KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Klapasawit di Kecamatan Buluspesantren, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang yang menarik untuk ditelusuri. Bermula dari wilayah kampung perdikan yang terbagi dalam beberapa komunitas kecil, Klapasawit kini berkembang menjadi desa yang dikenal dengan prestasi dan kemajuan pembangunan.
Menurut catatan sejarah desa, pada masa awal Klapasawit terdiri dari enam kampung, yakni Klapasawit, Silumbu, Gintungan, Joho, Kedungkewali, dan Kedungagung. Masing-masing kampung dipimpin oleh seorang lurah. Untuk mengoordinasikan kepemimpinan tersebut, para lurah kemudian menunjuk seorang koordinator yang disebut Glondong.
Salah satu tokoh yang dikenal dalam sejarah awal Klapasawit adalah Patra Laksana, yang disebut-sebut sebagai anggota Kesultanan Solo. Tokoh ini dikenal sebagai salah satu pemimpin penting dalam perjalanan awal wilayah tersebut.
Pada tahun 1924, tujuh kampung yang ada di wilayah itu sepakat untuk bersatu menjadi satu kesatuan wilayah yang awalnya dinamakan Blengketan, sebelum akhirnya resmi dikenal sebagai Desa Klapasawit.
Lurah pertama Desa Klapasawit adalah Suradimeja, yang menjabat pada periode 1924 hingga 1926 dan berdomisili di Kedungagung. Ia dikenal berjasa dalam pembangunan Pasar Klapasawit yang menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat.
Kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh R. Mas’ud Wignyo Subroto yang menjabat cukup lama, yakni dari tahun 1926 hingga 1946. Pada masa pemerintahannya, berbagai pembangunan penting dilakukan, seperti pembedelan Kali Tolang, pembangunan Jembatan Gantung Klapasawit–Sangubanyu, serta pembangunan Masjid Kauman.
Selanjutnya, Kartadimeja (Salikhun) dari Dusun Gintungan memimpin desa selama hampir tiga dekade, dari 1946 hingga 1975. Di masa kepemimpinannya, pembangunan SD Negeri 2 Klapasawit serta saluran irigasi di wilayah Joho menjadi program penting bagi masyarakat.
Kepemimpinan desa kemudian dipegang oleh Iskandar pada periode 1975–1989 yang tinggal di wilayah Silumbu (Krajan). Pada masa ini dibangun SD Negeri 1 dan SD Negeri 3 Klapasawit serta akses jalan menuju Masjid Kedungkewali.
Perkembangan desa semakin terlihat pada masa kepemimpinan Moch. Hasyim (1989–2007). Pada periode ini, Klapasawit berhasil berkembang menjadi desa swasembada pangan dengan sarana dan prasarana yang memadai. Bahkan pada tahun 2005, Klapasawit berhasil meraih juara pertama lomba desa tingkat Kabupaten Kebumen dan mewakili kabupaten dalam lomba desa tingkat Provinsi Jawa Tengah hingga masuk 10 besar.
Sejarah penting lainnya adalah ketika Ibu Lili Latifah, SH, MM menjabat sebagai Kepala Desa pada periode 2007 hingga 2019. Ia menjadi satu-satunya kepala desa perempuan dalam sejarah Klapasawit. Selain memimpin pembangunan desa, ia juga memberi teladan dalam bidang pendidikan dengan melanjutkan studinya hingga meraih gelar magister saat masih menjabat sebagai kepala desa.
Di bawah kepemimpinannya, ia juga mendorong peningkatan sumber daya manusia perangkat desa agar terus melanjutkan pendidikan. Lili Latifah juga dikenal aktif dalam kegiatan sosial serta menjadi bendahara Persatuan Kepala Desa Kabupaten Kebumen yang dikenal dengan nama “Walet Emas.”
Saat ini, kepemimpinan Desa Klapasawit kembali dipegang oleh H. Mochamad Hasyim, yang terpilih untuk ketiga kalinya sejak tahun 2019 hingga sekarang. Dengan sejarah panjang yang dimiliki, Desa Klapasawit terus berupaya menjaga tradisi sekaligus mendorong pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat.
Sejarah dan perjalanan panjang desa ini menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Klapasawit sekaligus warisan bagi generasi mendatang.
Sumber: Website resmi Desa Klapasawit
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















