SEJARAH

Jelajah Legenda dan Sejarah Desa Pengaringan, Kecamatan Pejagoan, Kebumen

360
×

Jelajah Legenda dan Sejarah Desa Pengaringan, Kecamatan Pejagoan, Kebumen

Sebarkan artikel ini
ilustrasi

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Pengaringan, salah satu desa di Kecamatan Pejagoan, Kabupaten Kebumen, menyimpan sejarah panjang yang menarik dan sarat legenda. Dahulu, wilayah ini merupakan hutan belantara dengan perbukitan yang ditumbuhi pohon-pohon raksasa seperti ketapang, asem jawa, dan saman. Bahkan hingga kini, pohon ketapang yang berada di depan Balai Desa Pengaringan masih berdiri kokoh sebagai saksi sejarah.

Asal Usul Nama Pengaringan

Menurut legenda setempat, sebelum menjadi desa mandiri, wilayah ini masih termasuk Desa Peniron karena jumlah warganya sedikit. Konon, seorang bangsawan dari Mataram yang dikejar musuh secara tidak sengaja bersembunyi di bawah sebuah batu di sekitar Blok Telar (RT 01 saat ini). Musuhnya tidak berhasil menemukannya. Dalam bahasa Jawa, peristiwa ini disebut Keringan, sehingga daerah itu akhirnya dikenal dengan nama Pedukuhan Pengaringan.

Sekitar tahun 1800, setelah beberapa keluarga menetap dan jumlahnya mencapai 50 kepala keluarga (KK), Lindu, putra Glondong Peniron, dipercayakan menjadi Demang pertama Desa Pengaringan. Ia dikenal dengan sebutan Mbah Lindu karena konon setiap langkahnya membuat tanah bergetar (lindu dalam bahasa Jawa).

Peninggalan Budaya dan Makam Bersejarah

Di Desa Pengaringan terdapat Dukuh Budha, dinamai karena menjadi lokasi pemakaman seorang pengembara penganut Budha. Desa ini juga menyimpan jejak sejarah kepemimpinan dan pembangunan desa dari era Lindu hingga masa kini.

Perjalanan Kepemimpinan Desa

Sejak berdirinya Desa Pengaringan, desa ini telah dipimpin oleh beberapa demang dan kepala desa, dengan berbagai peristiwa baik dan tantangan yang dihadapi warganya:

  • 1800-1905: Demang I Lindu hingga Demang V Dipa Menggala, menghadapi kondisi kurang pangan dan penjajahan Belanda.
  • 1930-1965: Pemilihan Kepala Desa pertama, Ali Semita, pembangunan sekolah rakyat, masuknya agama Kristen, serta tantangan penjajahan Jepang dan pemberontakan PKI.
  • 1965-1988: Kepala Desa Sastro Sentono, pembangunan gedung gereja pertama (1970), masjid, SD Inpres, serta menghadapi bencana alam dan abu Gunung Galunggung (1982).
  • 1988-1999: Kepala Desa Thomas Sukarso, pembangunan Balai Desa permanen, dam, poliklinik desa, listrik masuk desa (1999), meski sempat terdampak krisis moneter (1997).
  • 1999-2007: Kepala Desa Sunaryo, fokus pada jalan rabat beton, penghijauan, dan pembangunan fasilitas publik.
  • 2007-2019: Kepala Desa Bejo Priyanto, pembangunan BUMDes, sekolah RA Integral, pengelolaan wisata alam Bukit Pranji, serta pemanfaatan dana desa.
  • 2019-Sekarang: Kepala Desa Bayu Sukrisna, terbentuknya Kampung Pancasila Pengaringan, dan menghadapi pandemi Covid-19.

Kondisi Umum Desa

Desa Pengaringan memiliki luas 152 hektar, terdiri dari 30 hektar sawah dan 122 hektar tanah bukan sawah, termasuk pekarangan, tegal/kebun, serta fasilitas sosial dan ekonomi. Desa ini dibagi menjadi dua wilayah pemangku Kepala Dusun (Kadus) dan enam RT. Letaknya 10 km dari pusat kecamatan Pejagoan dan 12 km dari kota Kabupaten Kebumen, berbatasan dengan Desa Watulawang (utara), Desa Peniron (timur), Desa Kebagoran (selatan), dan Desa Condongcampur Kecamatan Sruweng (barat).

Iklim desa mengikuti pola musim kemarau dan hujan, yang berpengaruh pada pola tanam sawah tadah hujan dan sistem pengairan setengah teknis. Berdasarkan data administrasi, jumlah penduduk Desa Pengaringan pada 2015 tercatat 669 jiwa, meningkat menjadi 697 jiwa pada 2017, dan 715 jiwa pada 2019.

Sumber: Desa Pengaringan Kecamatan Pejagoan Kebumen


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.