SEJARAH

Sejarah Desa Sidomulyo Petanahan Kebumen: Dari Hutan Belantara hingga Menjadi Desa yang Sarat Tradisi

565
×

Sejarah Desa Sidomulyo Petanahan Kebumen: Dari Hutan Belantara hingga Menjadi Desa yang Sarat Tradisi

Sebarkan artikel ini
ilustrasi

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Sidomulyo di Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen, menyimpan jejak sejarah panjang yang sarat nilai perjuangan, budaya, dan spiritualitas. Berawal dari hutan belantara hingga menjadi desa yang tertata, perjalanan Sidomulyo tak lepas dari peran tokoh-tokoh berpengaruh sejak masa Kerajaan Mataram Islam.

Awal Mula: Pelarian dari Mataram dan Pembabatan Hutan

Sekitar abad ke-14, tepatnya tahun 1415, terjadi konflik di lingkungan Kerajaan Mataram yang memaksa sejumlah pejabat kerajaan mengungsi. Salah satunya adalah R.M. Djagat Winata yang kemudian bergerak ke arah barat dan tiba di wilayah hutan lebat yang rawan banjir.

Dengan kegigihan luar biasa, ia membabat hutan dan membuka lahan permukiman. Dalam kisah yang berkembang di masyarakat, ia bahkan berhasil menaklukkan “gajah putih” yang diyakini sebagai penunggu hutan. Sejak itu, ia dikenal dengan nama Djaja Leksana dan mendirikan Dukuh Binangun yang kemudian berkembang menjadi Dukuh Pekeyongan.

Wilayah ini dikenal sebagai daerah yang sering tergenang air dan banyak terdapat siput (keong), sehingga nama Pekeyongan pun melekat sebagai identitas lokal.

Tradisi Gamelan dan Kearifan Lokal

Sebagai keturunan keraton, Djaja Leksana tetap melestarikan budaya Jawa dengan memainkan gamelan. Tradisi ini kemudian berkembang menjadi ritual awal sebelum bercocok tanam, yang masih dikenal sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat.

Syiar Islam dan Peran Joko Pengalasan

Perkembangan wilayah ini juga dipengaruhi oleh tokoh penyebar Islam, Joko Pengalasan. Ia membuka wilayah baru bernama Dukuh Keputihan (Mutian), mendirikan masjid, dan menyebarkan ajaran Islam dengan pendekatan damai.

Dalam perjalanan dakwahnya, Joko Pengalasan bahkan melanjutkan syiar hingga ke wilayah Jawa Barat, termasuk Pamijahan, Tasikmalaya, bersama pamannya, Syekh Muhyi. Sepulang dari perjalanan spiritualnya, ia dikenal dengan nama Syeh Haji Abdul Awal.

Perkembangan Islam di Dukuh Keputihan kemudian dilanjutkan oleh Imam Benawi dan Khasan Mufakat yang juga berperan sebagai pemimpin lokal dan tokoh agama.

Lahirnya Tradisi Sedekah Bumi

Kolaborasi antar dukuh seperti Pekeyongan, Keputihan, dan Pendil melahirkan tradisi “Sedekah Bumi” sebagai bentuk syukur atas hasil pertanian. Selain itu, tradisi “Suran” juga rutin dilaksanakan sebagai wujud spiritualitas masyarakat yang memadukan budaya Jawa dan nilai Islam.

Terbentuknya Desa Sidomulyo

Seiring berkembangnya wilayah, para pemimpin dukuh sepakat menyatukan beberapa dukuh seperti Pekeyongan, Keputihan, Pendil, Jalasida, dan Rendeng menjadi satu desa. Dengan semangat “sa yeg sa eko proyo” (bersatu untuk kuat), lahirlah Desa Sidomulyo.

Djaja Leksana kemudian dipercaya menjadi kepala desa pertama sekaligus Demang yang memimpin wilayah tersebut.

Dinamika Pemerintahan Desa

Sistem pemerintahan Desa Sidomulyo mengalami berbagai perubahan. Mulai dari sistem tradisional seperti “jongkokan” (dodokan), hingga sistem “bitingan” (menggunakan lidi), dan akhirnya berkembang menjadi sistem demokrasi modern melalui pemilihan langsung.

Pada tahun 2007, pemilihan kepala desa dilakukan dengan sistem pencoblosan foto calon, yang dimenangkan oleh Suwandi sebagai kepala desa ke-12.

Daftar Kepala Desa Sidomulyo

Berikut beberapa kepala desa yang pernah memimpin:

  1. Djaja Leksana (abad ke-16)
  2. Kolo Marto (abad ke-19)
  3. Uda Wijaya (1917–1920)
  4. Khasan Mufakat (1920–1925)
  5. Braja Sentana (1925–1928)
  6. Karsa Wikromo (1928–1945)
  7. Mulyo Kartomo (1945–1985)
  8. Haryoto (1985–1994)
  9. Samijan (1994–2002)
  10. Karminah (2002–2007)
  11. Suwandi (2007–2012)
  12. Nasimin (2012–sekarang)

Warisan Nilai dan Identitas

Hingga kini, Desa Sidomulyo tetap mempertahankan nilai-nilai gotong royong, tradisi budaya, serta kehidupan religius yang menjadi identitas kuat masyarakatnya. Sejarah panjang ini menjadi bukti bahwa desa bukan sekadar wilayah administratif, tetapi juga ruang hidup yang sarat makna dan perjuangan.

Sumber:

  • Arsip sejarah Desa Sidomulyo
  • Blog SyifaFaoziyah (Diposting 8 Januari 2015)

Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.