SEJARAH

Sejarah Desa Krandegan: Jejak Kadipaten Kaleng hingga Penyebaran Islam di Pesisir Selatan Kebumen

429
×

Sejarah Desa Krandegan: Jejak Kadipaten Kaleng hingga Penyebaran Islam di Pesisir Selatan Kebumen

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Krandegan, Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang yang berkaitan erat dengan perjalanan Kadipaten Kaleng pada masa lampau. Berdasarkan catatan sejarah, wilayah ini dahulu merupakan bagian penting dari kekuasaan Kadipaten Kaleng sebelum mengalami perubahan administratif pada masa kerajaan-kerajaan di Jawa.

Pada masa awal, Kadipaten Kaleng dipimpin oleh Adipati Banyak Kumara atau Banyak Gumarang, yang disebut sebagai keturunan Prabu Banyak Sasra, Adipati Pasir (Purwokerto), yang juga dikenal sebagai Raden Kamandaka atau Lutung Kasarung dari garis keturunan Kerajaan Pajajaran.

Seiring perkembangan waktu, Kadipaten Kaleng kemudian mengalami penggabungan dengan Kadipaten Pucang di wilayah utara, yang selanjutnya membentuk Kadipaten Roma dengan pusat pemerintahan di Sidayu, wilayah utara Gombong. Pada tahun 1543 M, pada masa kekuasaan Sultan Pajang, wilayah Kaleng mengalami perubahan status menjadi setingkat kawedanan.

Dalam perubahan tersebut, putra Bupati Kaleng diberi jabatan Ngabei atau setingkat wedana dengan gelar Kyai Ngabei Wirokerti. Makam tokoh ini hingga kini diketahui berada di kompleks halaman MTsN 6 Kaleng.

Secara geografis, Desa Krandegan diyakini memiliki peran penting, bahkan diduga menjadi bagian dari pusat Kadipaten Kaleng. Hal ini didasarkan pada letaknya yang berbatasan langsung dengan Desa Kaleng yang diyakini sebagai pusat pemerintahan kadipaten pada masa itu.

Asal-usul nama Krandegan sendiri memiliki beberapa versi. Salah satu cerita menyebutkan bahwa nama tersebut berasal dari seorang bangsawan Keraton Mataram, yakni Pangeran Krandegan, putra dari Pangeran Senopati. Ia dikenal sebagai sosok pejuang yang menentang penjajahan Belanda.

Dalam kisah tersebut, Pangeran Krandegan memilih meninggalkan Keraton Mataram akibat konflik internal dan campur tangan Belanda, kemudian melakukan perjalanan ke arah barat hingga wilayah pesisir selatan Urut Sewu. Ia kemudian menetap di suatu wilayah yang kelak dikenal sebagai Desa Krandegan.

Pangeran Krandegan memiliki keturunan bernama Syekh Rosyid, seorang ulama yang berperan dalam penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Hingga kini, petilasan dan makam Syekh Rosyid masih dapat ditemukan di kompleks pemakaman Dukuh Karangsari–Kauman, Desa Krandegan.

Sementara itu, versi lain menyebutkan bahwa nama Krandegan berasal dari kata “ndeg-ndegan” dalam bahasa Jawa yang berarti tempat pemberhentian. Dahulu, wilayah ini dikenal sebagai tempat singgah para pengembara yang kemudian menetap dan menjadi penduduk setempat.

Dalam perjalanan pemerintahannya, Desa Krandegan telah dipimpin oleh sejumlah kepala desa, di antaranya Kastubo, Moh Supyan, H. Mahrus Umar, Sairin Hadi Suroyo, hingga Drs. Zaenul Anwari. Selain itu, berbagai tokoh perangkat desa serta ulama turut berperan dalam membangun kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat setempat, termasuk Syekh Rosyid yang menjadi tokoh sentral dalam sejarah penyebaran Islam di wilayah tersebut.

Sejarah panjang Desa Krandegan menjadi bukti bahwa wilayah ini tidak hanya memiliki nilai geografis, tetapi juga menyimpan jejak penting dalam perjalanan politik, budaya, dan keagamaan di Kabupaten Kebumen.

Sumber:
Website resmi Desa Krandegan
https://krandegan.kec-puring.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/4/96


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.