KEBUMEN, Kebumen24.com – Adat istiadat merupakan bagian tak terpisahkan dari kekayaan budaya suatu daerah. Di Desa Prigi, Kecamatan Pejagoan, Kabupaten Kebumen, tradisi ini tetap dijaga dan dilestarikan dari generasi ke generasi. Adat istiadat di desa ini tidak hanya menjadi identitas, tetapi juga pedoman perilaku masyarakat setempat dalam kehidupan sehari-hari.
Sejarah mencatat, adat istiadat di Desa Prigi berakar dari legenda Babad Alas Prigi. Tokoh sesepuh bernama Mbah Yatin dikenal sebagai pendiri tradisi ini. Saat pertama kali memasuki wilayah yang masih dianggap memiliki aura mistis, beliau memprakarsai sebuah acara “selamatan”, yang bertujuan memohon keselamatan bagi warga desa.
Sebelum pelaksanaan selamatan, masyarakat membersihkan tempat-tempat keramat, terutama makam para leluhur, sebagai bentuk penghormatan. Setelah proses pembersihan selesai, acara selamatan dilakukan. Dahulu, tradisi ini dikenal dengan istilah “Tumpengan”, yang melibatkan pemotongan ayam dan masak ingkung atau ayam utuh, serta penyajian jenang abang. Kini, tradisi tersebut tetap dijalankan di setiap wilayah Desa Prigi sebagai kewajiban turun-temurun.
“Tradisi selamatan ini bukan hanya bentuk penghormatan kepada leluhur, tetapi juga simbol kebersamaan dan rasa syukur warga Desa Prigi,” ujar salah satu tokoh masyarakat setempat.
Dengan tetap dilaksanakannya adat istiadat ini, Desa Prigi menunjukkan bahwa tradisi lokal bisa bertahan dan tetap relevan di era modern, menjadi jembatan antara sejarah, budaya, dan identitas masyarakat.
Sumber: Prigi.kec-pejagoan.kebumenkab.go.id
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















