KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Pucangan di Kecamatan Sadang, Kabupaten Kebumen menyimpan cerita panjang yang berpadu antara legenda, sejarah, dan perjalanan pemerintahan desa dari masa ke masa. Kisah ini bermula dari hadirnya seorang tokoh sakti yang dipercaya menjadi cikal bakal berdirinya wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Pucangan.
Menurut cerita turun-temurun masyarakat, sekitar tahun 1822 datang seorang tokoh sakti bernama Ki Hanggawangsa IV. Kedatangannya terjadi pada masa menjelang pecahnya perang besar yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro melawan penjajahan Belanda.
Pada masa itu, wilayah tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah Kademangan yang dipimpin oleh Demang Hanggawangsa. Karena daerah tersebut banyak ditumbuhi pohon pucang, maka wilayah itu dikenal dengan nama Kademangan Pucangan, yang kemudian menjadi asal-usul nama Desa Pucangan hingga sekarang.
Kepemimpinan Kademangan Pucangan berlangsung selama dua periode, yaitu di bawah Hanggawangsa IV Satu dan Hanggawangsa IV Dua, yang masih merupakan keturunan Trah Kolo Paking.
Setelah masa kepemimpinan Hanggawangsa IV berakhir, pemerintahan dilanjutkan oleh seorang tokoh yang juga dikenal memiliki kesaktian, yakni Mbah Petinggi. Sosok ini sangat dihormati dan disegani oleh masyarakat. Karena kewibawaannya, masyarakat menyebutnya dengan gelar Mbah Dipagati.
Hingga kini, makam Mbah Petinggi masih dikenal dan dikeramatkan oleh masyarakat setempat, yang berada di kawasan pekuburan Kedawung. Sementara itu, Mbah Dipagati dimakamkan di halaman Masjid Larangan, meski kini area tersebut telah diratakan untuk kepentingan perluasan masjid.
Menariknya, pada masa lampau terdapat kepercayaan unik di wilayah tersebut. Konon, siapa pun yang melewati jalan di sekitar Masjid Larangan dengan menunggang kuda diwajibkan turun dari kudanya. Jika melanggar, diyakini akan mengalami musibah atau celaka. Kepercayaan inilah yang kemudian membuat kawasan tersebut dikenal sebagai Dusun Larangan hingga sekarang.
Masa pemerintahan Kademangan Pucangan diperkirakan berlangsung dari sekitar tahun 1822 hingga 1921. Setelah masa kademangan berakhir, sistem pemerintahan desa mulai diterapkan.
Kepemimpinan desa kemudian dipegang oleh Abdul Rosyid sebagai lurah pertama pada periode 1921–1934. Setelah itu jabatan lurah dilanjutkan oleh Cakra Yuda hingga tahun 1945, tepat menjelang Indonesia meraih kemerdekaan.
Pasca kemerdekaan Republik Indonesia, sistem pemerintahan desa mengalami pembaruan. Pada masa itu jabatan kepala desa dipegang oleh Dullah Rahman hingga sekitar tahun 1976.
Sejak awal abad ke-20 hingga kini, kepemimpinan Desa Pucangan terus mengalami pergantian. Berdasarkan catatan sejarah desa, beberapa tokoh yang pernah menjabat sebagai kepala desa antara lain:
- H. Rosyid (sekitar awal 1900-an), berkedudukan di Dusun Kali Pucangan selama kurang lebih 25 tahun.
- Cakra Yuda (1926–1956), berkedudukan di Dusun Larangan.
- Dullah Rahman (1945–1977), dari Dusun Panjul Wetan.
- Muhamad Sungeb (1977–1980).
- Muhamad Taufiq Hidayat (1980–1991).
- Ibnu Al Hamid (1991–1999).
- M. Somadi (2000–2008), berasal dari Dusun Kali Kayen.
- Iwan Susanto (2008–2013).
- Maslam (2014 – sekarang).
Perjalanan panjang kepemimpinan ini menjadi bukti bahwa Desa Pucangan terus berkembang dari masa ke masa, dari sebuah wilayah kademangan yang penuh legenda hingga menjadi desa modern yang tetap menjaga nilai sejarah dan tradisi lokal.
Kisah legenda Ki Hanggawangsa hingga jejak kepemimpinan para kepala desa menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Pucangan yang diwariskan secara turun-temurun.
Sumber: Profil Desa Pucangan, 2 Maret 2022.
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















