SEJARAH

Jejak Legenda Bonorowo Kebumen: Dulunya Rawa Raksasa, Kini Jadi Pusat Permukiman Warga

648
×

Jejak Legenda Bonorowo Kebumen: Dulunya Rawa Raksasa, Kini Jadi Pusat Permukiman Warga

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Di balik hamparan sawah dan permukiman yang kini ramai dihuni warga, Desa Bonorowo di Kecamatan Bonorowo, Kabupaten Kebumen, menyimpan jejak sejarah panjang yang sarat cerita dan legenda. Desa ini diyakini lahir dari kawasan rawa luas yang dahulu dikenal sebagai wilayah Bonorawan, sebuah daerah yang menjadi cikal bakal beberapa desa di sekitarnya.

Secara etimologi, nama Bonorowo berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, yakni “Bono” yang berarti besar dan “Rowo” yang berarti rawa atau tempat menampung air. Gabungan keduanya dimaknai sebagai wadah air yang besar, menggambarkan kondisi geografis wilayah tersebut yang pada masa lalu berupa hamparan rawa luas.

Wilayah Bonorawan sendiri kemudian berkembang dan terbagi menjadi beberapa desa yang kini berdiri sendiri, di antaranya Desa Tlogorejo, Balorejo, Pujodadi, Rowosari, Ngasinan, dan Bonorowo. Masing-masing desa memiliki kisah dan hikayat tersendiri yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.

Lima Dusun dengan Kisah Berbeda

Desa Bonorowo saat ini terdiri dari lima dusun atau pedukuhan, yakni Dusun Bantengrejo, Dusun Tugusari, Dusun Tugusari Trukan, Dusun Bonorowo Kulon, dan Dusun Bonorowo Wetan. Setiap dusun memiliki latar sejarah yang unik.

Dusun Bantengrejo pada masa lampau dikenal dengan nama Bantengmati dan merupakan bagian dari wilayah Desa Ngabean. Letaknya yang terpencil serta terpisah oleh aliran sungai membuat wilayah ini akhirnya digabungkan ke Desa Bonorowo pada masa pemerintahan kolonial Belanda.

Masyarakat setempat meyakini adanya mitos bahwa hewan kerbau yang dipelihara di wilayah tersebut selalu mati atau tidak dapat berkembang biak. Karena itulah nama Bantengmati kemudian diganti menjadi Bantengrejo, dengan harapan membawa keberkahan sehingga ternak yang dipelihara dapat berkembang dengan baik.

Dusun Tugusari memiliki sejarah yang tak kalah menarik. Wilayah ini dahulu merupakan rawa-rawa yang kemudian ditimbun dan dijadikan daratan oleh seorang tokoh bernama Mbah Sekat, yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Puspo Negoro.

Di ujung wilayah tersebut dibangun sebuah tugu sebagai penanda batas tiga wilayah. Konon, tugu tersebut menjadi simbol pertemuan wilayah Kebumen, Ngambal, dan Ketawang, sehingga kawasan itu kemudian dikenal dengan nama Tugusari.

Sementara itu, Dusun Tugusari Trukan merupakan bagian dari wilayah Tugusari yang dahulu berupa hamparan sawah dan ditumbuhi pohon keras seperti kelapa dan albasia. Seiring waktu, lahan tersebut berubah menjadi daratan dan dijadikan permukiman warga.

Nama Trukan sendiri bermakna wilayah buatan, yakni perubahan status lahan dari sawah menjadi tanah permukiman. Pada tahun 2002, pemerintah desa melakukan penataan organisasi pemerintahan desa (SOTK) sekaligus pemekaran wilayah, sehingga kawasan tersebut resmi menjadi Dusun Tugusari Trukan.

Jejak Tokoh dari Kerajaan Mataram

Sementara itu, wilayah Dusun Bonorowo Kulon dan Bonorowo Wetan pada awalnya merupakan satu hamparan rawa yang kemudian ditimbun hingga menjadi daratan. Proses pembukaan wilayah ini konon dilakukan oleh seorang tokoh yang dikenal masyarakat dengan nama Mbah Sergi.

Nama Sergi sendiri dalam bahasa Jawa memiliki makna suwargi atau almarhum. Tokoh ini dipercaya memiliki nama asli Raden Puspo Negoro, yang masih memiliki hubungan dengan keluarga Kerajaan Mataram Yogyakarta.

Menurut cerita masyarakat, Raden Puspo Negoro memilih meninggalkan lingkungan kerajaan karena tidak setuju dengan kebijakan Mataram yang bekerja sama dengan penjajah Belanda. Ia kemudian merantau dan membuka wilayah baru di kawasan Bonorawan yang kini dikenal sebagai Desa Bonorowo.

Dari perjalanan panjang itulah Desa Bonorowo berkembang dari kawasan rawa menjadi sebuah desa yang dihuni masyarakat dengan berbagai tradisi dan nilai sejarah yang terus dijaga hingga kini.

Sumber: Website Pemerintah Desa Bonorowo


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.