KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Podourip yang terletak di Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen, menyimpan kisah sejarah yang sarat makna dan penuh misteri. Berjarak sekitar 3 kilometer dari pusat kecamatan, desa ini dapat diakses melalui jalur Guyangan–Petanahan maupun Dorowati–Kritig–Podourip.
Salah satu daya tarik utama desa ini adalah keberadaan sumur tua yang dikenal masyarakat sebagai sumur “Banyu Urip” atau air kehidupan. Sumur kuno ini diperkirakan telah ada sejak tahun 1800-an, bahkan diyakini berasal dari masa yang lebih lampau. Dahulu, lokasi ini berupa sendang atau mata air alami yang berada di bawah pohon beringin besar yang kini sudah tidak ada.
Menurut juru kunci setempat, Syarif Hidayat, sumur tersebut awalnya hanya berupa mata air kecil seukuran telapak kaki. Namun, keberadaannya memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan, khususnya pada masa Perang Dipanegara sekitar tahun 1825.
Dikisahkan, pasukan Pangeran Diponegoro pernah memanfaatkan mata air ini untuk bertahan hidup. Sebelum menemukan sumber air tersebut, pasukan melakukan munajat di wilayah Lirap dan mendapatkan petunjuk (sasmita) untuk bergerak ke arah barat mengikuti jejak “kuntul ngalayang”—sebuah simbol perjalanan mengikuti arah leluhur.
Petunjuk tersebut mengarahkan mereka pada sebuah petilasan berupa mata air kecil yang kemudian diyakini sebagai “banyu urip”. Meski kecil, mata air ini tidak pernah kering bahkan saat musim kemarau. Para prajurit kemudian mengambil berkah dari sumber air tersebut, yang dipercaya memberi kekuatan baru dalam melanjutkan perlawanan melawan penjajah Belanda.
Semangat juang yang kembali bangkit membuat pasukan yang semula lemah dan terluka menjadi lebih kuat. Dari peristiwa inilah, wilayah tersebut kemudian dikenal dengan sebutan “podo urip” atau “kembali hidup”, yang lambat laun menjadi nama Desa Podourip.
Tak hanya itu, kawasan di sekitar sumur juga menyimpan sejumlah jejak historis lainnya. Di bagian selatan, masyarakat mengenal area bekas lumbung yang dahulu dikelilingi pohon salak sebagai pagar alami. Sementara itu, wilayah Sluangan dipercaya sebagai area persawahan yang dahulu menjadi penyuplai logistik bagi pasukan.
Ada pula Dukuh Banger, yang secara toponimi diyakini sebagai lokasi banyaknya korban perang. Nama “Banger” sendiri bermakna bau menyengat, yang konon berasal dari kondisi wilayah tersebut di masa lalu.
Lebih jauh ke belakang, sejarah “Banyu Urip” disebut telah ada sejak abad ke-16, pada masa perjuangan Ki Badranala dan Ki Sunan Geseng dalam melawan Kompeni Belanda yang mendarat di pesisir Petanahan. Dari wilayah ini pula, Ki Badranala berhasil menyusun kekuatan hingga mengusir penjajah, dan kemudian dikenal sebagai Ki Gede Panjer I pada masa pemerintahan Sultan Agung.
Berdasarkan penuturan masyarakat, kawasan ini pernah menjadi pusat pertahanan sekaligus lumbung logistik pada masa itu. Hal ini memperkuat dugaan bahwa Podourip memiliki peran strategis dalam berbagai fase sejarah perjuangan di Kebumen.
Meski kebenaran historisnya masih perlu diteliti lebih lanjut, keberadaan sumur tua “Banyu Urip” menjadi salah satu jejak penting yang membantu merangkai cerita masa lalu. Lebih dari sekadar situs sejarah, tempat ini menjadi simbol semangat, ketahanan, dan penghormatan terhadap perjuangan para leluhur.
Sumber:
- Website resmi Desa Podourip: https://podourip.kec-petanahan.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/6/146
- Video dokumentasi: https://www.youtube.com/watch?v=Gd9Nlsp-_HY
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















