SEJARAH

Sejarah Desa Kedaleman Kulon: Dari Hutan Hingga Menjadi Permukiman Terpadu

406
×

Sejarah Desa Kedaleman Kulon: Dari Hutan Hingga Menjadi Permukiman Terpadu

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Kedaleman Kulon, yang berada di wilayah Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang yang menarik untuk ditelusuri. Desa ini dikenal sebagai kawasan agraris dengan bentang wilayah berupa persawahan yang dilintasi Kanal Telomoyo dan aliran Kali Rama.

Secara geografis, Desa Kedaleman Kulon berbatasan langsung dengan beberapa desa di sekitarnya. Di sebelah timur berbatasan dengan Desa Kedaleman Wetan, sebelah barat dengan Desa Weton Wetan, sebelah selatan dengan Desa Banjarejo, serta sebelah utara dengan Desa Sidomukti, Kecamatan Kuwarasan.

Berdasarkan penuturan para sesepuh desa, wilayah Kedaleman Kulon pada masa lampau merupakan kawasan hutan. Pembukaan hutan ini diperkirakan terjadi pada era Kerajaan Mataram Hindu oleh dua tokoh kakak beradik, yakni Ki Bandayuda dan Ki Ditayuda. Namun, perkembangan wilayah tersebut baru mulai terlihat pada masa Kerajaan Mataram Islam.

Pada masa itu, hadir sosok Ki Taleksana atau yang dikenal juga dengan nama Sosro Negoro atau Mbah Jidin. Ia disebut sebagai Bupati Bagelen, Purworejo, yang berada di bawah kekuasaan Mataram Islam. Kedatangannya ke wilayah ini dilatarbelakangi penolakannya terhadap penjajah Belanda yang menginginkan kerja sama, sehingga ia memilih mengasingkan diri dan membuka kehidupan baru di wilayah tersebut.

Seiring waktu, kawasan ini berkembang menjadi beberapa permukiman yang berdiri sendiri. Tercatat ada tiga desa, yakni Karangasem yang dipimpin Ki Lurah Boek, Desa Kedaleman oleh Ki Lurah Sadikrama, serta Desa Joho yang dipimpin Ki Lurah Somawijaya. Ketiganya kemudian bersatu sekitar tahun 1880-an pada masa pemerintahan Ki Lurah Kada, dan resmi menjadi satu desa bernama Kedaleman Kulon.

Sementara itu, asal-usul nama “Kedaleman Kulon” sendiri masih belum dapat dipastikan secara ilmiah. Namun, terdapat cerita turun-temurun dari sesepuh desa, Mbah Puji Sumarto, yang mengaitkan nama tersebut dengan Desa Kedaleman Wetan.

Dalam kisah tersebut, diceritakan tentang seorang lurah yang memiliki dua istri. Masing-masing istri dibuatkan rumah (dalam bahasa Jawa disebut “dalem”), yang berada di sisi timur dan barat. Sang lurah membagi waktunya antara kedua rumah tersebut.

Ketika warga hendak menemui lurah di rumah sebelah timur, mereka kerap mendapat jawaban bahwa sang lurah sedang berada di “dalem kulon” (rumah sebelah barat). Begitu pula sebaliknya, jika warga datang ke rumah sebelah barat, mereka diberi tahu bahwa lurah sedang berada di “dalem wetan” (rumah sebelah timur).

Ungkapan-ungkapan inilah yang kemudian diyakini menjadi asal-usul penamaan dua wilayah tersebut, yang hingga kini dikenal sebagai Kedaleman Kulon dan Kedaleman Wetan.

Sumber:Website Resmi Desa Kedaleman Kulon


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.