KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Arjowinangun, Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang yang sarat dengan nilai budaya dan tradisi unik. Dinamika sosial yang berkembang dari masa ke masa turut membentuk karakter masyarakat desa yang tetap menjaga warisan leluhur di tengah arus modernisasi.
Berdasarkan catatan sejarah, pada awal abad ke-20 wilayah ini terdiri dari dua desa terpisah, yakni Desa Kebongkotan yang dipimpin oleh Simbran dan Desa Jandriyan yang dipimpin oleh Sayuti. Seiring perkembangan waktu, tepatnya pada tahun 1921, kedua desa tersebut digabung menjadi satu kesatuan bernama Blengketan, yang kemudian dikenal sebagai Desa Arjowinangun.
Pada masa itu, proses demokrasi lokal telah diterapkan melalui metode pemilihan kepala desa yang unik, yakni sistem “jongkokan”. Warga memberikan dukungan dengan cara berbaris di belakang calon kepala desa sambil jongkok sebagai bentuk pilihan mereka.
Dalam perjalanan kepemimpinan, Desa Arjowinangun telah dipimpin oleh sejumlah tokoh yang berperan dalam pembangunan desa. Beberapa di antaranya adalah Sadiun (1938–1950), Ngisa atau Kasbullah (1950–1953), Karto Soempono (1953–1984), hingga Slamet yang menjabat sejak 2019 hingga sekarang. Pergantian kepemimpinan ini menunjukkan dinamika pemerintahan desa yang terus berkembang dari masa ke masa.
Selain sejarah pemerintahan, Desa Arjowinangun juga dikenal memiliki tradisi yang khas. Salah satunya adalah tradisi penguburan kepala kambing di pertigaan jalan desa setelah penyembelihan dalam acara tertentu. Tradisi ini diyakini memiliki makna simbolis dalam kehidupan masyarakat setempat.
Ada pula tradisi Pesta Suran yang dahulu dirayakan dengan makan bersama secara besar-besaran dari petang hingga pagi hari. Meski kini telah mengalami penyesuaian, nilai kebersamaan dalam tradisi tersebut masih tetap dijaga.
Keunikan lainnya adalah tradisi “jual nasi” dalam acara syukuran. Warga menggunakan pecahan genteng sebagai alat tukar pengganti uang untuk mendapatkan hidangan dari tuan rumah. Tradisi ini mencerminkan nilai gotong royong dan kebersamaan yang kuat di tengah masyarakat.
Dari sisi pendidikan, Desa Arjowinangun mulai memiliki sekolah dasar sejak tahun 1960-an yang masih beroperasi hingga saat ini. Sementara untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, warga biasanya menuju wilayah Kecamatan Puring atau daerah sekitarnya.
Dengan sejarah yang kaya dan tradisi yang unik, Desa Arjowinangun terus berupaya menjaga identitas budaya lokal sembari beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Sumber:Website Resmi Desa Arjowinangun
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















