KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Bonjoklor, yang berada di Kecamatan Bonorowo, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, menyimpan kisah sejarah dan legenda yang menarik untuk ditelusuri. Desa yang berada di wilayah perbatasan antara Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Purworejo ini tidak hanya dikenal karena letak geografisnya yang strategis, tetapi juga karena cerita asal-usulnya yang sarat nilai budaya dan kearifan lokal.
Secara geografis, Desa Bonjoklor berjarak sekitar 21 kilometer dari pusat Kabupaten Kebumen dengan waktu tempuh kurang lebih 33 menit perjalanan darat. Sementara dari pusat Kecamatan Bonorowo, desa ini hanya berjarak sekitar 3 kilometer dengan kondisi jalan yang relatif baik karena berada di kawasan dataran rendah.
Desa Bonjoklor saat ini terbagi menjadi 6 dusun atau pedukuhan, 7 RW, dan 22 RT. Adapun batas wilayah desa ini meliputi:
- Utara : Desa Mrentul
- Selatan : Desa Bonjok Kidul
- Barat : Desa Ngabean
- Timur : Desa Kunirejo Kulon dan Desa Tlogorejo
Sementara itu, enam dusun yang ada di Desa Bonjoklor yakni Dusun Tamansari, Dusun Jayan Kidul, Dusun Jayan Tengah, Dusun Jayan Lor, Dusun Klepusari, dan Dusun Tlogosari.
Kisah Tokoh-Tokoh Pendiri Pedukuhan
Menurut cerita para sesepuh, pada masa lampau wilayah yang kini menjadi Desa Bonjoklor terdiri dari beberapa pepantan atau kelompok pedukuhan. Masing-masing kelompok memiliki tokoh pemimpin, baik dari kalangan masyarakat biasa maupun dari keturunan bangsawan keraton yang dikenal sebagai pararaton.
Di Pedukuhan Tamansari, yang berada di wilayah paling barat berbatasan dengan Desa Ngabean, dikenal seorang tokoh bernama Malangkerso yang memimpin masyarakat setempat.
Sementara di Pedukuhan Jayan Kidul, terdapat tokoh bernama Kriyo. Bersama istrinya, ia membuka wilayah yang dulunya berupa hutan atau “wono”, sehingga daerah tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Wonokriyan. Ia juga berjasa membuka jalur penghubung antara wilayah Tamansari dan Tlogosari.
Tokoh lain yang cukup berpengaruh adalah Ki Nolo Suto, pemimpin di Pedukuhan Jayan Tengah. Ia dikenal sebagai tokoh tertua di wilayah Krajan (Jayan). Dalam kehidupan sehari-harinya, Ki Nolo Suto didampingi seorang istri dan memiliki seorang putri yang sangat cantik bernama Roro Kemuning. Ki Nolo Suto juga memiliki dua hewan kesayangan yang terkenal di kalangan masyarakat, yakni kucing Condromowo dan anjing Belang.
Kisah Raden Ajeng Roro Tabelunsari
Di wilayah Pedukuhan Jayan Lor, masyarakat mengenal sosok Raden Ajeng Roro Tabelunsari, seorang perempuan keturunan keluarga keraton. Ia dikenal memiliki paras cantik dan gemar bersolek, sehingga kemanapun pergi selalu membawa cermin dan sisir.
Namun, meski cantik, Roro Tabelunsari memiliki perawakan yang menyerupai laki-laki dengan rambut tumbuh di dagunya. Kondisi tersebut membuat para pria pada masa itu enggan mendekatinya, sehingga hingga dewasa ia tidak pernah menikah.
Akhirnya, kedua orang tuanya menyarankan agar ia mengembara untuk mencari pengalaman hidup. Setelah kembali dari pengembaraan, ia menetap di wilayah Jayan Lor hingga akhir hayatnya. Konon, dari kisah inilah muncul sebutan Ketiblon untuk wilayah tersebut.
Asal-usul Nama Bonjok
Melihat banyaknya kelompok pedukuhan yang berkembang di wilayah tersebut, Ki Nolo Suto kemudian memprakarsai pertemuan para tokoh dari berbagai pedukuhan. Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan untuk menggabungkan beberapa pedukuhan menjadi satu wilayah komunitas.
Dari sinilah muncul nama Bonjok. Nama ini berasal dari dua kata:
- Boni, yang berarti pepethahan atau kelompok masyarakat.
- Joki, yang berarti pendatang atau penumpang dari kelompok lain.
Penggabungan tersebut menjadi awal terbentuknya wilayah yang kemudian berkembang menjadi Desa Bonjok.
Bonjok Lor dan Bonjok Kidul
Setelah Roro Kemuning dianggap cukup menguasai berbagai ilmu yang diajarkan oleh ayahnya, Ki Nolo Suto kemudian membangun padepokan di kawasan Wonondakan sebagai tempat tinggal putrinya sekaligus tempat menyebarkan ilmu kepada masyarakat.
Wilayah tempat tinggal Roro Kemuning kemudian dikenal sebagai Bonjok Kidul. Sementara wilayah tempat tinggal Ki Nolo Suto hingga akhir hayatnya disebut Bonjok Lor, yang kemudian berkembang menjadi Desa Bonjoklor seperti yang dikenal saat ini.
Hingga kini, kisah para tokoh tersebut masih menjadi bagian dari cerita turun-temurun masyarakat yang memperkaya identitas budaya Desa Bonjoklor.
Sumber: website desa Bonjok Lor
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















