KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Tlogorejo, Kecamatan Bonorowo, Kabupaten Kebumen menyimpan jejak sejarah panjang yang menarik untuk ditelusuri. Dari kisah legenda para pendatang hingga perjalanan melewati masa penjajahan dan pembangunan desa, Tlogorejo berkembang dari kawasan rawa menjadi desa yang terus tumbuh hingga sekarang.
Bermula dari Rawa-Rawa pada Abad ke-17
Menurut cerita turun-temurun para sesepuh desa, wilayah Tlogorejo pada abad ke-17 masih berupa rawa-rawa luas yang sering tergenang air. Sejumlah pendatang yang dipimpin oleh Onggo Wiryo, yang disebut sebagai salah satu pengikut abdi Kerajaan Mataram, datang dan mulai membuka pemukiman di kawasan tersebut.
Untuk mengatasi kondisi tanah yang berair, para pendatang melakukan pengurugan tanah yang diambil dari endapan di sekitar aliran sungai. Lokasi pengambilan tanah itu kini dikenal sebagai wilayah Sarwo Gadung dan Winong.
Seiring waktu, pemukiman kecil mulai terbentuk dan terbagi dalam beberapa kelompok desa, di antaranya:
- Putat Sari dengan 9 kepala keluarga
- Tlogorejo dengan 10 kepala keluarga
- Karang Cangkring dengan 17 kepala keluarga
- Wonoyoso dengan 7 kepala keluarga
Setiap kelompok dipimpin oleh seorang lurah kecil. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, beberapa kelompok tersebut kemudian digabung dan dikenal dengan nama Desa Tlogorejo.
Masa Penjajahan hingga Kemerdekaan
Perjalanan desa juga tidak lepas dari dinamika sejarah nasional. Pada masa pendudukan Jepang tahun 1942, wilayah Tlogorejo ikut berada di bawah kontrol militer Jepang setelah Belanda kalah dalam Perang Dunia II.
Saat itu masyarakat tidak hanya menghadapi tekanan militer, tetapi juga harus menyerahkan hasil panen, rempah-rempah, serta tenaga kerja untuk kerja paksa atau romusha.
Setelah Jepang menyerah pada tahun 1945 akibat bom atom oleh Sekutu, Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Desa Tlogorejo kemudian masuk dalam wilayah Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen, dengan enam dukuh yakni:
- Dukuh Krajan
- Dukuh Kedung Bader
- Dukuh Putat Sari
- Dukuh Putat Gede
- Dukuh Wonoyoso
- Dukuh Karang Cangkring
Mengatasi Banjir dan Perubahan Struktur Tanah
Sekitar tahun 1954, pada masa kepemimpinan Lurah Danu Diharjo, Desa Tlogorejo sering dilanda banjir besar setiap musim penghujan. Kondisi ini membuat petani sulit bercocok tanam.
Untuk mengatasi masalah tersebut, masyarakat berinisiatif menjebol tanggul sungai agar endapan lumpur dan tanah dapat menambah ketinggian lahan desa. Upaya tersebut secara bertahap mengubah struktur tanah desa yang sebelumnya rawa menjadi lebih tinggi, meskipun masih belum merata di beberapa blok persawahan seperti Karang Cangkring, Putat Gede, Wonoyoso, serta sebagian wilayah Krajan dan Kedung Bader.
Perkembangan Pemerintahan Desa
Seiring perjalanan waktu, struktur pemerintahan desa juga mengalami perubahan. Pada masa awal, pemerintahan desa terdiri dari jabatan seperti Lurah, Carik, Conggog, Kamituwo, Kepetengan atau Tamping, Kaum, dan Kebayan.
Pada era Orde Baru, struktur pemerintahan masih mempertahankan pola tradisional dengan pembagian wilayah enam dukuh, tujuh RT, dan dua RW.
Kemudian sekitar tahun 1989, sistem pemerintahan desa mulai mengikuti struktur administratif yang lebih modern dengan jabatan:
- Kepala Desa
- Sekretaris Desa
- Kepala Urusan Pemerintahan
- Kepala Urusan Pembangunan
- Kepala Urusan Umum
- Kepala Urusan Kesejahteraan
- Kepala Dusun
Perubahan wilayah administratif juga terjadi pada tahun 2002, ketika Desa Tlogorejo resmi masuk dalam wilayah Kecamatan Bonorowo, hasil pemekaran dari Kecamatan Mirit.
Perjalanan Kepemimpinan Desa
Sejak pemilihan kepala desa pertama pada tahun 1919, Desa Tlogorejo telah mengalami berbagai periode kepemimpinan. Beberapa tokoh yang pernah memimpin desa antara lain H. Ibrahim, Cokro Pawiro, Danu Diharjo, Sadali, Nyoto Prayitno, Soekro, Bambang Setiadin, Gunawan Arifin, hingga Marjono.
Dalam perjalanannya, desa juga menghadapi berbagai tantangan seperti banjir besar, kekeringan, hingga dampak bencana alam seperti hujan abu vulkanik.
Pembangunan Desa Hingga Era Modern
Memasuki era reformasi dan diberlakukannya Undang-Undang Desa Tahun 2014, Desa Tlogorejo mulai menerima berbagai program pembangunan seperti Alokasi Dana Desa (ADD) dan Dana Desa (DD) dari pemerintah pusat.
Dana tersebut dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur desa, bantuan rumah tidak layak huni, sarana kesehatan, irigasi pertanian, hingga peningkatan fasilitas publik.
Kini, Tlogorejo terus berkembang dengan dukungan program pembangunan desa, pemberdayaan masyarakat, serta sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi warga.
Perjalanan panjang dari kawasan rawa hingga menjadi desa yang berkembang menunjukkan bahwa Tlogorejo adalah contoh nyata ketekunan masyarakat dalam membangun wilayahnya dari masa ke masa.
Sumber: Website desa Tlogorejo
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















