SEJARAH

Jejak Sejarah Desa Kemujan: Dari Babat Alas hingga Warisan Nama Penuh Makna

289
×

Jejak Sejarah Desa Kemujan: Dari Babat Alas hingga Warisan Nama Penuh Makna

Sebarkan artikel ini
ilustrasi

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Kemujan, yang berada di wilayah Kecamatan Adimulyo, Kabupaten Kebumen, menyimpan kisah sejarah panjang yang sarat nilai perjuangan, budaya, dan filosofi kehidupan. Berdasarkan penuturan para sesepuh, asal-usul desa ini berawal dari proses babat alas atau pembukaan hutan yang dilakukan oleh para tokoh pendahulu pada abad ke-15.

Secara geografis, Desa Kemujan berbatasan dengan Desa Mangunharjo di sebelah timur, Desa Adiluhur di sebelah selatan, Desa Caruban di sebelah utara, serta Desa Sekarteja dan Desa Tegalsari di sebelah barat. Letak ini menjadikan Kemujan sebagai salah satu desa yang memiliki posisi strategis di kawasan Adimulyo.

Menurut cerita turun-temurun, babat alas Desa Kemujan terjadi sekitar tahun 1425. Proses ini dipelopori oleh sejumlah tokoh yang dihormati, di antaranya Mbah Wanaroba, Mbah Jaya Diman, Mbah Mayangsari, Mbah Sekar Dadung, serta Mbah Dewi Sukini Melati. Mereka dikenal sebagai perintis yang membuka wilayah hutan menjadi pemukiman yang kemudian berkembang menjadi desa hingga saat ini.

Dalam kisah tersebut, Dukuh Bulak-Karangbakung disebut sebagai wilayah pertama yang dibuka oleh Mbah Wanaroba dan Mbah Jaya Diman. Sementara itu, wilayah Kemujan Lor dan Kemujan Kidul dibabat oleh Mbah Dewi Sukini Melati. Untuk wilayah Mbarsari Wetan dan Mbarsari Kulon, dibuka oleh Mbah Sekar Dadung, sedangkan Pagaksari Wetan dan Pagaksari Kulon dibabat oleh Mbah Mayangsari.

Seiring perkembangan waktu, Desa Kemujan terbagi menjadi beberapa dusun, yakni Dusun Kemujan, Dusun Kembarsari, Dusun Pagaksari, dan Dusun Bulak. Pembagian ini mencerminkan perjalanan sejarah pembukaan wilayah yang dilakukan oleh para leluhur desa.

Nama “Kemujan” sendiri memiliki makna filosofis yang mendalam. Menurut sesepuh desa, kata Kemujan berasal dari istilah “Ngemu Seja” yang berarti memendam atau menyimpan cita-cita. Filosofi ini mencerminkan harapan dan semangat para pendiri desa untuk membangun kehidupan yang lebih baik bagi generasi selanjutnya.

Hingga kini, nilai-nilai sejarah dan kearifan lokal tersebut masih dijaga oleh masyarakat Desa Kemujan sebagai bagian dari identitas dan warisan budaya yang tidak ternilai.

Sumber:Website Resmi Desa Kemujan


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.