SEJARAH

Sejarah Desa Madurejo: Dari Rawa Menjadi Permukiman, Dipelopori Tokoh Sakti Hingga Resmi Berdiri Tahun 1925

326
×

Sejarah Desa Madurejo: Dari Rawa Menjadi Permukiman, Dipelopori Tokoh Sakti Hingga Resmi Berdiri Tahun 1925

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Madurejo, Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang yang berawal dari kawasan rawa-rawa yang belum berpenghuni. Seiring waktu, wilayah tersebut berkembang menjadi permukiman dan lahan pertanian berkat peran sejumlah tokoh perintis.

Dikisahkan, pada masa lampau datang seorang tokoh sakti dan bijaksana bernama Mbah Tilomoyo yang berasal dari Kerajaan Semarang. Ia tiba di wilayah Dusun Suwuk, Desa Tambakmulyo. Tidak lama berselang, putranya, Mbah Madubronto bersama Mbah Madubronto Maulana, menyusul dan mulai menyusuri kawasan rawa-rawa ke arah timur untuk mencari ikan.

Perjalanan Mbah Madubronto Maulana kemudian berlanjut hingga ke Keraton Ngayogyakarta. Dari sana, ia kembali dengan mengajak sembilan orang rekannya untuk membuka lahan rawa menjadi area persawahan sekaligus permukiman.

Pembukaan wilayah tersebut dilakukan secara bertahap di tiga bagian. Di wilayah barat, tiga orang membuka lahan yang kemudian dikenal sebagai Segaramadu Kidul dan Segaramadu Lor, yang kini menjadi wilayah Tunggalsari dan berkembang menjadi Kelurahan Segaramadu.

Sementara itu, empat orang membuka lahan di bagian tengah yang kemudian dikenal dengan nama Seroja, Bringin, dan Cangkringdahar, yang selanjutnya menjadi Kelurahan Seroja. Adapun di wilayah timur, tiga orang lainnya membuka lahan yang kemudian diberi nama Kepudang Lor, Kepudang Kidul, Dadu, dan Bulusari.

Nama Bulusari sendiri diambil dari banyaknya pohon “bulu” yang tumbuh di wilayah tersebut. Para perintis kemudian menetap di sekitar kawasan tersebut hingga berkembang menjadi permukiman. Wilayah Kepudang Lor (sekarang Pegapuran), Kepudang Kidul, Dadu, dan Bulusari kemudian disatukan menjadi Kelurahan Kepudang.

Dalam perkembangannya, masing-masing wilayah dipimpin oleh tokoh setempat. Kelurahan Segaramadu dipimpin oleh Mbah Sudarmo, Kelurahan Seroja oleh Mbah Sastrodiharjo, dan Kelurahan Kepudang oleh Mbah Mendali.

Memasuki tahun 1925, ketiga kelurahan tersebut resmi digabungkan menjadi satu desa yang diberi nama Madurejo. Nama “Madu” diambil dari tokoh pelopor pembukaan lahan, yakni Mbah Madubronto Maulana, sedangkan “Rejo” merupakan imbuhan yang berarti makmur.

Untuk menentukan pemimpin desa yang baru, dilakukan pemilihan yang diikuti oleh tiga tokoh pemimpin sebelumnya. Hasilnya, Mbah Sastrodiharjo terpilih dan resmi menjadi Kepala Desa Madurejo pertama.

Sejak saat itu, Desa Madurejo terus berkembang menjadi salah satu wilayah yang memiliki nilai historis dan kearifan lokal yang kuat di Kabupaten Kebumen.

Sumber:
Website Resmi Desa Madurejo


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.