SEJARAH

Jejak Ulama Pembuka Desa: Mengungkap Sejarah Arjowinangun Buluspesantren yang Berawal dari Dakwah Islam

403
×

Jejak Ulama Pembuka Desa: Mengungkap Sejarah Arjowinangun Buluspesantren yang Berawal dari Dakwah Islam

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Arjowinangun, Kecamatan Buluspesantren, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang yang berakar dari perjuangan dua tokoh ulama dalam menyebarkan agama Islam. Kedua tokoh tersebut adalah Syekh Sara dan Syekh Sihabuddin, yang diyakini sebagai cikal bakal berdirinya desa yang kini dikenal dengan nama Arjowinangun.

Dalam cerita turun-temurun masyarakat setempat, Syekh Sara membuka wilayah di bagian utara yang kemudian dikenal dengan nama Kepuh Dukuh. Wilayah ini kini menjadi Dukuh Kepuh Dukuh RW 01. Pada perkembangannya, wilayah tersebut sempat dipimpin oleh seorang tokoh bernama Somantika pada periode sekitar tahun 1910 hingga 1922.

Sementara itu, di bagian selatan wilayah tersebut, Syekh Sihabuddin membuka lahan baru yang digunakan untuk tempat tinggal sekaligus pusat penyebaran dakwah Islam. Di tempat ini, beliau membangun bangunan panggung yang difungsikan sebagai tempat mengaji dan menimba ilmu agama bagi masyarakat.

Wilayah yang dibuka Syekh Sihabuddin kemudian dikenal dengan nama Kepuh Pesantren, yang saat ini menjadi Dukuh Kepuh Pesantren RW 02. Pada masa itu, kepemimpinan wilayah tersebut dipegang oleh Wirantika pada kurun waktu 1913 hingga 1922.

Penggabungan Dua Dukuh Menjadi Arjowinangun

Seiring berjalannya waktu, tepatnya pada tahun 1922, dua wilayah yakni Kepuh Dukuh dan Kepuh Pesantren digabungkan menjadi satu kesatuan wilayah desa melalui peristiwa yang dikenal oleh masyarakat sebagai “Pemblengketan” atau penggabungan wilayah.

Dari penggabungan tersebut lahirlah nama Arjowinangun. Nama ini berasal dari dua kata, yakni “Harjo” yang berarti sehat atau mulia, serta “Winangun” yang berarti pantas atau luwes. Makna tersebut mencerminkan harapan masyarakat agar desa ini menjadi wilayah yang mulia, harmonis, dan berkembang.

Kepemimpinan Desa dari Masa ke Masa

Setelah resmi menjadi satu desa, Sastro Dimejo atau yang akrab dipanggil Brahim dipercaya sebagai lurah pertama Desa Arjowinangun. Ia memimpin desa tersebut dari tahun 1922 hingga 1940 dan tinggal di wilayah yang kini berada di RT 03 RW 02 Dukuh Kepuh Pesantren.

Setelah masa kepemimpinan Sastro Dimejo, tampuk kepemimpinan desa sempat dipegang oleh Sumbardi. Namun masa jabatannya hanya berlangsung sekitar empat bulan karena beliau meninggal dunia.

Selanjutnya, kepemimpinan Desa Arjowinangun diteruskan secara berurutan oleh beberapa tokoh, yakni:

  • Afandi (1940–1967)
  • Mahrur (1967–1990)
  • Moh. Nasir (1990–1994)
  • Mulyono (1995–2003)
  • Mungalim, BA (2003–2008)
  • Ngabdulah Amin (2008–2013)
  • Harun Nurosid sebagai Penjabat Kepala Desa (2013–2017)
  • Khamid (2017–sekarang)

Warisan Sejarah yang Terus Dijaga

Sejarah Desa Arjowinangun sebagian besar berasal dari cerita turun-temurun, sumber masyarakat sepuh, serta berbagai catatan lokal. Karena itu, masyarakat berharap adanya dukungan dan masukan dari berbagai pihak agar sejarah desa ini dapat terus disempurnakan dan dilestarikan.

Upaya ini dilakukan sebagai bentuk menjaga warisan budaya dan sejarah desa, agar tidak hilang oleh waktu atau yang sering disebut masyarakat sebagai “kepaten obor”, yakni hilangnya jejak sejarah akibat tidak lagi diceritakan dari generasi ke generasi.

Dengan memahami sejarahnya, masyarakat diharapkan dapat mengambil nilai moral, edukasi, serta semangat kebersamaan yang diwariskan oleh para pendiri desa.

Sumber: Pemerintah Desa Arjowinangun dan cerita tokoh masyarakat setempat.


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.