nama Mentasari.
Berdasarkan sejarah tersebut, Desa Tanjungsari merupakan gabungan dari empat wilayah utama, yaitu Gandutanjung, Pejaten, Kepadon, dan Mentasari.
Secara resmi, Desa Tanjungsari dibentuk pada 1 Januari 1925 pada masa penjajahan Belanda. Nama “Tanjungsari” diambil dari gabungan kata “Tanjung” (Gandutanjung) dan “Sari” (Mentasari). Wilayah desa ini membentang luas dari selatan hingga utara, menjadikannya sebagai salah satu desa terluas di Kecamatan Petanahan, bahkan menempati peringkat ketiga.
Sejak berdirinya, Desa Tanjungsari telah dipimpin oleh sejumlah kepala desa, mulai dari Nur Yamamad (1925–1928) hingga Chaerudin yang menjabat hingga sekarang.
Dengan kekayaan sejarah dan legenda yang dimilikinya, Desa Tanjungsari tidak hanya menjadi wilayah administratif, tetapi juga simbol perjalanan panjang masyarakat dalam membangun peradaban dari hutan belantara menjadi desa yang maju dan berbudaya.
Sumber:
Website Resmi Desa Tanjungsari – https://tanjungsari.kec-petanahan.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/4/91
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















