KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Ampih di Kecamatan Buluspesantren, Kabupaten Kebumen, menyimpan kisah legenda yang menarik tentang asal-usul namanya. Cerita ini berkaitan dengan keturunan keluarga bangsawan dari lingkungan Kerajaan Mangkunegaran di Surakarta pada awal abad ke-19.
Menurut cerita turun-temurun, pada era tahun 1800-an keluarga Mangkunegaran memiliki sembilan orang putra dan putri. Salah satu putrinya adalah Bendara Raden Ayu Semi, yang dikenal sebagai putri keenam dari keluarga tersebut.
Pada masa yang sama, terdapat pula keluarga bangsawan dari Trah Arumbinang yang memiliki dua orang putra, yaitu Raden Honggodirdjo dan Raden Wongsodirdjo. Raden Honggodirdjo kemudian mempersunting Bendara Raden Ayu Semi sebagai istrinya. Dari pernikahan tersebut lahir beberapa putra dan putri, salah satunya bernama RA Ngampih.
RA Ngampih kemudian menikah dengan seorang Majegan Kliwon, yaitu pejabat atau petugas pajak pada masa itu, bernama Singopati. Dari pernikahan ini lahirlah dua orang putra, yaitu Singodikromo dan Kromodiwirjo.
Singopati dan RA Ngampih kemudian wafat dan dimakamkan di Pesarehan Ampih Kuwangsan, yang hingga kini masih dikenal sebagai bagian dari sejarah lokal masyarakat setempat.
Awal Nama Desa Ampih
Putra pertama pasangan tersebut, Singodikromo, kemudian diangkat menjadi kepala desa pertama atau yang dikenal sebagai Glondong I di wilayah tersebut pada awal tahun 1800-an. Untuk menghormati ibundanya, ia mengambil nama Ngampih sebagai nama desa yang kemudian dikenal sebagai Desa Ampih hingga sekarang.
Setelah Singodikromo wafat, kepemimpinan desa dilanjutkan oleh Wiryo Sastro, yang merupakan putra dari Kromodiwirjo. Ia menjabat sebagai Glondong II sekitar tahun 1850-an.
Selanjutnya, kepemimpinan desa diteruskan oleh Sastro Amidjojo, cucu dari Wiryo Sastro, yang merupakan putra dari Atmosentono. Ia menjabat sebagai Glondong III sekitar tahun 1920 hingga 1945, menjelang masa kemerdekaan Indonesia.
Kepala Desa Ampih Setelah Kemerdekaan
Seiring perjalanan waktu dan setelah Indonesia merdeka, kepemimpinan Desa Ampih terus berganti hingga sekarang. Berikut daftar kepala desa yang pernah memimpin:
- Madulah (1945–1973)
- Mohamad Sirod – Pjs Kepala Desa (1973–1974)
- Bambang Sutedjo (1974–1988)
- Supranoto – Pjs Kepala Desa (1988–1989)
- Djamingan (1989–1997)
- Edy Sucipto – Pjs Kepala Desa (1997–1998)
- Miftakhul ‘Ulum (1998–2007)
- Supriyanto – Pjs Kepala Desa (2007)
- Endar, BE (2007–2013)
- Sutomo (2013–2019)
- Slamet Saebani, S.E – Pjs Kepala Desa (2019)
- Nursodik (2020–sekarang)
Legenda asal-usul Desa Ampih ini menjadi bagian penting dari identitas dan sejarah masyarakat setempat. Kisah tersebut menggambarkan bagaimana hubungan keluarga bangsawan, kepemimpinan lokal, serta tradisi masyarakat membentuk perjalanan sebuah desa hingga dikenal seperti sekarang.
Sumber sejarah desa ini juga dapat diakses melalui laman resmi Pemerintah Desa Ampih.
Sumber: https://ampih.kec-buluspesantren.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/4/93
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















