SEJARAH

Legenda Desa Sidomukti Ambal: Jejak Raden Mas Bima Mengubah Tanah Tandus Jadi Makmur

450
×

Legenda Desa Sidomukti Ambal: Jejak Raden Mas Bima Mengubah Tanah Tandus Jadi Makmur

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Sidomukti, Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen, menyimpan kisah legenda yang hingga kini masih hidup di tengah masyarakat. Cerita ini diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan atau dikenal dengan istilah gethok tular.

Konon, pada masa lampau wilayah Desa Sidomukti merupakan daerah yang tandus, kurang subur, dan sulit mendapatkan air. Kondisi tersebut membuat warga kesulitan mengolah lahan pertanian, sehingga kehidupan mereka jauh dari kata sejahtera.

Di tengah kesulitan itu, datanglah seorang tokoh sakti bernama Raden Mas Bima. Dengan semangat dan kepedulian tinggi terhadap masyarakat, ia bertekad mengubah kondisi desa agar menjadi lebih makmur.

Dengan kesaktiannya, Raden Mas Bima mulai membuat aliran sungai untuk mengairi sawah warga. Ia menggali tanah dengan kedua tangannya sambil berjalan dari arah barat ke timur. Keajaiban pun terjadi—setiap langkah yang ia lalui berubah menjadi aliran sungai kecil.

Perjalanannya dimulai dari wilayah yang kini dikenal sebagai Pedukuhan Sidonalan, yang berasal dari kata Sido (jadi) dan Nalan (persaudaraan), sebagai simbol awal hubungan baik dengan warga setempat.

Namun di tengah perjalanan, Raden Mas Bima sempat terjatuh dalam posisi bersimpuh (sedeku). Lokasi tersebut kini dikenal sebagai Pedukuhan Kalideku. Meski terjatuh, ia tetap melanjutkan perjuangannya.

Saat malam hampir berakhir dan ayam mulai berkokok, ia merasa sangat lelah atau dalam istilah setempat disebut kapok. Dari peristiwa itu, aliran sungai yang dibuatnya kemudian dikenal dengan nama Kali Kapok.

Untuk menandai tempat tersebut, ia menancapkan kayu berduri (kayu puring), yang kemudian berkembang menjadi nama Pedukuhan Kalipuring. Perjalanan pun berakhir di wilayah yang kini disebut Pedukuhan Daratan, tempat ia naik dari aliran sungai.

Menjelang waktu Subuh, Raden Mas Bima hendak berwudu, namun kembali tidak menemukan air. Ia pun berdoa kepada Allah SWT dan menghentakkan kakinya sebanyak tiga kali. Seketika muncul sebuah sumur yang kini dikenal sebagai Sumur Gedhe.

Sumur tersebut hingga sekarang masih ada dan menjadi bagian dari tradisi masyarakat setempat. Setiap tahun, pada malam Jumat Kliwon di bulan Suro (Muharram), warga menggelar tahlil bersama sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah desa.

Sebelum meninggalkan desa, Raden Mas Bima berpesan kepada warga agar menjaga sungai yang telah dibuatnya agar kehidupan mereka menjadi makmur. Dari pesan itulah muncul harapan “sidaha mukti” yang berarti menjadi makmur, yang kemudian berkembang menjadi nama Sidomukti.

Legenda ini tidak hanya menjadi cerita rakyat, tetapi juga mengandung nilai perjuangan, gotong royong, dan harapan akan kesejahteraan yang terus dijaga oleh masyarakat hingga kini.

Sumber:https://sidomukti.kec-ambal.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/4/143

 


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.