SEJARAH

Jejak Sejarah Desa Sidomulyo Ambal: Dari Pelarian Bangsawan Mataram hingga Desa yang Makmur

362
×

Jejak Sejarah Desa Sidomulyo Ambal: Dari Pelarian Bangsawan Mataram hingga Desa yang Makmur

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Sidomulyo, Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen, menyimpan kisah panjang yang sarat nilai sejarah, legenda, dan perjuangan masyarakat dari masa ke masa. Berawal dari hutan belantara hingga menjadi desa yang makmur, perjalanan Sidomulyo tidak lepas dari tokoh-tokoh penting yang diyakini masyarakat setempat sebagai pendiri dan pelopor kehidupan.

Konon, pada sekitar abad ke-18 atau era Kerajaan Mataram, wilayah kerajaan dilanda kekacauan akibat serangan musuh yang sangat kuat. Kondisi tersebut memaksa sejumlah bangsawan atau “Wong Agung” meninggalkan istana dan melakukan pengembaraan tanpa arah pasti.

Salah satu tokoh yang diyakini sampai ke wilayah yang kini menjadi Desa Sidomulyo adalah seorang perempuan sakti bernama Ndoro Behi. Saat itu, wilayah tersebut masih berupa hutan lebat yang dipenuhi hewan buas.

Dengan kesaktiannya, Ndoro Behi membuka hutan dengan cara membakar lahan, kemudian mengolahnya menjadi area pertanian yang subur. Berbagai tanaman seperti polopendem (umbi-umbian) dan pologumantung (tanaman berbuah gantung) mulai dibudidayakan. Hasilnya melimpah, dan kehidupan masyarakat pun menjadi makmur—yang kemudian melatarbelakangi nama “Sidomulyo”.

Selain itu, kawasan yang dahulu banyak ditumbuhi pohon popohan kemudian dikenal sebagai Pedukuhan Popoh, yang hingga kini masih menjadi bagian dari wilayah desa.

Jejak Spiritual dan Tradisi Leluhur

Makam Ndoro Behi hingga kini diyakini sebagai makam pepunden atau pendiri desa. Lokasi tersebut kerap diziarahi warga, terutama saat akan menggelar hajatan sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan.

Tradisi selamatan seperti Giling Pitu dan Gecok Pitik masih dilestarikan, sebagai simbol penghormatan terhadap makanan yang dahulu disajikan kepada Ndoro Behi. Aktivitas ziarah biasanya meningkat pada bulan Suro, Sya’ban, Ramadhan, serta malam Kamis Legi.

Dalam kisah lain, disebutkan adanya seorang ksatria Mataram bernama Ki Demang Keti Leksono yang setia mengantarkan upeti ke kerajaan. Ia kemudian menetap di Sidomulyo dan turut berperan dalam membangun kehidupan masyarakat.

Awal Pemerintahan Desa

Memasuki tahun 1910, wilayah Sidomulyo masih terbagi menjadi dua pedukuhan, yakni Popoh dan Blimbing, yang masing-masing dipimpin lurah berbeda. Melalui musyawarah masyarakat, kedua wilayah sepakat disatukan menjadi Desa Sidomulyo.

Pemilihan kepala desa pertama dilakukan dengan sistem unik bernama “dodokan”, yakni warga berjongkok di belakang calon yang dipilih. Dari proses tersebut, terpilihlah Kasan Mardi sebagai kepala desa pertama.

Di bawah kepemimpinannya yang berlangsung sekitar 20 tahun, Sidomulyo berkembang sebagai desa agraris dengan mayoritas penduduk bertani. Namun, kondisi sempat memburuk pada masa penjajahan Belanda dan Jepang, ketika masyarakat mengalami kerja paksa, kelaparan, hingga krisis ekonomi.

Dinamika Kepemimpinan

Seiring perkembangan zaman, sistem pemilihan kepala desa pun berubah, mulai dari metode “bitingan” hingga “coblosan”. Sejumlah tokoh yang pernah memimpin Desa Sidomulyo antara lain Iman Sobari (dikenal sebagai pemimpin bijak dengan masa jabatan terlama), H. Suyanto Abdul Latif, Slamet Sangid Ghufron (dua periode), hingga Kunardi yang menjabat dua periode sejak 2013.

Pergantian kepemimpinan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang desa dalam menyesuaikan diri dengan regulasi dan perkembangan zaman, hingga tersusunnya RPJMDes periode 2019–2025.

Kini, Desa Sidomulyo terus berkembang sebagai wilayah yang tidak hanya memiliki potensi pertanian, tetapi juga kekayaan sejarah dan budaya yang tetap dijaga oleh masyarakatnya.

Sumber:
https://sidomulyo.kec-ambal.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/4/104


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.