SEJARAH

Sejarah Desa Kedungsari Klirong Kebumen: Dari Penggabungan Empat Desa hingga Potensi Sungai Lukulo

470
×

Sejarah Desa Kedungsari Klirong Kebumen: Dari Penggabungan Empat Desa hingga Potensi Sungai Lukulo

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Kedungsari di Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang yang menarik untuk ditelusuri. Desa ini tidak hanya dikenal sebagai wilayah yang dilalui aliran Sungai Lukulo, tetapi juga menyimpan cerita legenda, perjalanan sejarah, hingga berbagai peristiwa penting yang membentuk kehidupan masyarakatnya hingga saat ini.

Legenda Asal Usul Desa Kedungsari

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, Desa Kedungsari awalnya merupakan hasil penggabungan dari beberapa desa lama. Dahulu terdapat dua desa utama, yakni Desa Jeruk Kepek dan Desa Jeruk Agung. Seiring berjalannya waktu, Desa Jeruk Kepek kemudian berkembang dan terpecah menjadi empat desa, yaitu Jeruk Singkil, Jeruk Losari, Jeruk Kedung, dan Jeruk Truntung.

Keempat desa tersebut kemudian kembali digabungkan menjadi satu wilayah administratif yang dikenal dengan nama Desa Kedungsari.

Nama Kedungsari sendiri memiliki makna filosofis yang erat kaitannya dengan kondisi geografis desa tersebut. Kata “Kedung” berarti bagian sungai yang dalam, sementara “Sari” berarti inti atau sumber utama. Penamaan ini merujuk pada keberadaan Sungai Lukulo yang melintasi wilayah desa dan memiliki banyak kedung atau bagian sungai yang dalam.

Secara makna, Kedungsari diartikan sebagai sebuah desa yang memiliki potensi sumber daya air yang melimpah dan dapat menjadi sumber kesejahteraan masyarakat apabila dikelola dengan baik dan penuh kebersamaan.

Perjalanan Sejarah Desa

Hari jadi Desa Kedungsari diperingati setiap 23 Maret 1924. Sejak saat itu, desa ini mengalami berbagai peristiwa penting, baik yang membawa kemajuan maupun tantangan bagi masyarakat.

Pada masa sebelum kemerdekaan hingga sekitar tahun 1945, masyarakat pernah mengalami kekurangan pangan yang cukup berat. Situasi semakin sulit ketika terjadi penjajahan Belanda II pada tahun 1947–1948.

Di tahun yang sama, Desa Kedungsari juga sempat dilanda wabah penyakit Honger Udim atau beri-beri, yang berdampak pada kesehatan warga.

Memasuki tahun 1964, pembangunan di bidang pendidikan mulai berkembang dengan berdirinya SD Negeri 1 Kedungsari. Namun pada tahun 1965, situasi nasional turut berdampak pada desa ini akibat peristiwa G30S/PKI.

Pembangunan dan Perkembangan Desa

Pada dekade 1970-an hingga 1980-an, pembangunan fasilitas sosial dan keagamaan di Desa Kedungsari terus berkembang. Beberapa di antaranya adalah:

  • 9 September 1970: Pendirian Masjid Baitul Rahmat.
  • 1974: Pembangunan Balai Desa Kedungsari secara swadaya oleh masyarakat.
  • 1977: Pendirian Mushola Al Hidayah serta berdirinya SD Inpres (sekarang SDN 3 Kedungsari).
  • 1985: Berdirinya TK/RA Riyadotul Atfal.

Di bidang ekonomi, pada tahun 1973 masyarakat menerima bantuan pangan bulgur akibat paceklik berkepanjangan. Sementara pada 1978, desa juga memperoleh bantuan ternak sapi dari pemerintah melalui program Banpres.

Bencana dan Peristiwa Penting

Sebagai desa yang dilalui Sungai Lukulo, Kedungsari juga pernah mengalami peristiwa bencana. Pada 8 Juni 1986, Sungai Lukulo meluap hingga mencapai kawasan permukiman warga.

Selain itu, beberapa kejadian tragis juga tercatat dalam sejarah desa, seperti kasus warga yang tenggelam di Sungai Lukulo pada tahun 2002 dan 2009.

Untuk mengurangi risiko bencana, pada tahun 2008 pemerintah memberikan bantuan penanganan tebing Sungai Lukulo berupa dumping stone sepanjang 546 meter.

Perkembangan Pemerintahan Desa

Seiring waktu, kepemimpinan desa terus berganti melalui pemilihan kepala desa. Beberapa di antaranya adalah:

  • 1985–1993: Tri Yuwono
  • 1993: Suroto
  • 2001: Sutarno
  • 2007: Jainudin
  • 2013–2019: Sarjono, S.H
  • 2019–2025: Sarjono, S.H

Di bidang pendidikan anak usia dini, Desa Kedungsari juga mencatat perkembangan dengan berdirinya Kelompok Bermain (KB) Tunas Abadi pada 22 Januari 2008.

Tantangan Modern

Memasuki era modern, Desa Kedungsari juga menghadapi berbagai tantangan, seperti pandemi Covid-19 pada tahun 2020 yang berdampak pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.

Selain itu, pada tahun 2023, peternak di desa ini juga sempat terdampak wabah penyakit ternak Lumpy Skin Disease (LSD) yang menyerang sapi.

Meski demikian, semangat gotong royong dan kebersamaan masyarakat tetap menjadi kekuatan utama dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut.

Dengan sejarah panjang, potensi sumber daya alam, serta kekuatan sosial masyarakatnya, Desa Kedungsari terus berupaya berkembang menuju masa depan yang lebih baik.

Sumber: Pemerintah Desa Kedungsari


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.