KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Maduretno di Kecamatan Buluspesantren, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, menyimpan kisah sejarah panjang yang sarat legenda dan nilai budaya. Desa yang berada di pesisir selatan Pulau Jawa ini tidak hanya dikenal sebagai wilayah pertanian, tetapi juga memiliki cerita asal-usul yang diwariskan secara turun-temurun oleh para sesepuh desa.
Menurut penuturan tokoh masyarakat setempat, di antaranya Mbah Suryono dan Mbah Partadwirdja, wilayah yang kini menjadi Desa Maduretno pada masa lampau merupakan hutan lebat yang belum berpenghuni dan belum memiliki nama. Letaknya yang strategis, dengan hamparan tanah luas serta dekat dengan aliran sungai, membuat kawasan tersebut menjadi rebutan para penguasa pada masa itu.
Seiring waktu, sejumlah pendatang mulai membuka wilayah tersebut. Salah satu tokoh yang disebut dalam cerita rakyat setempat adalah Jaka Sangkrip. Namun, situasi wilayah tersebut tidak stabil karena banyak penguasa yang saling memperebutkan kekuasaan atas daerah tersebut, hingga terjadi peperangan yang berakhir tanpa pemenang.
Dalam kisah sejarah itu juga disebutkan adanya perang saudara antara dua prajurit Mataram, yaitu Tumenggung Mentaun dan Gamawijaya. Dalam pertempuran tersebut, Tumenggung Mentaun mengalami kekalahan dan melarikan diri untuk menyelamatkan diri ke sebuah tempat yang kini dikenal sebagai wilayah Desa Maduretno.
Dalam kondisi terluka parah, Tumenggung Mentaun dikisahkan bersembunyi dan bertapa di wilayah tersebut untuk memulihkan kekuatannya. Sejak saat itu, kawasan tersebut dikenal dengan nama Mentaun. Nama itu masih digunakan hingga kini sebagai nama beberapa pedukuhan di desa tersebut, seperti Mentaun Wetan, Mentaun Kulon, dan Mentaun Kidul.
Namun, luka yang dideritanya membuat Tumenggung Mentaun akhirnya wafat di tempat pertapaannya. Menurut cerita, jasadnya ditemukan dalam keadaan terbujur kaku seperti guling. Tempat ditemukannya jasad tersebut hingga kini dikenal dengan sebutan Kuburan Guling, yang saat ini menjadi salah satu area pemakaman warga setempat.
Cerita lain menyebutkan bahwa jasad Tumenggung Mentaun sempat dibawa oleh prajurit Mataram untuk dipulangkan. Dalam perjalanan, mereka harus menyeberangi sungai menggunakan ranting pohon beringin yang dirangkai seperti rantai. Dari kisah itu kemudian muncul nama wilayah Rantewringin. Dalam perjalanan selanjutnya, para prajurit sempat beristirahat dan menyampirkan jenazah di sebuah pohon, yang kemudian dikenal sebagai daerah Sampiran.
Namun, kisah tersebut berakhir dengan kejadian yang mengejutkan. Ketika para prajurit membuka bungkusan jenazah yang mereka bawa, ternyata isinya bukan jasad Tumenggung Mentaun, melainkan debog pisang. Tempat di mana debog itu ditinggalkan diyakini berada di kawasan yang kini dikenal sebagai Pasar Tumenggungan di pusat Kota Kebumen.
Seiring berjalannya waktu, wilayah tersebut mulai dihuni oleh banyak penduduk. Namun, konflik perebutan wilayah kembali terjadi antara dua penguasa, yakni Ki Ageng Pamanah dari Solo dan Ki Ageng Mangir Wonoboyo dari Kali Progo.
Dalam cerita rakyat setempat, perempuan memiliki peran penting dalam meredam konflik tersebut. Salah satu tokoh yang disebut adalah Pambayun, putri Sutawijaya dari Mataram. Ia ditugaskan menjadi tledhek atau penari penghibur yang bertugas meluluhkan hati para penguasa yang datang.
Dengan kecantikan dan kepiawaiannya menari, Pambayun berhasil menarik perhatian salah satu penguasa hingga akhirnya mereka menikah. Namun kisah tersebut berakhir tragis ketika suami Pambayun terbunuh setelah tanpa sadar datang ke rumah orang tua Pambayun yang ternyata merupakan musuhnya.
Atas jasa dan pengorbanannya, wilayah tersebut kemudian diberikan kepada Pambayun. Dari situlah nama Maduretno muncul. Nama tersebut berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, yaitu Madu yang berarti menyatukan atau manis seperti madu, dan Retno yang berarti perempuan atau permata. Secara makna, Maduretno dapat diartikan sebagai perempuan yang mempersatukan atau tempat yang diharapkan memberi manfaat bagi banyak orang.
Saat ini Desa Maduretno memiliki beberapa pedukuhan, di antaranya Dukuh Madugawe, Mentaun Kulon, dan Mentaun Wetan. Wilayah desa ini berbatasan dengan Sungai Lukulo di sebelah barat, Desa Ayamputih di selatan, Desa Bocor di timur, serta Desa Ambalkumolo di sebelah utara.
Meski tahun pasti berdirinya desa tidak diketahui, sejarah kepemimpinan desa mencatat sejumlah nama kepala desa yang pernah memimpin, di antaranya Limin, Abu Umar, Suradja, Sugiyono, Sunarto, Paryudi, hingga kepala desa saat ini, Beni Setyo Bowo yang menjabat sejak 2019 hingga 2025.
Kini, Desa Maduretno terus berkembang dari berbagai sektor. Mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai petani. Selain itu, sebagian warga juga menjalankan usaha rumah tangga seperti mengupas melinjo (nglethek), membuat emping melinjo, hingga membuat keset dari serabut kelapa.
Dalam bidang budaya, masyarakat Maduretno masih mempertahankan tradisi seperti selametan bumi. Desa ini juga memiliki kesenian musik tradisional Jamjaneng yang dimainkan warga Pedukuhan Mentaun Kulon dan telah terdaftar di Dinas Kebudayaan Kabupaten Kebumen.
Sementara dari sisi fasilitas sosial, desa ini memiliki dua masjid besar yakni Masjid At-Taqwa di Mentaun Wetan dan Masjid Miftahul Huda di Mentaun Kulon, serta sejumlah mushola, TPQ, fasilitas pendidikan seperti PAUD, TK Utami, SD Maduretno, dan MI KHR Illyas Maduretno.
Dengan sejarah panjang yang diwariskan secara turun-temurun, Desa Maduretno tidak hanya menjadi tempat tinggal masyarakat, tetapi juga menjadi bagian penting dari jejak sejarah dan budaya di wilayah pesisir selatan Kebumen.
Sumber: Mbah Suryono, Mbah Partadwirdja, H. Nurudin, serta arsip Website Pemerintah Desa Maduretno.
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















