KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Pujodadi, Kecamatan Bonorowo, Kabupaten Kebumen, menyimpan kisah panjang tentang legenda, tradisi, serta perjalanan sejarah masyarakatnya. Desa yang terbentuk dari penggabungan beberapa wilayah ini tidak hanya dikenal karena perkembangan pembangunan desanya, tetapi juga karena kekayaan budaya dan kisah tokoh legendaris yang masih dikenang hingga kini.
Legenda Desa: Kisah R. Partodiharjo dan Keris “Penewek”
Dalam cerita yang diwariskan secara turun-temurun, sosok R. Partodiharjo menjadi tokoh legendaris Desa Pujodadi. Ia dikenal sebagai pemimpin yang arif, bijaksana, serta dekat dengan masyarakat.
Konon, pada masa kepemimpinannya, R. Partodiharjo selalu mengutamakan kebersamaan dan gotong royong dalam membangun fasilitas publik desa. Ia juga dikenal sangat menghormati kepemimpinan formal dan mampu mengayomi masyarakat.
Seperti tokoh-tokoh besar pada masa lalu, ia juga memiliki pusaka berupa keris bernama “Penewek”. Keris tersebut dipercaya memiliki kekuatan spiritual yang dikenal dengan istilah “Mandi Pengucap”, yakni apa yang diucapkan oleh pemiliknya sering menjadi kenyataan.
Kepedulian sosialnya pun sangat dikenal. Pada masa sulit ketika warga mengalami kesulitan pangan, rumah R. Partodiharjo kerap menjadi tempat penampungan bagi warga yang tidak mampu.
Legenda lain yang berkembang di masyarakat adalah tentang pohon Klepu tua yang berumur ratusan tahun. Pohon ini menjadi simbol wilayah Klepudampak, yang berarti pohon klepu yang rimbun. Warga percaya, arah rimbunnya daun pohon tersebut sering menjadi pertanda arah sawah yang akan menghasilkan panen melimpah.
Di desa ini juga terdapat tugu batu peninggalan zaman Belanda yang dipercaya sebagai penanda adanya sumber minyak tanah. Namun sebenarnya, tugu tersebut digunakan untuk pengukuran ketinggian wilayah. Hingga kini, tugu itu masih berdiri dan tercatat dalam inventaris Kodam IV/Diponegoro.
Caption Foto 1:
Legenda Desa Pujodadi menyebutkan tokoh R. Partodiharjo sebagai pemimpin bijaksana yang memiliki keris pusaka “Penewek” dan dikenal dekat dengan masyarakat.
Tradisi dan Ritual Masyarakat Desa
Kehidupan masyarakat Pujodadi juga sarat dengan tradisi yang hingga kini masih dikenang, bahkan sebagian masih dijalankan.
Salah satu tradisi penting adalah Sedekah Bumi, yang biasanya dilakukan sebelum musim tanam padi. Dalam tradisi ini, masyarakat mengadakan selamatan dengan memotong kambing serta menyajikan berbagai jajanan pasar.
Pada masa lalu, ketika kerbau masih banyak dipelihara warga, dikenal tradisi unik bernama “Wudukan.” Kerbau dihias dengan kalung berisi kupat dan lepet, kemudian dilepas sehingga anak-anak berlarian mengejar makanan tersebut.
Selain itu, masyarakat juga rutin mengadakan:
- Slametan Suran, setiap bulan Suro (tahun baru Jawa) untuk memohon keselamatan.
- Tradisi Aboge, slametan pada tanggal 2 Muharam menurut penanggalan Jawa.
- Punggahan, tradisi menjelang Ramadan yang diisi dengan membaca Al-Qur’an, kerja bakti membersihkan makam, dan ziarah kubur.
Dalam pembangunan rumah, masyarakat dahulu juga memiliki tradisi memberi sesajen berupa tebu ireng, padi, pisang raja, pisang ambon, serta berbagai perlengkapan simbolik yang ditempatkan dalam tenong.
Caption Foto 2:
Tradisi Sedekah Bumi dan berbagai ritual Jawa masih menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Desa Pujodadi.
Sejarah Desa: Gabungan Empat Wilayah
Nama Pujodadi sendiri memiliki makna filosofis. Desa ini merupakan hasil penggabungan beberapa desa lama, yakni:
- Desa Jlegong
- Desa Rejosari
- Desa Wonosari
- Desa Klepudampak
Nama Pujodadi berasal dari kata pujo yang berarti pohon dan dadi yang berarti menjadi. Filosofi tersebut merujuk pada kisah pohon klepu yang tumbuh besar dan rindang di wilayah tersebut.
Dengan demikian, Pujodadi dimaknai sebagai “pohon yang tumbuh menjadi besar,” simbol persatuan dari beberapa desa yang kemudian menjadi satu wilayah.
Perjalanan Pembangunan dan Peristiwa Penting Desa
Seiring waktu, Desa Pujodadi mengalami berbagai peristiwa penting, baik dalam pembangunan maupun bencana alam.
Beberapa di antaranya:
- 1992 – Banjir bandang besar merendam desa selama satu bulan dan menyebabkan gagal panen.
- 2010 – Pembangunan Puskesmas Pembantu (PUSTU) serta talud jalan, namun terjadi gagal panen akibat banjir dan serangan hama keong emas.
- 2014 – Rehabilitasi gedung BPD dan PKK menjadi kantor desa, disertai hujan abu akibat erupsi Gunung Kelud.
- 2019 – Pemilihan kepala desa yang dimenangkan oleh Haryanto, sekaligus pembangunan sejumlah infrastruktur desa.
Daftar Kepala Desa Pujodadi dari Masa ke Masa
Beberapa tokoh yang pernah memimpin Desa Pujodadi antara lain:
- Haryanto (2019 – sekarang)
- Salud Purnomo (2013 – 2019)
- Samingun (2007 – 2013)
- Imanudin (1999 – 2007)
- Slamet (1990 – 1998)
- Khumedi (1971 – 1989)
- Partodiharjo (sebelum 1971)
Warisan Budaya dan Arsitektur Tradisional
Selain tradisi, masyarakat Pujodadi juga memiliki ciri khas pada bentuk rumah tradisional, seperti:
- Rumah Joglo, dengan pendopo dan struktur atap khas Jawa.
- Rumah Limasan, biasanya berukuran sekitar 7 x 8,5 meter.
- Rumah Serotong atau Gudang, berbentuk memanjang dengan atap segitiga.
Dinding rumah pada masa lalu umumnya terbuat dari anyaman bambu (sesek) yang dilapisi campuran kotoran kerbau dan tanah liat, kemudian dicat menggunakan labur untuk melindungi dari rayap.
Legenda, tradisi, serta perjalanan sejarah panjang tersebut menjadikan Desa Pujodadi tidak sekadar wilayah administratif, tetapi juga ruang budaya yang menyimpan nilai kearifan lokal masyarakat Jawa yang terus diwariskan lintas generasi.
Sumber:
RPJM Desa Pujodadi – H. Abu Nasir, H. Sirod, H. Sumardi SH (Sesepuh Desa Pujodadi)
Website Desa Pujodadi Bonorowo Kebumen.
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















